BERITA TERKINI
India Susun Kebijakan Etanol untuk Bahan Bakar Memasak Pendamping LPG

India Susun Kebijakan Etanol untuk Bahan Bakar Memasak Pendamping LPG

NEW DELHI — Pemerintah India tengah menyiapkan kerangka kebijakan untuk mendorong pemanfaatan etanol sebagai bahan bakar memasak rumah tangga yang digunakan berdampingan dengan LPG. Langkah ini muncul di tengah perdebatan terkait dampak penggunaan bensin campuran E20, sekaligus menjadi bagian dari upaya diversifikasi energi.

Dalam penyusunan kebijakan tersebut, pemerintah diperkirakan akan mengkaji skema subsidi dan menyiapkan rantai pasok guna mempercepat adopsi etanol. Di saat yang sama, asosiasi industri bahan bakar dilaporkan sedang berdiskusi dengan pemerintah mengenai implementasi kebijakan itu.

Dikutip dari Times of India, etanol merupakan bahan bakar terbarukan yang diproduksi melalui proses fermentasi gula dan biji-bijian. Perluasan pemanfaatannya ke sektor rumah tangga dinilai dapat mengurangi ketergantungan India terhadap LPG serta menekan biaya impor energi.

Seorang eksekutif industri menyebut pemerintah sedang mematangkan kebijakan energi alternatif agar etanol dapat digunakan bersama LPG untuk kebutuhan memasak. Kerangka regulasi tersebut ditargetkan rampung pada September 2026. Sebelumnya, pemerintah telah memulai uji coba kompor berbahan bakar etanol pada April 2026 sebagai bagian dari upaya menyediakan alternatif memasak yang lebih ramah lingkungan.

Untuk mempercepat adopsi kompor etanol, pemerintah juga mempertimbangkan pemberian subsidi, baik berupa dukungan investasi awal maupun insentif fiskal berkelanjutan.

Wacana ini mengemuka di tengah lonjakan kapasitas produksi etanol domestik. Laporan lembaga pemeringkat CareEdge mencatat kapasitas produksi etanol tahunan India telah mencapai 20 miliar liter, dengan tambahan kapasitas sekitar 4 miliar liter yang diperkirakan tersedia pada tahun fiskal berjalan.

Dari total kapasitas tersebut, sekitar 11 miliar liter dialokasikan untuk program pencampuran bensin E20, sementara industri alkohol, farmasi, dan kimia menyerap sekitar 3 hingga 3,5 miliar liter. Dengan perhitungan itu, masih terdapat surplus kapasitas produksi sekitar 7 miliar liter yang belum dimanfaatkan.

Surplus tersebut dinilai membuka peluang bagi India untuk menjajaki ekspor etanol ke negara-negara tetangga seperti Nepal, Bangladesh, dan Indonesia. Negara-negara tersebut telah menetapkan target pencampuran etanol sebesar 10%, namun masih menghadapi keterbatasan kapasitas distilasi dan pasokan bahan baku domestik.

Perusahaan pemasaran minyak milik negara juga diproyeksikan berperan dalam pengembangan ekosistem etanol. Selain melakukan riset kompor berbahan bakar etanol dan menjajaki akuisisi teknologi terkait, perusahaan-perusahaan tersebut direncanakan memasang anjungan mandiri etanol atau ATM etanol di stasiun pengisian bahan bakar. Fasilitas ini memungkinkan masyarakat membeli etanol menggunakan wadah tabung khusus.

Dorongan diversifikasi energi kian menguat setelah ketegangan geopolitik di Asia Barat sempat mengganggu stabilitas pasokan LPG India. Pemanfaatan surplus etanol dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor LPG dari kawasan Teluk.

Sementara itu, laporan International Institute for Sustainable Development (IISD) memperkirakan transisi bertahap menuju energi yang lebih bersih, seperti listrik dan biogas, berpotensi menghemat subsidi LPG India hingga lebih dari 2 triliun rupee atau sekitar US$24 miliar pada 2050.