BERITA TERKINI
Ketika Penyanyi Menjual Rasa: Tren Bisnis Kuliner Selebritas dan Cerita Tentang Bertahan di Indonesia

Ketika Penyanyi Menjual Rasa: Tren Bisnis Kuliner Selebritas dan Cerita Tentang Bertahan di Indonesia

Isu yang Membuatnya Tren

Nama-nama penyanyi yang berjualan makanan mendadak ramai dicari. Bukan semata gosip selebritas, melainkan cermin perubahan cara publik memandang kerja, uang, dan ketenaran.

Berita tentang lima penyanyi Indonesia yang merambah bisnis kuliner menjadi percakapan. Ada yang membuka restoran, ada yang menjual makanan rumahan, bahkan risol hingga ratusan per hari.

Di permukaan, ini terlihat ringan. Namun di baliknya ada pertanyaan yang lebih dalam, mengapa figur panggung merasa perlu menambah dapur sebagai panggung kedua.

-000-

Lima Nama, Lima Dapur, Lima Strategi Bertahan

Fenomena ini tampak pada lima penyanyi yang disebut dalam berita. Masing-masing memilih jalur kuliner berbeda, dari sate maranggi, masakan Sunda, risol frozen, menu rumahan, hingga olahan kambing.

Ihsan Tarore membuka Maranggi Bang Ihsan di Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Menu utamanya sate maranggi, dengan harga sekitar Rp55 ribu, ditemani sop daging dan ragam lauk lain.

Yang membuat kisah Ihsan menarik bukan hanya menunya. Ia disebut ikut menangani kebutuhan bisnis, dari mencari pemasok daging sampai mengurus desain interior dan pelayanan.

Di sini, ketenaran tidak otomatis menggantikan kerja operasional. Popularitas bisa menarik orang datang, tetapi konsistensi rasa dan layanan yang membuat mereka kembali.

Tata Janeeta memilih konsep warung makan Sunda lewat Warungna Tehtata. Lokasinya di Pasar Inpres Cipete Selatan, Jakarta Selatan, dengan menu rumahan seperti nasi liwet dan lauk khas.

Pilihan Tata terasa dekat dengan ingatan kolektif tentang makan siang keluarga. Warung Sunda mengandalkan rasa yang akrab, bukan sensasi yang asing.

Jelita Bahar memulai usaha risol saat Ramadan. Usahanya berkembang hingga mampu menjual sekitar 200 sampai 300 risol per hari, dengan pemesanan berfokus di Jabodetabek.

Ia juga disebut turun langsung mengurus produksi dan pesanan. Produknya dibuat frozen, sehingga pengiriman ke luar kota masih dibatasi.

Pinkan Mambo pernah viral lewat Pinkan Mambo's Kitchen. Ia menawarkan makanan rumahan seperti ayam lengkuas, ayam rica-rica, ayam woku, cakalang balado, hingga panada.

Pinkan juga pernah menjalankan usaha donat yang sempat viral. Dalam kisah ini, publik melihat dapur sebagai ruang eksperimen, sekaligus ruang pembuktian.

Denny Caknan memiliki bisnis kuliner spesialis olahan kambing. Salah satunya Kambing Guling Ajiib, dengan layanan katering dan home service, yang sudah punya cabang di beberapa kota.

Sebelum memulai, Denny disebut melakukan survei ke peternak kambing dan domba di Pulau Jawa. Ia kemudian memperluasnya lewat Balungan'nan DC dengan menu olahan kambing beragam.

-000-

Mengapa Ini Meledak di Google Trends: Tiga Alasan

Pertama, publik menyukai cerita pergeseran identitas. Dari penyanyi menjadi pedagang, dari panggung ke dapur, dari sorotan lampu ke kompor yang menyala.

Perubahan ini memantik rasa ingin tahu. Orang bertanya, apakah ini hobi, strategi bisnis, atau bentuk kewaspadaan terhadap ketidakpastian pendapatan di industri hiburan.

