Industri makanan dan minuman (F&B) di Indonesia terus menunjukkan peluang pertumbuhan seiring bertambahnya jumlah pelaku usaha dan bergesernya cara konsumen menemukan serta membeli produk lewat ekosistem digital.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 5,28 juta usaha makanan dan minuman di Indonesia pada 2024. Angka ini naik 8,71% dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan besarnya skala sekaligus potensi bisnis F&B di dalam negeri.
Di sisi lain, pola konsumsi digital turut mengubah jalur penemuan produk. Konsumen kini tidak selalu mencari barang melalui mesin pencari atau langsung menuju toko tertentu, melainkan menemukan produk lewat video pendek, siaran langsung (LIVE), rekomendasi kreator, hingga konten afiliasi. Fenomena ini dikenal sebagai Discovery Commerce, ketika ketertarikan pada konten mendorong konsumen menemukan dan membeli produk yang sebelumnya tidak mereka kenal.
Tren tersebut terlihat pada ekosistem Tokopedia dan TikTok Shop. Pada semester pertama 2026, jumlah pesanan kategori F&B meningkat hampir 95% secara tahunan. Pada periode yang sama, jumlah pelaku usaha yang menjual produk F&B di ekosistem tersebut tumbuh 184% atau lebih dari dua kali lipat.
Executive Director Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia, Stephanie Susilo, menilai pertumbuhan itu mencerminkan besarnya potensi industri kuliner lokal. “Indonesia memiliki ekosistem kuliner lokal yang sangat beragam, dengan jutaan pelaku usaha yang terus berinovasi. Kami juga melihat pertumbuhan yang sangat positif pada kategori makanan dan minuman, baik dari sisi permintaan maupun jumlah pelaku usaha yang bergabung di ekosistem Tokopedia dan TikTok Shop,” ujarnya.
Perubahan perilaku konsumen ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha F&B untuk menjangkau pasar yang sebelumnya sulit diakses. Kinerja inisiatif #BeliLokal pada semester pertama 2026 menunjukkan jumlah penjual tumbuh lebih dari 50%, sementara penjualan produk lokal naik 51%, dengan total sekitar 700 juta produk terjual.
Distribusi pertumbuhan pesanan F&B pun tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Data Tokopedia dan TikTok Shop mencatat lima dari 10 provinsi dengan pertumbuhan jumlah pesanan F&B tertinggi pada semester pertama 2026 berada di luar Jawa, yakni Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, Riau, dan Bali.
Kondisi ini mengindikasikan permintaan makanan dan minuman lokal semakin tersebar, sekaligus memberi ruang bagi pelaku usaha dari berbagai daerah untuk menjual produk ke konsumen di luar wilayah asal tanpa harus membangun jaringan toko fisik dalam skala besar.
Ragam produk terlaris juga menunjukkan variasi kebutuhan pasar. Di Tokopedia, sejumlah produk F&B yang tercatat paling laku antara lain minyak goreng, kopi Arabika, dimsum, susu nutrisi dewasa, dan kecap manis. Sementara di TikTok Shop, produk yang banyak diminati sepanjang semester pertama 2026 mencakup kopi instan, susu tinggi protein dan kalori, Dubai Chewy, permen lolipop, hingga mie lidi.
Dengan perubahan cara konsumen menemukan produk, persaingan di industri F&B kian bergeser ke ranah digital, membuka akses pasar baru bagi produk lokal sekaligus meningkatkan intensitas perebutan perhatian konsumen.