BERITA TERKINI
Little Bandung di Blok M: Ketika Kuliner Viral Menyeberang Kota, dan Jakarta Mencari Rasa yang Lebih Dekat

Little Bandung di Blok M: Ketika Kuliner Viral Menyeberang Kota, dan Jakarta Mencari Rasa yang Lebih Dekat

Isu yang Membuatnya Tren

Nama “Little Bandung” mendadak ramai dibicarakan karena menjanjikan sesuatu yang sederhana namun memikat: kuliner hit Bandung hadir di Jakarta tanpa perlu perjalanan jauh.

Di Pasaraya Blok M, beberapa gerai Bandung membuka pop-up store pada 23 sampai 25 Oktober 2026, dalam program yang diinisiasi GoFood.

Tren ini bukan sekadar daftar makanan enak. Ia adalah cerita tentang mobilitas, rindu, dan cara kota-kota besar saling meminjam identitas.

Di ruang publik digital, orang memburu informasi yang bisa segera ditindaklanjuti. Datang, antre, beli, unggah, lalu pulang membawa pengalaman.

Jakarta, yang sering dituduh serbacepat dan serbasingkat, tiba-tiba menyediakan waktu untuk sesuatu yang remeh namun intim: rasa.

-000-

Apa yang Terjadi di Blok M

Program “Little Bandung” digelar untuk mendekatkan kuliner populer asal Bandung kepada konsumen di Jakarta.

VP of Sales Gojek, Dani Oktobianto, menyebut gagasan ini berangkat dari keinginan membawa makanan yang sedang viral di Bandung agar lebih dekat ke Jakarta.

Selain memperkenalkan produk, acara ini juga menjadi ruang uji. Pelaku usaha bisa membaca respons pasar di luar Bandung.

Respons itu penting, karena bisa menjadi pertimbangan untuk memperluas bisnis, termasuk kemungkinan ekspansi ke kota lain.

Dalam lanskap ritel yang berubah cepat, pop-up store menjadi format yang terasa aman. Ia memberi kesempatan mencoba tanpa janji permanen.

-000-

Lima Nama, Lima Cerita Rasa

Di antara gerai yang hadir, ada Makmur Jaya Coffee Roasters, dikenal sebagai Makjay, usaha kopi yang berdiri sejak 2018.

Kehadiran Makmur Jaya memberi peluang konsumen Jakarta mengenal produknya tanpa harus ke Bandung.

Soal rencana membuka gerai permanen di Jakarta, pihak Makmur Jaya menyebut belum ada keputusan, meski peluang ekspansi tetap terbuka.

Kartika Sari ikut membawa reputasi oleh-oleh Bandung, terutama bolen pisang yang memadukan pisang dan lapisan pastry renyah.

Di Little Bandung, Kartika Sari juga menghadirkan Pustacio Kunafa dan Brownies Kunafa Pistachio yang disebut sebagai produk terbaru populer.

Iga Bakar Si Jangkung menawarkan kisah panjang. Usaha ini dirintis Haryanto pada 1996, bermula dari gerobak dorong di Bandung.

Ciri khasnya ada pada iga yang dipotong kecil-kecil, lalu disajikan di atas cobek atau piring tanah liat yang dipanaskan.

Sincere Cafe turut meramaikan, menambah pilihan kuliner Bandung yang bisa dicoba pengunjung. Informasi menu dapat diperiksa di lokasi atau kanal pemesanan.

Batagor Kahirupan, dari kawasan Pasar Cihapit Bandung, menjadi pengingat bahwa batagor bukan sekadar makanan. Ia adalah identitas kota yang bisa dibawa.

-000-

Mengapa Isu Ini Menjadi Tren: Tiga Alasan

Pertama, ada daya tarik “viral yang dipindahkan.” Publik menyukai sensasi menemukan sesuatu yang sedang ramai tanpa harus mengejar ke kota asalnya.

Viralitas bekerja seperti magnet. Ia mengubah rasa ingin tahu menjadi rencana akhir pekan, lalu menjadi kerumunan yang terlihat dan mudah disebarkan.

Kedua, pop-up store menciptakan kelangkaan waktu. Hanya 23 sampai 25 Oktober 2026, sehingga muncul dorongan untuk tidak ketinggalan.

Kelangkaan membuat orang menunda hal lain. Dalam ekonomi perhatian, batas waktu sering lebih kuat daripada iklan panjang.

Ketiga, Blok M sendiri sedang menjadi simpul nostalgia dan pembaruan. Banyak orang punya memori lama tentang kawasan ini.

Ketika ruang lama diisi pengalaman baru, percakapan pun meluas. Orang datang untuk rasa, lalu pulang membawa cerita tentang kota.

-000-

Di Balik Antrean: Yang Sebenarnya Dicari Orang Kota

Antrean makanan sering dianggap remeh. Namun antrean adalah bentuk kesepakatan sosial, bahwa sesuatu layak ditunggu bersama.

Di kota besar, kebersamaan makin langka. Pop-up kuliner menawarkan kebersamaan yang tidak menuntut komitmen panjang.

Orang bisa datang sendiri, tetap merasa menjadi bagian dari keramaian. Lalu mengunggahnya, seolah berkata: aku hadir.

Di sisi lain, “Little Bandung” memperlihatkan bagaimana identitas daerah bisa tampil sebagai pengalaman konsumsi.

Bandung hadir bukan sebagai peta dan sejarah, melainkan sebagai aroma kopi, tekstur pastry, dan panas cobek tanah liat.

