Kota Solo atau Surakarta dikenal sebagai kota budaya Jawa. Namun, bagi sebagian pendatang, wajah Solo kini juga identik dengan geliat kuliner yang semakin menonjol. Hal itu dirasakan Ahmad Cholis Hamzah saat kembali mengunjungi Solo setelah puluhan tahun, ketika menghadiri pertemuan nasional Forum Komunikasi Komite Audit Perguruan Tinggi Negeri–Berbadan Hukum (PTN-BH) pada 21 Oktober 2026. Kegiatan tersebut diikuti perwakilan Komite Audit Universitas Airlangga dan Universitas Negeri 11 Maret menjadi tuan rumah.
Dalam kunjungan singkatnya, ia mengamati perkembangan kota yang dinilai pesat, termasuk menjamurnya bisnis kuliner di berbagai sudut kota. Menurutnya, suasana kota ikut berubah dengan hadirnya banyak gerai makanan, termasuk kawasan yang pada malam hari dipenuhi lampu warna-warni dan deretan outlet kuliner.
Gambaran pertumbuhan sektor kuliner itu juga tercermin pada pola belanja warga. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Surakarta 2025, penduduk Solo lebih banyak mengalokasikan pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi dibandingkan bahan makanan lainnya. Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan untuk makanan siap saji tercatat Rp344.438, menjadi komponen terbesar belanja makanan. Sebagai perbandingan, pengeluaran untuk padi-padian Rp71.063, umbi-umbian Rp6.589, daging Rp47.681, telur dan susu Rp49.721, sayur-sayuran Rp58.811, serta bumbu-bumbuan Rp15.364.
Di tengah ragam pilihan itu, Hamzah mengaku pengetahuannya tentang kuliner Solo sebelumnya terbatas pada bakso dan nasi liwet. Karena itu, ia terkejut ketika dalam makan malam bersama rekan-rekannya, salah satu peserta memesan Selat Solo—hidangan yang belum pernah ia kenal.
Dalam catatan yang ia kutip dari sejumlah rujukan, Selat Solo disebut sebagai makanan yang dipengaruhi sejarah kolonial. Istilah “selat” diduga berasal dari bahasa Belanda slachtje, merujuk pada daging yang dipotong kecil-kecil, lalu menyesuaikan pelafalan masyarakat Jawa. Selat Solo juga dipaparkan sebagai adaptasi masakan Eropa, khususnya bistik (biefstuk) Belanda, yang dipadukan dengan cita rasa lokal. Hidangan ini terdiri atas daging sapi yang dimasak empuk, kentang, wortel, buncis, telur rebus, dan sayuran segar, disiram kuah kecap manis bercampur rempah-rempah.
Selain Selat Solo, ia juga menyebut Tengkleng sebagai kuliner legendaris yang baru ia kenal lebih jauh. Tengkleng dibuat dari tulang dan bagian kambing yang masih menyisakan sedikit daging, dimasak dengan bumbu mirip gulai tetapi berkuah lebih encer. Dalam rujukan yang ia sebutkan, tengkleng dikaitkan dengan masa penjajahan ketika daging kambing terbaik dinikmati kalangan tertentu, sementara masyarakat memanfaatkan tulang dan jeroan yang tersisa. Kini, tengkleng berkembang menjadi makanan yang banyak dijual di berbagai rumah makan di Solo.
Ia juga menyoroti Serabi Solo sebagai salah satu jajanan utama kota tersebut. Serabi dibuat dari campuran tepung beras dan santan, dimasak menggunakan tungku tradisional sehingga menghasilkan tekstur lembut di bagian tengah dan sedikit renyah di pinggir. Selain serabi, ia menyebut beberapa jajanan lain seperti lenjongan, intip, ampyang, dan cabuk rambak.
Dalam pengamatannya, kuliner Solo tidak hanya soal rasa, tetapi juga memiliki kaitan dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Makanan dalam tradisi Jawa kerap hadir sebagai simbol harapan, rasa syukur, dan kebersamaan, sebagaimana yang melekat pada nasi liwet.
Hamzah menilai pertumbuhan sektor kuliner turut berkontribusi pada pariwisata Solo. Keberadaan usaha kuliner legendaris yang telah bertahan puluhan tahun menjadi salah satu tujuan wisata, sekaligus memunculkan dampak turunan seperti pembukaan lapangan kerja serta tumbuhnya sektor-sektor pendukung.
Beragam hidangan seperti nasi liwet, timlo, Selat Solo, tengkleng, dan serabi, menurutnya, memperlihatkan bahwa Solo menawarkan kekayaan kuliner yang berkelindan dengan sejarah dan identitas budaya Surakarta. Keberagaman itu pula yang menjadikan Solo sebagai salah satu destinasi wisata kuliner penting di Indonesia.