Festival Kuliner Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 menghadirkan ragam makanan khas Yogyakarta, Solo, dan Semarang di Jakarta. Salah satu yang menjadi perhatian pengunjung adalah stan D'Kambodja Heritage by Anne Avantie, yang menawarkan hidangan tradisional hingga produk pangan lokal.
WIG Culinary Festival 2026 digelar di 32 pusat perbelanjaan dan berlangsung hingga 1 November 2026. Pembukaan festival dilaksanakan di Kota Kasablanka, Jakarta, pada Rabu (14/10/2026), melalui kolaborasi Wonderful Indonesia Gastronomy, APPBI, dan BTN.
Di stan D'Kambodja Heritage, pengunjung dapat menjumpai aneka menu rumahan dari Jawa Tengah dan Yogyakarta dengan penyajian bernuansa tradisional. Pilihan makanan antara lain pecel, tahu bacem, sayuran hijau, kuah kuning, serta tumisan dengan irisan cabai merah dan hijau.
Berbagai sate berbumbu cokelat mengilap juga tersedia sebagai pelengkap. Hidangan disajikan menggunakan daun pisang dan wadah tanah liat, menghadirkan suasana bersantap yang terinspirasi dari tradisi meja makan masyarakat Jawa.
Untuk kudapan, stan ini menyediakan Tahu Bakso Bandungan, Loempia Resep Kuno, dan Tahu Petis Semarangan. Loempia dikemas dalam kotak kertas dengan saus pendamping, sementara tahu petis disajikan bersama bawang prei.
Selain makanan siap santap, pengunjung juga dapat membeli produk kemasan untuk dibawa pulang. Pilihannya mencakup Kopi Jadoel, Soklat Jadoel, brambang goreng Brebes, aneka olahan bandeng, hingga berbagai camilan kering.
Kolaborasi WIG dan D'Kambodja Heritage disebut tidak hanya menekankan cita rasa, tetapi juga memperkenalkan bahan pangan lokal, teknik memasak, serta pengetahuan kuliner yang diwariskan antargenerasi.
Pendiri sekaligus Ketua Indonesia Gastronomy Network, Vita Datau, menilai hidangan tradisional menyimpan cerita yang penting untuk dikenalkan kepada masyarakat. “Di balik setiap hidangan yang disajikan, tersimpan ragam cerita mulai dari asal-usul bahan pangan, teknik pengolahan, hingga tradisi dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun,” ujar Vita.
Menurut Vita, upaya menarik minat generasi muda terhadap kuliner lokal perlu didukung penyampaian cerita yang lebih kuat. Ia mencontohkan Korea Selatan yang menghubungkan makanan, destinasi wisata, dan ekonomi kreatif melalui film serta drama. Ia juga menilai makanan tradisional perlu diperkenalkan lewat perpaduan cita rasa, nilai budaya, dan estetika yang mengikuti perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan media sosial seperti TikTok untuk memperluas jangkauan.
Dari pihak pemerintah, Plt Deputi Bidang Pengembangan dan Penyelenggaraan Kegiatan Kementerian Pariwisata, Hafiz Agung Rifai, berharap festival ini dapat memperluas pengenalan gastronomi nasional. “Kehadiran WIG Culinary Festival 2026 diharapkan dapat menjadi ruang untuk mengenalkan kekayaan gastronomi Indonesia secara lebih luas, termasuk potensi kuliner sebagai daya tarik wisata,” kata Hafiz.
Selain Kota Kasablanka, rangkaian festival berlangsung di sejumlah pusat perbelanjaan Jakarta dan sekitarnya, seperti Plaza Blok M, Gandaria City, Grand Indonesia, dan Bintaro Jaya Xchange. Festival juga menjangkau pusat perbelanjaan di wilayah lain di Pulau Jawa, antara lain Sleman City Hall, The Park Mall Solo, dan Solo Paragon.
Di Kota Kasablanka, harga makanan yang ditawarkan mulai dari Rp80 ribu, sedangkan minuman dibanderol mulai Rp40 ribu. Pengunjung dapat menemukan beragam sajian khas Joglosemar melalui stan D'Kambodja Heritage by Anne Avantie selama festival berlangsung.