Nama Pasar Mayestik mendadak ramai diperbincangkan setelah daftar “5 kuliner tertua” di kawasan itu menyebar cepat di linimasa.
Isunya sederhana, rekomendasi tempat makan. Namun gaungnya jauh lebih besar daripada sekadar ide makan siang.
Di tengah Jakarta yang bergerak cepat, kabar tentang bakmi sejak 1963, gudeg sejak 1950-an, dan rumah makan Padang sejak 1967 terasa seperti penanda waktu.
Yang dicari publik bukan hanya rasa. Yang dicari adalah kontinuitas, sesuatu yang bertahan saat banyak hal berubah.
-000-
Mengapa Ini Menjadi Tren
Ada tiga alasan utama mengapa isu ini melesat di pencarian dan percakapan.
Pertama, narasi “legendaris” selalu memantik rasa ingin tahu. Tahun berdiri memberi efek otoritas, seolah setiap suapan menyimpan bukti sejarah.
Angka 1950-an, 1962, 1963, 1967, dan 1970-an bekerja seperti jangkar memori. Publik merasa menemukan sesuatu yang “asli”.
Kedua, Pasar Mayestik punya reputasi kuat sebagai pusat tekstil dan kain. Ketika sisi kulinernya ditonjolkan, muncul kejutan yang menyenangkan.
Kejutan itulah yang mudah dibagikan. Orang gemar membagikan penemuan yang membuatnya terlihat “tahu tempat”.
Ketiga, rekomendasi makan siang adalah kebutuhan harian. Konten yang bisa langsung dipraktikkan biasanya lebih cepat menjadi percakapan.
Daftar lima tempat memberi struktur yang mudah diikuti. Pembaca tinggal memilih, lalu berangkat.
-000-
Lima Titik, Satu Kawasan, Banyak Cerita
Berita ini menempatkan Pasar Mayestik sebagai peta kecil yang memuat beberapa tradisi makan Indonesia, juga jejak komunitas kota.
Lokasinya tersebar di dalam pasar dan sekitar Jalan Tebah. Ini penting, karena pasar dan jalan di sekitarnya membentuk ekosistem.
Di ekosistem itu, orang berbelanja kain, bertemu pelanggan, menawar harga, lalu mencari makan yang cepat, akrab, dan mengenyangkan.
Tradisi makan siang di pasar bukan sekadar jeda. Ia adalah ritme yang membuat roda ekonomi kecil terus berputar.
-000-
RM Sepakat: Nasi Padang di Basement, Memori di Piring
RM Sepakat disebut sebagai salah satu restoran Padang tertua di Jakarta. Letaknya di lantai basement Pasar Mayestik.
Menurut berita, rumah makan ini dirintis H. Sofidar dan Hj. Syamsidar sejak 1967.
Menu andalannya gulai gajebo, olahan bagian punuk sapi. Kuahnya pekat, gurih, pedas, dan sedikit asam.
Di daftar yang sama, ada gulai tunjang, ayam pop, dan dendeng batokok. Suasananya sederhana, khas pasar.
Harga per porsi disebut berkisar Rp 25.000 sampai Rp 60.000, bergantung lauk.
Basement sering diasosiasikan dengan ruang yang “tersembunyi”. Justru di ruang seperti itu, kesetiaan pelanggan kerap diuji dan dibentuk.
-000-
Bakmi Boy Mayestik: Racikan 1963 dan Ketekunan yang Tidak Viral
Bakmi Boy Mayestik disebut sudah ada sejak 1963. Lokasinya di Jalan Tebah III, dekat bangunan utama pasar.
Berita menekankan mie buatan sendiri dengan tekstur kenyal. Bakmi ayam dengan bakso dan pangsit jadi andalan.
Kuahnya kaldu bening yang gurih. Ada pula porsi jumbo untuk yang ingin lebih kenyang.
Harga disebut mulai Rp 30.000++.
Dalam kota yang sering memuja hal baru, bakmi yang bertahan puluhan tahun mengingatkan kita pada bentuk ketekunan yang jarang disorot.
