Kuliner Banjar tidak hanya menjadi bagian dari kekayaan budaya Kalimantan Selatan, tetapi juga berpeluang semakin dikenal di luar daerah. Upaya memperkenalkan makanan khas Banjar di perantauan dinilai dapat menjaga keberadaan kuliner tradisional sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha.
Hal itu dibahas dalam siaran Ruang UMKM RRI Pro4 Banjarmasin pada Kamis, 3 September 2026, yang mengangkat tema “Mempopulerkan Kuliner Banjar di Perantauan”. Program tersebut menghadirkan Mumun Amuntaiarni, pemerhati budaya Banjar, sebagai narasumber.
Mumun, yang berasal dari Banua dan kini menetap di Jakarta, mengatakan keberadaan masyarakat Banjar di perantauan dapat menjadi pintu untuk memperkenalkan berbagai makanan khas daerah. Menurutnya, kuliner memiliki kekuatan untuk memperkenalkan identitas budaya karena dapat diterima melalui pengalaman rasa.
“Di Jakarta sendiri kuliner Banjar, terutamanya Soto Banjar, menjadi pengobat kangen untuk urang Banjar yang lama tidak pulang kampung,” ujarnya. Ia menambahkan, masyarakat Banjar di Jakarta kini semakin mudah menemukan masakan Banjar.
Ia menilai makanan khas Banjar memiliki karakter yang kuat dan beragam sehingga berpotensi diperkenalkan kepada masyarakat di luar Kalimantan Selatan. Selain makanan berat, berbagai kudapan tradisional juga dinilai dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih mudah diterima pasar.
Menurut Mumun, upaya memopulerkan kuliner Banjar perlu dilakukan dengan tetap mempertahankan cita rasa dan identitas aslinya. Namun, dari sisi penyajian dan kemasan, pelaku usaha dapat melakukan inovasi agar produk lebih menarik serta sesuai dengan kebutuhan konsumen di daerah perantauan.
Selain berdampak pada pelestarian budaya, pengenalan kuliner Banjar juga disebut berpotensi mendorong kegiatan ekonomi. Masyarakat Banjar yang tinggal di luar daerah dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk mengembangkan usaha kuliner sekaligus memperkenalkan makanan tradisional kepada lingkungan sekitar.
“Untuk seribu lebih urang Banjar di Jakarta sudah tidak susah mencari masakan Banjar karena makin banyak yang menjual dan penjualnya urang Banjar asli. Sudah bisa dipastikan bahan yang digunakan dikirim langsung dari Kalimantan Selatan supaya cita rasa kampung halamannya tetap hadir,” ucapnya.
Mumun juga menekankan pentingnya promosi agar kuliner Banjar semakin dikenal. Pemanfaatan media sosial dinilai dapat membantu pelaku UMKM memperkenalkan produk secara lebih luas, termasuk kepada masyarakat yang sebelumnya belum mengenal makanan khas Banjar.
Ia menyimpulkan, kuliner tradisional bukan hanya warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. Keberadaan masyarakat Banjar di berbagai daerah diharapkan dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan cita rasa dan budaya Banjar kepada masyarakat yang lebih luas.