Kedua, kuliner adalah bahasa paling demokratis. Tidak semua orang bisa membeli tiket konser, tetapi banyak orang bisa membayar seporsi sate, sebungkus risol, atau nasi liwet.

Karena itu, bisnis makanan membuat selebritas terasa lebih dekat. Ada ilusi kedekatan yang bisa disentuh, dicicipi, dan dibawa pulang.

Ketiga, angka penjualan membuat cerita terasa nyata. Informasi bahwa risol bisa terjual 200 sampai 300 per hari memberi sensasi bukti, bukan sekadar klaim.

Angka seperti itu memancing diskusi lanjutan. Publik ingin tahu cara produksi, strategi pemasaran, dan apakah ketenaran benar-benar berbanding lurus dengan omzet.

-000-

Di Balik Tren: Ekonomi Kreator dan Naluri Diversifikasi

Tren ini dapat dibaca sebagai bab dari ekonomi kreator. Penyanyi tidak hanya menjual karya, tetapi juga membangun portofolio pendapatan yang lebih tahan guncangan.

Dunia hiburan sering bergerak dalam gelombang. Ada masa ramai panggung, ada masa sepi tawaran. Di momen sepi, tagihan tetap datang dengan ritme yang sama.

Bisnis kuliner menawarkan sesuatu yang berbeda. Permintaan makan tidak menunggu jadwal rilis lagu, dan kebutuhan perayaan keluarga tidak selalu bergantung pada musim konser.

Dalam berita ini, kita melihat dua pendekatan. Ada yang membangun restoran dengan menu spesifik, dan ada yang memulai dari skala rumahan yang lebih fleksibel.

Skala rumahan memberi ruang adaptasi cepat. Namun restoran memberi sinyal keseriusan dan bisa membangun merek yang lebih permanen, meski bebannya lebih besar.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Makanan Selalu Menang

Dalam studi perilaku konsumen, makanan sering disebut sebagai produk pengalaman. Nilainya tidak hanya pada barang, tetapi pada momen, ingatan, dan rasa aman yang menyertainya.

Riset pemasaran juga kerap menekankan kekuatan social proof. Ketika figur publik menjual makanan, sebagian pembeli terdorong oleh rasa ingin mencoba yang dipicu reputasi.

Namun riset tentang kualitas layanan menunjukkan hal lain. Loyalitas bertahan ketika pengalaman konsisten, bukan ketika nama besar hanya dipakai sebagai umpan awal.

Di titik ini, keterlibatan langsung para penyanyi menjadi penting. Dalam berita, Ihsan disebut mengurus pemasok dan layanan, sementara Jelita mengurus produksi dan pesanan.

Keterlibatan itu mengirim pesan psikologis kepada konsumen. Ada kesan tanggung jawab, seolah produk tidak sekadar ditempeli nama, tetapi dijaga dengan tangan sendiri.

Selain itu, konsep produk frozen pada risol menandakan kesadaran rantai pasok. Frozen memudahkan stok, tetapi juga membatasi jangkauan jika logistik belum siap.

-000-

Isu Besar yang Terkait: UMKM, Ketahanan Ekonomi, dan Martabat Kerja

Fenomena penyanyi berbisnis kuliner bersinggungan dengan isu besar Indonesia, yaitu penguatan UMKM. Warung, katering, dan dapur rumahan adalah tulang punggung ekonomi sehari-hari.

Ketika figur publik masuk ke sektor ini, ada dua kemungkinan. Ia bisa menarik perhatian dan memperluas pasar, atau justru menambah kompetisi bagi pedagang kecil.

Karena itu, pembacaan yang adil perlu menimbang keduanya. Kehadiran selebritas dapat mendorong standar baru, tetapi juga bisa menyedot atensi yang biasanya tersebar.

Isu lain adalah martabat kerja. Cerita ini memperlihatkan bahwa bekerja di dapur bukan pekerjaan kelas dua, bahkan bagi mereka yang pernah hidup di panggung besar.

