BERITA TERKINI
HIPMI Kota Batu: Identitas dan Sejarah Kuliner Lokal Perlu Diperkuat untuk Menuju Jejaring Gastronomi UNESCO

HIPMI Kota Batu: Identitas dan Sejarah Kuliner Lokal Perlu Diperkuat untuk Menuju Jejaring Gastronomi UNESCO

Kota Batu dinilai perlu memperkuat identitas serta narasi sejarah kuliner lokal jika ingin membawa potensi gastronominya ke tingkat internasional, termasuk melalui jejaring UNESCO. Kelezatan makanan saja disebut belum cukup tanpa karakter khas dan cerita latar yang kuat.

Ketua BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Batu, Dr M Rizky Ramdhan, mengatakan wisata gastronomi tidak sekadar mengajak wisatawan mencicipi makanan. Menurutnya, kuliner harus dikemas menjadi daya tarik wisata yang memiliki identitas dan keunikan tersendiri.

“Gastronomi itu bukan hanya sekadar kuliner. Tapi bagaimana mengemas sebuah kuliner menjadi destinasi atau tujuan. Latar belakangnya, ketika kita ngomong wisata kuliner, hari ini harus memiliki ciri khas,” ujar Rizky, Senin (19/10/2026) di kantornya.

Rizky menilai Kota Batu masih menghadapi tantangan dalam menentukan kuliner yang benar-benar merepresentasikan daerah. Ia membandingkan dengan Ayam Betutu di Bali atau Gudeg di Yogyakarta yang sudah melekat sebagai identitas daerah, sementara kuliner khas Batu dinilai masih perlu diperkuat agar mudah dikenali wisatawan.

Ia juga menyoroti perlunya standarisasi dan penegasan karakteristik kuliner lokal. Sejumlah produk seperti nasi empok dan berbagai varian tempe, termasuk tempe mbeji, sempat diajukan. Namun, menurutnya, produk-produk tersebut masih bersifat universal karena dapat ditemui di banyak wilayah lain.

Meski demikian, ekosistem kuliner di Kota Batu disebut tetap hidup berkat keberadaan warung-warung legendaris yang kerap menjadi rujukan wisatawan. Beberapa di antaranya adalah Warung Sidik, Rawon Jamiah, dan berbagai warung bernuansa khas Jawa.

Lebih lanjut, Rizky menyampaikan bahwa upaya mendaftarkan warisan kuliner ke tingkat internasional memerlukan fondasi riset sejarah dan narasi pendukung yang mendalam. Ia menilai kendala administratif serta minimnya kesiapan data historis terkait makanan khas masih menjadi pekerjaan rumah.

“Mengemas warisan kuliner ini sebagai warisan sejarah yang didalamnya ada gastronomi, latar belakang, dan lain-lain, saya rasa masih terlalu jauh,” ungkapnya.

Karena itu, ia menekankan penguatan sektor pariwisata gastronomi tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi lintas elemen. Melalui jaringan pengusaha muda yang membina pelaku usaha rintisan bidang food and beverage (F&B), ia mendorong sinergi dengan para pemangku kepentingan, termasuk komite ekonomi kreatif serta jejaring organisasi seperti Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan komite di bawah naungannya.

“Di forum internasional, I think it is not only culinary, but the history behind the culinary, kita harus bisa mendeskripsikan itu,” pungkas Rizky.

Menurutnya, penguatan riset sejarah kuliner lokal, pembenahan pendataan, dan penyatuan visi antarpemangku kepentingan menjadi kunci agar pariwisata gastronomi Kota Batu dapat bertumbuh lebih kokoh dan siap bersaing di tingkat global.