Di sini, rasa menjadi bahasa yang paling cepat dimengerti lintas kelas dan lintas latar belakang.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Ekonomi Kreatif, UMKM, dan Mobilitas

Fenomena ini beririsan dengan isu besar ekonomi kreatif dan UMKM. Pop-up memberi panggung, tetapi juga menguji ketahanan usaha.

Ketika pelaku usaha membaca respons pasar Jakarta, mereka sebenarnya sedang memetakan peluang pertumbuhan yang selama ini terkunci jarak.

Indonesia adalah negara dengan kota-kota yang saling terhubung. Mobilitas orang dan barang membuat selera berkelana lebih cepat.

Namun mobilitas juga menimbulkan pertanyaan: siapa yang diuntungkan ketika tren kuliner berpindah, dan siapa yang tertinggal?

Di satu sisi, peluang terbuka. Di sisi lain, persaingan makin padat, dan pelaku kecil bisa tertekan jika biaya partisipasi tinggi.

Isu ini juga menyentuh wajah transformasi ritel. Pop-up, pemesanan digital, dan kurasi brand membentuk cara baru orang berbelanja.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Pop-up dan Kuliner Viral Efektif

Riset pemasaran banyak membahas efek kelangkaan dan urgensi waktu. Format pop-up memanfaatkan mekanisme itu dengan cara yang relatif halus.

Dalam studi perilaku konsumen, pengalaman yang terbatas waktu cenderung memicu niat datang lebih cepat, karena orang takut kehilangan kesempatan.

Riset lain menekankan ekonomi pengalaman. Konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga cerita, suasana, dan memori yang bisa dibagikan.

Di ruang digital, memori itu punya nilai sosial. Unggahan tentang makanan sering menjadi penanda gaya hidup, sekaligus cara membangun kedekatan.

Selain itu, kajian tentang “place branding” menunjukkan kota dapat diasosiasikan melalui simbol yang mudah dikenali, termasuk kuliner khas.

Ketika batagor, bolen pisang, atau kopi roaster dibawa ke Jakarta, yang ikut terbawa adalah citra Bandung sebagai kota rasa.

-000-

Referensi Luar Negeri yang Serupa

Di berbagai negara, pop-up kuliner lintas kota bukan hal baru. Banyak festival makanan menghadirkan brand daerah ke pusat metropolitan.

Di Jepang, misalnya, konsep event depachika dan pameran makanan regional di department store sering menghadirkan rasa dari prefektur lain.

Di Inggris dan Amerika Serikat, pop-up restoran dan “food hall takeovers” kerap dipakai brand lokal untuk menguji pasar London atau New York.

Polanya mirip: durasi singkat, kurasi ketat, dan tujuan ganda. Mendekatkan produk ke konsumen sekaligus mengukur potensi ekspansi.

Kesamaan lain adalah peran ruang kota sebagai panggung. Lokasi yang punya sejarah dan akses transportasi biasanya dipilih untuk memaksimalkan arus.

-000-

Catatan Kritis: Antara Perayaan dan Kehati-hatian

Perayaan kuliner memang menggembirakan. Namun, penting menjaga agar euforia tidak mengaburkan pertanyaan tentang keberlanjutan.

Pop-up yang sukses bisa menggoda semua pihak mengejar viralitas semata. Padahal, kualitas produk dan konsistensi layanan menentukan umur panjang.

Bagi pelaku usaha, respons pasar di luar kota seharusnya dibaca lebih dalam daripada sekadar ramainya antrean.

Antrean dapat dipengaruhi rasa penasaran dan kelangkaan. Yang lebih penting adalah apakah konsumen akan kembali ketika acara selesai.

Bagi konsumen, tren ini juga menguji kedewasaan kita dalam mengapresiasi. Makanan bukan hanya konten, tetapi kerja panjang di dapur dan rantai pasok.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, penyelenggara perlu menjaga transparansi informasi menu, harga, dan mekanisme pemesanan. Kejelasan mengurangi kekecewaan yang mudah viral.

Kedua, pelaku usaha sebaiknya menggunakan momen ini untuk mengumpulkan umpan balik terstruktur, bukan hanya mengandalkan keramaian.

Umpan balik bisa berupa pertanyaan sederhana di lokasi atau evaluasi internal atas jam sibuk, stok, dan preferensi menu.

Ketiga, konsumen sebaiknya datang dengan sikap menghargai. Antre seperlunya, patuhi aturan lokasi, dan berikan penilaian yang adil.

Keempat, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan ekonomi kreatif dapat melihat pop-up sebagai laboratorium, lalu merancang dukungan yang tepat.

Dukungan itu tidak harus berupa seremoni. Bisa berupa pelatihan kesiapan ekspansi, penguatan standar, dan akses pembiayaan yang realistis.

Kelima, media dan pembuat konten sebaiknya menyeimbangkan liputan antara yang viral dan yang bermutu, agar publik tidak terjebak sekadar sensasi.

-000-

Penutup: Rasa yang Menyeberangkan Jarak

“Little Bandung” menunjukkan bahwa jarak bisa dipendekkan oleh sesuatu yang paling manusiawi: makanan yang mengingatkan kita pada rumah.

Di tengah hiruk-pikuk kota, orang mencari jeda. Kadang jeda itu berbentuk kopi, bolen pisang, batagor, atau iga di cobek panas.

Jika tren ini dikelola dengan baik, ia bisa menjadi jembatan yang adil antara kota asal dan kota tujuan, antara pelaku usaha dan pembeli.

Pada akhirnya, rasa bukan cuma urusan lidah. Ia juga urusan ekonomi, identitas, dan cara kita merawat perjumpaan di ruang publik.

“Kota yang baik adalah kota yang memberi ruang bagi warganya untuk merasa dekat, bahkan ketika hidup memaksa mereka berlari.”