Tren penggunaan croissant, bento cake, dan minuman kekinian mulai muncul sebagai variasi sesajen kontemporer atau gebogan (banten) di Bali. Paduan kue pastry yang ditata estetik bersama buah-buahan membuat tampilan gebogan dinilai lebih menarik. Selain itu, jajanan modern dianggap lebih praktis saat ngelungsur, yakni ketika sesajen dinikmati kembali setelah sembahyang.
Meski demikian, masuknya tren kuliner modern tidak menggeser posisi jajanan upakara tradisional Bali atau jaja Bali. Beragam jajanan lokal seperti jaja uli, begina, iwel, kaliadrem, dodol, dan satuh tetap bertahan karena terus dibutuhkan dalam ritual keagamaan Hindu yang berlangsung rutin. Nilai sakral yang melekat pada upakara menjadi faktor yang menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat di tengah perkembangan era digital.
Dalam Lontar Yadnya Prakerti, sesajen ditegaskan sebagai simbol alam semesta (makrokosmos) sekaligus diri manusia (mikrokosmos). Hal ini tertuang dalam kutipan: “Sahananing bebanten pinaka raganta twi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka Andha Bhuwana.” Kutipan tersebut menekankan bahwa seluruh unsur banten merupakan cerminan diri manusia, wujud kemahakuasaan Tuhan, sekaligus miniatur alam semesta.
Jajanan tradisional dan buah-buahan yang hadir sebagai unsur pelengkap sesajen (rakan banten) juga memuat simbol-simbol tertentu, seperti keindahan, kesucian, dan ilmu pengetahuan. Jaja uli yang padat dimaknai melambangkan keteguhan iman dan eratnya persaudaraan. Sementara itu, jaja begina yang mekar dipahami mencerminkan kebersihan hati yang penuh rasa syukur. Dalam konteks ini, aneka jaja diposisikan sebagai media spiritual yang menghubungkan ketulusan manusia dengan keharmonisan alam semesta.
Dari sisi ekonomi, industri jaja Bali disebut menjadi penggerak UMKM rumah tangga yang relatif tangguh. Berbeda dengan sektor pariwisata yang dapat menurun tajam ketika terjadi krisis global, pasar jajanan upakara dinilai lebih stabil karena kebutuhan upakara hadir secara rutin mengikuti siklus ritual keagamaan setiap bulan.
Ketangguhan tersebut turut digambarkan dalam penelitian yang dimuat di Jurnal Netizen mengenai industri jajan begina di Tabanan. Riset itu menyimpulkan bahwa industri rumah tangga ini berperan dalam menyerap tenaga kerja lokal dan membantu menjaga perputaran keuangan desa, terutama ketika hari raya tiba yang mendorong peningkatan pendapatan.
Namun, keberlanjutan usaha para perajin tetap menghadapi tantangan. Riset Universitas Hindu Indonesia yang dipublikasikan dalam Jurnal Sewaka Bhakti mencatat kendala finansial serta keterbatasan alat produksi sebagai hambatan utama bagi perajin jaja banten tradisional. Studi tersebut menekankan pentingnya pelatihan manajemen keuangan dan pemanfaatan teknologi agar produsen lokal dapat mempertahankan keuntungan yang stabil di tengah fluktuasi harga bahan baku.