Di masyarakat yang kadang memuja profesi tertentu, kisah ini mengingatkan bahwa kerja adalah kerja. Nilainya ditentukan oleh ketekunan, bukan oleh glamor yang menempel.

Selain itu, ada pelajaran tentang literasi bisnis. Survei Denny ke peternak menunjukkan pentingnya memahami hulu, bukan hanya menjual di hilir.

-000-

Referensi Luar Negeri: Ketika Selebritas Juga Masuk Dapur

Fenomena serupa pernah terjadi di berbagai negara. Selebritas membuka restoran, meluncurkan merek makanan, atau membangun bisnis katering sebagai perpanjangan dari personal brand.

Di Amerika Serikat, misalnya, banyak figur hiburan mengembangkan lini produk makanan dan minuman. Ada yang berhasil karena kualitas dan manajemen, ada yang redup karena hanya mengandalkan nama.

Di Korea Selatan, keterlibatan artis dalam bisnis kafe dan restoran juga kerap menjadi perhatian publik. Penggemar datang karena kedekatan emosional, lalu bertahan jika produknya memuaskan.

Perbandingan ini membantu kita melihat pola. Ketenaran adalah pintu masuk, tetapi operasional adalah fondasi, dan fondasi tidak bisa dibangun dari viralitas semata.

-000-

Membaca Lebih Dalam: Mengapa Kisah Ini Menggugah

Di balik daftar menu dan lokasi, ada narasi manusia yang ingin tetap relevan. Ada upaya untuk tidak bergantung pada satu sumber penghasilan, sekaligus tidak kehilangan harga diri.

Bisnis kuliner juga menawarkan bentuk kedekatan yang berbeda. Lagu menyentuh telinga, tetapi makanan menyentuh tubuh, memori, dan rasa pulang.

Ketika seseorang membeli risol dari Jelita, atau sate dari Ihsan, ada transaksi yang lebih luas dari sekadar uang. Ada rasa ikut menyaksikan perjalanan hidup orang lain.

Namun kedekatan itu punya sisi rapuh. Publik bisa cepat beralih. Hari ini ramai, besok lupa. Karena itu, daya tahan hanya lahir dari sistem, bukan sorak.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik sebaiknya menilai produk secara adil. Apresiasi boleh datang dari rasa suka pada artis, tetapi keputusan membeli berulang perlu berdasar kualitas dan layanan.

Kedua, para pelaku usaha, termasuk selebritas, perlu menjaga transparansi dasar. Informasi harga, lokasi, cara pemesanan, dan kapasitas produksi harus jelas agar kepercayaan tidak runtuh.

Ketiga, pemerintah daerah dan ekosistem bisnis dapat memanfaatkan momentum ini untuk edukasi UMKM. Pelatihan higienitas, izin usaha, dan logistik bisa diperkuat tanpa memihak.

Keempat, media dan warganet sebaiknya menghindari glorifikasi berlebihan. Cerita kerja keras lebih sehat daripada sekadar sensasi viral, karena memberi teladan yang bisa ditiru.

Kelima, penting untuk menjaga ruang kompetisi yang wajar. Kehadiran figur publik tidak boleh mematikan pedagang kecil, melainkan mendorong kolaborasi dengan pemasok lokal.

-000-

Penutup

Tren ini mungkin berangkat dari rasa penasaran. Namun ia membuka jendela tentang Indonesia hari ini, tentang orang-orang yang belajar bertahan, dan tentang kerja yang tidak selalu glamor.

Di dapur-dapur itu, kita melihat versi lain dari panggung. Ada panas, ada ritme, ada penonton, dan ada kritik. Bedanya, tepuk tangan diganti dengan piring yang kembali kosong.

Pada akhirnya, kisah para penyanyi yang berbisnis kuliner mengingatkan satu hal sederhana. Masa depan sering dibangun dari keputusan kecil yang diulang setiap hari.

Seperti kata pepatah yang kerap dikutip, “Kerja keras mengalahkan bakat ketika bakat tidak bekerja keras.”