BERITA TERKINI
Kemendikdasmen Minta Sekolah Perkuat Edukasi Gizi dan Cegah Konsumsi Gula Berlebih pada Anak

Kemendikdasmen Minta Sekolah Perkuat Edukasi Gizi dan Cegah Konsumsi Gula Berlebih pada Anak

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong sekolah mengambil peran lebih besar dalam membentuk kebiasaan makan sehat pada anak. Edukasi gizi dinilai penting untuk mencegah persoalan kekurangan maupun kelebihan gizi, termasuk konsumsi gula, garam, dan pangan dengan kandungan yang tidak sesuai kebutuhan anak.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan sekolah memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan dalam meningkatkan pemahaman anak mengenai makanan yang sehat dan sesuai kebutuhan. Menurutnya, persoalan gizi anak di Indonesia saat ini cukup kompleks karena mencakup kekurangan gizi, kelebihan gizi, serta tantangan kekurangan zat gizi mikro.

“Hal yang paling penting dalam konteks Indonesia saat ini terkait ada kekurangan gizi di anak-anak, juga ada yang berlebih, dan sekaligus ada tantangan terkait kekurangan gizi mikro. Jadi ini bagian penting yang ingin kita respon melalui sekolah sebagai agen perubahan,” kata Tatang dalam perayaan 10 tahun Nutrition Goes to School (NGTS) di Jakarta, Minggu (23/8).

Tatang menilai pemenuhan gizi yang baik tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan anak, tetapi juga berkaitan erat dengan proses belajar di sekolah. Ia berharap anak yang memperoleh asupan gizi sesuai kebutuhan memiliki kondisi kesehatan lebih baik sehingga dapat hadir dan mengikuti pembelajaran secara optimal.

“Mudah-mudahan kalau gizinya sudah oke, kemudian kesehatannya pasti akan lebih baik ya, angka absen sekolahnya akan makin rendah, artinya angka kehadiran sekolah makin tinggi, dan konsentrasi penyerapan untuk belajar juga akan lebih baik sehingga apa yang disampaikan guru dalam proses pembelajaran akan lebih mudah dicerna,” ujarnya.

Edukasi gizi dinilai perlu disertai praktik

Menurut Tatang, persoalan gizi anak tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah makanan yang dikonsumsi. Pemilihan jenis makanan juga menjadi faktor penting dalam membangun pola makan sehat sejak usia sekolah. Ia menyoroti kebiasaan mengonsumsi pangan dengan kandungan gula dan garam tinggi yang masih menjadi tantangan, sehingga sekolah dinilai perlu memberikan pemahaman sekaligus membangun kebiasaan memilih pangan yang lebih sehat.

Centre Director SEAMEO RECFON, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A, Subsp.TKPS, mengatakan program Nutrition Goes to School mendorong sekolah tidak berhenti pada edukasi teori mengenai gizi. Pengetahuan tersebut, menurutnya, perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Praktik dapat dimulai dari pemilihan bahan makanan, cara mengolah pangan, hingga pemantauan pertumbuhan anak melalui berat dan tinggi badan. “Pemilihan, sebenarnya pola makan yang paling berubah adalah pemilihan jenis bahan makanan. Dan kemudian pengolahannya. Sehingga kecukupan gizi itu sesuai dengan kebutuhan anak,” kata Rini.

Rini juga menekankan pentingnya edukasi terkait pemilihan produk susu yang sesuai kebutuhan anak. Ia menilai pengetahuan tersebut diperlukan agar kebiasaan makan sehat yang dibangun di sekolah dapat diterapkan pula di lingkungan keluarga. “Iya, diberikan edukasi, benar. Mulai kalau apa, pemilihan susu juga termasuk diperhatikan,” ujarnya.

Masih ada salah kaprah soal kental manis

Di tengah upaya meningkatkan literasi gizi, pemahaman masyarakat terhadap sejumlah produk pangan masih menjadi persoalan. Salah satunya terkait susu kental manis yang masih digunakan sebagian masyarakat sebagai pengganti susu pertumbuhan.

Survei nasional Universitas Islam Bandung (Unisba) terhadap 2.150 orang tua balita menunjukkan 67,6 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan.

Pakar gizi IPB University, dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan kental manis dibuat dengan mengurangi kandungan air dalam susu dan menambahkan gula dalam jumlah tinggi, sekitar 40–50 persen. Dalam satu takaran saji sekitar 30 gram atau setara tiga sendok makan, kandungan gula pada kental manis dapat mencapai sekitar 15 gram.

Sementara itu, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan sekitar 50 gram. Dengan demikian, konsumsi sekitar sembilan sendok makan kental manis dalam sehari dapat memenuhi atau mendekati batas maksimal asupan gula harian.

Karina juga mengingatkan komposisi kental manis tidak sama dengan susu yang ditujukan sebagai minuman utama anak. “Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemaknya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian, maka kalau dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan,” ujarnya.

Penguatan edukasi gizi di sekolah dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini. Anak diharapkan tidak hanya mengetahui makanan yang baik bagi tubuh, tetapi juga mampu memilih dan mengonsumsi pangan sesuai kebutuhan gizinya.