-000-
Sate H. Sulaiman: Kaki Lima, Asap Arang, dan Teater Jalanan
Daftar ini juga memuat Sate Ayam dan Kambing H. Sulaiman, yang disebut dirintis sejak 1970-an di kawasan Jalan Tebah.
Keunikannya, pembakaran dilakukan di atas mobil pikap yang dimodifikasi. Ini bukan detail kecil dalam pengalaman makan.
Asap, bara, dan keramaian menjadi bagian dari “rasa”. Pilihannya sate ayam dari dada, sate kambing, dan sate telur muda.
Semuanya dilengkapi bumbu kacang halus dan kecap manis. Harga per porsi sekitar Rp 25.000 sampai Rp 50.000.
Kaki lima sering dipandang sebagai sektor informal. Padahal di sanalah kota belajar tentang efisiensi, keberanian, dan kedekatan sosial.
-000-
Gudeg Ibu Hj. Tris: Lebih dari 70 Tahun, Manis yang Ditahan
Gudeg Ibu Hj. Tris berada di basement Pasar Mayestik. Berita menyebut usahanya sudah lebih dari 70 tahun, sejak 1950-an.
Karakter gudegnya gurih, dengan rasa manis yang tidak terlalu kuat. Ini menarik, karena gudeg sering dilekatkan pada manis yang dominan.
Seporsi gudeg bisa dilengkapi krecek, ayam kampung opor, telur pindang, tahu, dan tempe bacem.
Tempatnya berupa los sederhana di area kuliner pasar. Ramai menjelang makan siang.
Harga disebut mulai Rp 15.000 sampai Rp 40.000.
Dalam konteks kota, gudeg di pasar adalah bukti migrasi rasa. Masakan yang identik dengan satu daerah bisa menjadi milik ruang bersama.
-000-
Mandala Baru: Chinese Food Legendaris dan Ruang Makan Keluarga
Mandala Baru disebut memulai usaha sejak 1962. Lokasinya di Jalan Tebah III.
Kini ia dikenal sebagai restoran Chinese food legendaris dengan ruang makan luas dan ber-AC.
Berita menyebut hidangan seperti bistik sapi saus mentega, puyunghai udang, dan mi goreng ulang tahun.
Porsinya cukup besar dan cocok disantap bersama. Harga menu disebut Rp 45.000 hingga Rp 95.000.
Restoran seperti ini sering menjadi tempat negosiasi keluarga. Makan bersama adalah cara paling sunyi untuk merawat hubungan.
-000-
Isu Besar di Balik Daftar Kuliner
Daftar lima tempat ini tampak ringan. Namun ia bersinggungan dengan isu besar yang penting bagi Indonesia: pelestarian warisan budaya, ekonomi rakyat, dan identitas kota.
Kuliner legendaris bukan hanya bisnis. Ia adalah pengetahuan yang diwariskan, dari cara memasak hingga cara melayani pelanggan.
Di Indonesia, pengetahuan semacam itu sering bertahan bukan karena kebijakan, melainkan karena disiplin keluarga dan loyalitas pelanggan.
Di sisi lain, pasar tradisional adalah simpul ekonomi rakyat. Ketika orang datang untuk makan, arus pengunjung ikut menghidupi kios lain.
Dalam bahasa kebijakan, ini mirip efek pengganda ekonomi lokal. Satu aktivitas memicu aktivitas lain.
Identitas kota juga dipertaruhkan. Jakarta kerap dianggap kota yang menelan masa lalu. Tempat makan yang bertahan memberi bukti bahwa kota masih punya lapisan.
-000-
Kerangka Riset: Mengapa Makanan Mengikat Ingatan
Riset tentang memori dan indera penciuman menunjukkan aroma kuat terkait pengingatan autobiografis. Dalam kajian psikologi, fenomena ini sering dibahas sebagai “efek Proust”.
Ketika orang membaca “bakmi sejak 1963” atau “gudeg sejak 1950-an”, yang aktif bukan hanya rasa lapar.
Yang aktif adalah imajinasi tentang masa yang tidak dialami. Orang membayangkan orang tua mereka, atau Jakarta yang lebih lambat.
