BERITA TERKINI
Kiat Pemilik Pempek Dos Cek Desi Menjaga Usaha Rumahan Tetap Bertahan

Kiat Pemilik Pempek Dos Cek Desi Menjaga Usaha Rumahan Tetap Bertahan

Palembang dikenal luas sebagai kota pempek, kuliner khas berbahan dasar ikan dan tepung sagu yang memiliki banyak variasi dan digemari berbagai kalangan. Kondisi ini turut membuka peluang usaha kuliner, termasuk dari skala rumahan, bagi masyarakat yang ingin mengambil bagian dalam menjaga eksistensi makanan khas tersebut sekaligus menambah penghasilan keluarga.

Salah satu usaha rumahan yang berkembang di Palembang ialah Pempek Dos Cek Desi. Dalam program Teras UMKM Lokak Kito RRI Palembang, Jumat, 16 Oktober 2026, Desi selaku pemilik usaha menceritakan perjalanan bisnisnya sekaligus membagikan sejumlah hal yang ia anggap penting untuk mempertahankan usaha di tengah persaingan kuliner yang kian beragam.

Desi mengungkapkan, usahanya bermula pada 2014 saat ia berjualan di kantin sekolah di wilayah Balayudha. Saat itu, dagangan yang ditawarkan berupa menu sarapan seperti nasi gemuk, lontong, laksan, aneka kue, dan pempek dos. Namun, ketika pandemi Covid-19 terjadi, aktivitas di sekolah ikut terdampak dan kantin mengalami perubahan pengelolaan.

“Awalnya saya berjualan di kantin sekolah tahun 2014 di wilayah Balayudha ini, jualan nya sarapan pagi seperti nasi gemuk, lontong, laksan, kue kue dan pempek dos, kemudian pada masa covid semua dirumahkan dan kantin sekolah dirombak,sehingga yang mengisi kantin bukan lagi saya, sehingga saya berjualan di ruko yang ada disekitaran sekolah dari jualan sarapan pagi jadi lebih dikenal pempek dos cek Desi,” ungkap Desi.

Pempek dos yang dijalankan Desi dikenal sebagai pempek tanpa ikan dalam adonannya. Produk ini menjadi alternatif bagi konsumen yang menginginkan pilihan pempek dengan harga lebih terjangkau, sekaligus menambah ragam pilihan kuliner bagi masyarakat sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Meski berangkat dari skala rumahan, Desi menilai usaha tetap memerlukan ketekunan serta kemampuan membaca perubahan kebutuhan pasar. Ia juga menekankan pentingnya membangun relasi yang baik dengan pelanggan sebagai modal menghadapi persaingan.

“Bagi pelaku UMKM seperti kami, menjaga usaha tetap berjalan membutuhkan ketekunan dan kemampuan membaca perubahan kebutuhan pasar. Selain menghasilkan produk yang dapat diterima konsumen, kita juga perlu membangun hubungan baik dengan pelanggan. Kepercayaan konsumen menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi persaingan usaha kuliner,” ujar Desi.

Dari pengalamannya, konsistensi rasa dan kualitas menjadi hal yang perlu dijaga. Menurutnya, kepuasan pelanggan dapat mendorong pembelian ulang dan rekomendasi dari mulut ke mulut. Karena itu, pemilihan bahan baku, kebersihan proses produksi, serta ketepatan pengolahan perlu diperhatikan secara berkelanjutan agar produk sesuai harapan konsumen.

Selain kualitas, penentuan harga juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Pelaku UMKM perlu menghitung biaya bahan baku, kebutuhan produksi, kemasan, dan pengeluaran lainnya agar harga jual tetap sesuai dengan kondisi usaha. Pencatatan keuangan yang tertib membantu pemilik usaha memahami pemasukan, pengeluaran, dan keuntungan, sekaligus mengantisipasi perubahan harga bahan baku yang dapat memengaruhi biaya produksi.

Di sisi pemasaran, Desi menyoroti pemanfaatan teknologi sebagai salah satu cara memperkenalkan produk. Media sosial dan aplikasi percakapan dapat digunakan untuk membagikan informasi, menerima pesanan, dan menjaga komunikasi dengan pelanggan. Informasi harga yang jelas, foto produk yang menarik, dan pelayanan yang ramah turut dinilai berpengaruh terhadap minat konsumen.

Menurut Desi, rekomendasi dari pelanggan yang puas juga berpotensi memperluas jangkauan pemasaran. Strategi promosi yang disesuaikan dengan kemampuan usaha memungkinkan pelaku UMKM memperkenalkan produknya tanpa harus mengeluarkan biaya pemasaran berlebihan.

Kisah Pempek Dos Cek Desi menggambarkan bahwa mempertahankan usaha rumahan tidak hanya bergantung pada produk, tetapi juga konsistensi, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi. Dengan evaluasi kualitas, pemahaman kebutuhan konsumen, serta pengelolaan keuangan dan pemasaran yang cermat, usaha rumahan dinilai memiliki peluang untuk tumbuh dan bertahan di tengah dinamika bisnis kuliner.