SLEMAN — Antusiasme warga terhadap kuliner Nusantara terlihat dalam gelaran Bright Gas Cooking Competition (BGCC) 2026 yang berlangsung di Sleman City Hall, Minggu (18/10/2026). Kompetisi memasak yang digelar PT Pertamina Patra Niaga itu diikuti lebih dari 1.000 peserta, sekaligus menjadi kota terakhir dalam rangkaian seleksi menuju grand final di Jakarta pada November 2026.
Vice President Marketing PT Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari, mengatakan jumlah peserta BGCC 2026 menunjukkan tren peningkatan di setiap kota penyelenggaraan. Sebelumnya, kompetisi serupa digelar di Tegal dengan sekitar 800 peserta dan di Palembang yang meningkat menjadi hampir 1.000 peserta. Di Yogyakarta, jumlahnya melampaui 1.000 peserta.
Menurut Heppy, BGCC 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana memperkenalkan dan mengembangkan kekayaan kuliner Nusantara. Setiap kota penyelenggaraan mengangkat bahan pangan khas daerah sebagai inspirasi peserta untuk menciptakan menu kreatif.
Di Tegal, peserta mengolah udang dan cumi. Di Palembang, bahan yang diangkat adalah ikan kembung. Sementara di Yogyakarta, peserta ditantang mengeksplorasi lele mangut, salah satu kuliner khas daerah.
Heppy berharap pengolahan bahan pangan lokal menjadi menu inovatif dapat memperkaya warisan resep Nusantara sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda. Ia menilai Yogyakarta dipilih sebagai kota terakhir penjaringan semifinal karena memiliki kekayaan kuliner serta perkembangan restoran dan kafe yang pesat, sehingga dinilai membuka peluang pengembangan masakan tradisional agar tetap relevan dengan selera masa kini.
Selain mengangkat kuliner lokal, BGCC 2026 juga dimanfaatkan Pertamina Patra Niaga untuk memperkenalkan Bright Gas melalui pengalaman memasak secara langsung. Heppy menyebut Bright Gas dilengkapi fitur keamanan untuk meminimalkan potensi kebocoran, serta fitur pemindai yang membantu konsumen mengetahui informasi agen penyalur.
Perusahaan juga mengembangkan distribusi Bright Gas melalui layanan pesan antar dan kerja sama dengan platform perdagangan elektronik, salah satunya lewat afiliasi dengan Tokopedia. Upaya tersebut turut disertai voucher promosi dan layanan antar gratis untuk mendorong masyarakat mengenal serta menggunakan LPG nonsubsidi, terutama kalangan menengah ke atas.
Di sisi lain, Heppy mengakui harga menjadi faktor yang memengaruhi pilihan masyarakat dalam menggunakan LPG. Subsidi membuat LPG 3 kilogram tetap diminati konsumen yang ingin menekan pengeluaran. Karena itu, ia berharap regulasi mengenai kelompok masyarakat yang berhak menggunakan LPG bersubsidi dapat semakin jelas agar subsidi tepat sasaran dan pada saat yang sama mendukung peningkatan penggunaan LPG nonsubsidi.