Dalam kajian sosiologi konsumsi, makanan juga dipahami sebagai penanda identitas. Pilihan makan adalah cara menyatakan “saya bagian dari kelompok ini”.
Daftar kuliner legendaris memberi kesempatan untuk menjadi bagian dari cerita bersama, meski hanya lewat unggahan singkat dan kunjungan sekali.
-000-
Contoh Serupa di Luar Negeri
Fenomena “tempat makan tua jadi magnet” bukan khas Jakarta. Di banyak kota, daftar restoran legendaris sering memicu gelombang wisata kuliner.
Di Jepang, pasar dan gang makanan seperti area Tsukiji Outer Market di Tokyo kerap diperlakukan sebagai destinasi harian sekaligus wisata.
Di Singapura, pusat jajanan atau hawker centre menjadi ikon, karena menggabungkan aksesibilitas, tradisi, dan keragaman rasa dalam satu ruang.
Di banyak kota Eropa, kedai tua juga menjadi penanda identitas kota. Orang datang bukan hanya untuk menu, melainkan untuk “merasakan tempat”.
Kesamaannya jelas: ketika modernisasi cepat, publik mencari ruang yang terasa stabil.
-000-
Yang Perlu Diwaspadai dari Tren Kuliner Legendaris
Tren bisa membantu usaha lama bertahan. Namun tren juga bisa menekan.
Lonjakan pengunjung dapat mengubah ritme kerja, menuntut produksi lebih cepat, dan berisiko menggeser kualitas yang justru dicari.
Tren juga bisa memicu komersialisasi berlebihan di sekitar pasar, membuat biaya sewa meningkat dan mengancam pelaku usaha kecil.
Karena itu, membicarakan kuliner legendaris sebaiknya tidak berhenti pada “enak atau tidak”. Ia perlu ditempatkan dalam ekosistem kota.
-000-
Rekomendasi: Cara Menanggapi Isu Ini dengan Dewasa
Pertama, pengunjung dapat datang dengan etika. Antre tertib, tidak memaksa dilayani cepat, dan menghormati ruang kerja yang sering sempit.
Kedua, pembaca yang membagikan rekomendasi sebaiknya menyertakan konteks. Misalnya lokasi di basement pasar atau di Jalan Tebah, agar orang tidak tersesat.
Ketiga, pengelola pasar dan pemerintah daerah dapat melihat ini sebagai peluang penataan yang manusiawi, bukan sekadar penertiban.
Akses pejalan kaki, kebersihan, ventilasi area kuliner, dan penunjuk arah bisa ditingkatkan tanpa menghilangkan karakter asli.
Keempat, media dan pembuat konten perlu menjaga netralitas. Mengangkat cerita pelaku usaha, bukan sekadar memburu sensasi “viral”.
Kelima, publik bisa memperluas definisi dukungan. Tidak hanya datang saat ramai, tetapi kembali saat sepi, karena keberlanjutan dibangun dari kebiasaan.
-000-
Penutup: Makan Siang sebagai Cara Mencintai Kota
Pasar Mayestik mengingatkan bahwa kota tidak hanya dibangun oleh gedung tinggi, tetapi oleh rutinitas kecil yang berulang dan bertahan.
Di RM Sepakat, Bakmi Boy, Sate H. Sulaiman, Gudeg Ibu Hj. Tris, dan Mandala Baru, Jakarta tampil sebagai ruang yang masih menyimpan jejak.
Daftar ini memang rekomendasi tempat makan. Namun ia juga peta emosi, peta pekerjaan, dan peta ingatan yang menempel pada rasa.
Ketika kita memilih makan di tempat yang bertahan puluhan tahun, kita sedang memilih untuk mengakui kerja panjang yang sering tak terlihat.
Dan mungkin, pada akhirnya, kota yang sehat bukan kota yang selalu baru.
Kota yang sehat adalah kota yang mampu merawat yang lama, sambil tetap memberi ruang bagi yang akan datang.
“Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur; kita meminjamnya dari anak cucu.”