BERITA TERKINI
Kuliner Solo Tak Hanya Bakso dan Nasi Liwet, Ada Selat hingga Tengkleng

Kuliner Solo Tak Hanya Bakso dan Nasi Liwet, Ada Selat hingga Tengkleng

Kota Solo atau Surakarta dikenal sebagai salah satu pusat budaya Jawa. Namun, di balik citra tersebut, sektor kuliner di kota ini juga menunjukkan perkembangan yang kian menonjol. Hal itu terlihat dari menjamurnya berbagai usaha makanan di sejumlah sudut kota, termasuk kawasan yang pada malam hari dipenuhi deretan outlet kuliner dengan pencahayaan warna-warni dan nama-nama yang menarik perhatian.

Gambaran pertumbuhan kuliner di Solo turut tercermin dalam pola pengeluaran rumah tangga. Mengacu pada rilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Surakarta 2025, penduduk Solo lebih banyak mengalokasikan anggaran untuk makanan dan minuman jadi dibandingkan kategori bahan makanan lainnya. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan siap saji tercatat mencapai Rp344.438, menjadikannya komponen terbesar dari total belanja makanan penduduk. Sebagai perbandingan, pengeluaran untuk sejumlah bahan makanan berada di bawahnya, seperti padi-padian Rp71.063, umbi-umbian Rp6.589, daging Rp47.681, telur dan susu Rp49.721, sayur-sayuran Rp58.811, serta bumbu-bumbuan Rp15.364.

Di tengah geliat tersebut, ragam kuliner khas Solo pun tidak berhenti pada bakso Solo dan nasi liwet yang sudah lebih dulu populer. Salah satu hidangan yang kerap disebut sebagai kuliner legendaris adalah Selat Solo. Makanan ini disebut memiliki pengaruh sejarah kolonial. Istilah “selat” diduga berasal dari bahasa Belanda slachtje, merujuk pada daging yang dipotong kecil-kecil dan kemudian menyesuaikan pelafalan masyarakat Jawa. Selat Solo juga disebut sebagai adaptasi masakan Eropa, khususnya bistik (biefstuk) Belanda, yang dipadukan dengan cita rasa lokal. Hidangan ini terdiri atas daging sapi yang dimasak empuk, kentang, wortel, buncis, telur rebus, dan sayuran segar yang disiram kuah kecap manis bercampur rempah-rempah.

Kuliner lain yang juga lekat dengan Solo adalah Tengkleng. Masakan ini dibuat dari tulang dan bagian kambing yang masih menyisakan sedikit daging, dimasak dengan bumbu mirip gulai namun berkuah lebih encer. Tengkleng disebut muncul pada masa penjajahan, ketika daging kambing berkualitas lebih banyak dinikmati kalangan tertentu, sementara masyarakat memanfaatkan tulang dan jeroan yang tersisa. Kini, tengkleng berkembang menjadi makanan legendaris dan banyak dijual di berbagai rumah makan di Solo.

Selain hidangan berat, Solo juga memiliki jajanan yang dikenal luas, salah satunya Serabi Solo. Serabi dibuat dari campuran tepung beras dan santan, lalu dimasak menggunakan tungku tradisional sehingga menghasilkan tekstur lembut di bagian tengah dan sedikit renyah di bagian pinggir. Ragam jajanan lain yang disebut sebagai bagian dari kuliner Solo antara lain lenjongan, intip, ampyang, dan cabuk rambak.

Kuliner di Solo juga disebut memiliki kaitan erat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Dalam tradisi Jawa, makanan kerap hadir sebagai simbol harapan, rasa syukur, dan kebersamaan, sebagaimana salah satunya tercermin pada nasi liwet.

Perkembangan sektor kuliner ini dinilai memberi kontribusi terhadap pariwisata kota. Sejumlah usaha kuliner legendaris yang telah bertahan puluhan tahun menjadi tujuan kunjungan wisata, sekaligus memunculkan efek turunan seperti terbukanya lapangan kerja serta tumbuhnya sektor pendukung, mulai dari pemasok bahan makanan hingga layanan transportasi dan perhotelan.

Dengan beragam pilihan—mulai dari nasi liwet, timlo, selat Solo, tengkleng, hingga serabi—kuliner Solo bukan sekadar soal rasa, melainkan juga bagian dari warisan budaya Surakarta yang merekam sejarah, kreativitas, dan identitas masyarakat setempat.