BERITA TERKINI
Kemenpar Perluas Promosi Kuliner Lewat WIG 2026, Sasar 32 Pusat Perbelanjaan

Kemenpar Perluas Promosi Kuliner Lewat WIG 2026, Sasar 32 Pusat Perbelanjaan

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong kekayaan kuliner Nusantara menjadi daya tarik wisata sekaligus penggerak ekonomi masyarakat melalui program Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026. Program ini diarahkan untuk memperluas pengenalan destinasi, produk, dan talenta kuliner Indonesia, serta membuka peluang transaksi bagi pelaku usaha makanan dan minuman.

"Visi kami adalah memperluas pengenalan terhadap destinasi, produk, dan talenta kuliner Indonesia, mendorong transaksi bagi pelaku usaha, serta mengangkat kekayaan lokal menjadi pengalaman wisata yang bermakna," kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana saat membuka Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Culinary Festival 2026 di Jakarta, Rabu.

Widiyanti menilai gastronomi Indonesia memiliki keunikan yang berakar pada keberagaman alam, sejarah, tradisi, dan kreativitas masyarakat di berbagai daerah. Menurutnya, kekayaan tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat daya tarik pariwisata nasional dan menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Melalui WIG, Kemenpar berupaya menjadikan kuliner tidak hanya sebagai produk konsumsi, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata yang menghubungkan wisatawan dengan budaya dan identitas suatu daerah. Salah satu bentuknya adalah penyelenggaraan WIG Culinary Festival 2026 yang berlangsung pada 7 Oktober hingga 1 November 2026 di 32 pusat perbelanjaan di berbagai wilayah Indonesia.

Festival bertema “From Local Roots to Global Recognition” itu dirancang untuk memperluas akses pasar bagi pelaku usaha makanan dan minuman, sekaligus mendekatkan ragam kuliner daerah kepada masyarakat. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi WIG dengan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), dengan dukungan Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai Main Bank Partner.

Menurut Widiyanti, keterlibatan pusat perbelanjaan dipilih sebagai strategi untuk memperluas jangkauan promosi pariwisata melalui ruang yang dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghubungkan promosi kuliner dengan peningkatan kunjungan, transaksi, dan pertumbuhan usaha.

"Melalui Culinary Festival ini kami ingin memperkuat hubungan antara pelaku usaha, pusat perbelanjaan, dan destinasi wisata, sehingga promosi dapat berkembang menjadi kunjungan, transaksi, serta peluang pertumbuhan usaha," ujarnya.

Ia juga berharap festival tersebut dapat meningkatkan jumlah pengunjung pusat perbelanjaan, mendorong transaksi di gerai makanan dan minuman, serta menggerakkan rantai pasok yang melibatkan berbagai pelaku usaha.

Potensi ekonomi di balik gastronomi turut tercermin dari kinerja sektor penyediaan makanan dan minuman. Pada 2025, sektor ini mencatat produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp503,5 triliun atau berkontribusi 2,11 persen terhadap total PDB nasional. Data tersebut menunjukkan besarnya peran industri makanan dan minuman dalam perekonomian Indonesia sekaligus membuka ruang pengembangan kuliner sebagai bagian dari strategi pariwisata berbasis potensi lokal.

Rangkaian WIG 2026 sebelumnya telah digelar di Solo dan Yogyakarta pada 26 September hingga 4 Oktober 2026. Setelah itu, festival berlanjut di Kota Kasablanka, Jakarta, melalui kolaborasi dengan Festival Kuliner D'Kambodja Heritage by Anne Avantie.

Kolaborasi tersebut mengangkat kekayaan kuliner khas Semarang dan kawasan Joglosemar, yang meliputi Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Ragam sajian daerah itu menjadi bagian dari upaya memperkenalkan identitas kuliner Nusantara kepada masyarakat yang lebih luas.

Widiyanti menegaskan, pengembangan gastronomi Indonesia memerlukan ekosistem yang inklusif, akses pasar yang semakin terbuka, serta kolaborasi yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat. Pada akhirnya, Kemenpar berharap promosi kuliner dapat mendorong masyarakat tidak hanya menikmati hidangan, tetapi juga mengunjungi daerah asalnya, mengenal tradisi setempat, dan merasakan langsung pengalaman wisata yang ditawarkan setiap destinasi.

"Tujuan akhirnya adalah membangkitkan minat masyarakat untuk berkunjung langsung ke destinasi, menikmati kekayaan kuliner lokal, mengenali budaya, serta merasakan pengalaman wisata yang ditawarkan daerah tersebut," tutur Widiyanti.