Kuliner tradisional yang kini mulai jarang ditemui turut diangkat dalam Tanah Lot Art and Food Festival VII di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan/Kabupaten Tabanan. Salah satu menu yang diperkenalkan kepada wisatawan mancanegara adalah kakul suna cekuh, olahan berbahan dasar kakul atau keong sawah.
Menu tersebut menarik perhatian wisatawan asing yang hadir pada pembukaan festival, Jumat (28/8). Bianca, wisatawan asal Polandia yang berlibur bersama keluarganya di Bali, berkesempatan mencicipi langsung kakul suna cekuh. Ia mengaku rasa makanan itu terasa asing karena baru pertama kali mencoba, namun terkesan dengan tekstur dan cita rasanya.
“Rasanya memang aneh karena baru pertama kali mencicipi, tetapi dagingnya lembut dan gurih. Saya baru pertama kali mencoba dan cukup terkesan dengan rasanya,” ujar Bianca.
Bianca menilai festival yang menampilkan kuliner tradisional daerah menjadi pengalaman menarik bagi wisatawan asing. Menurutnya, selain menikmati panorama Tanah Lot, pengunjung juga bisa mengenal makanan khas yang belum tentu dijumpai di tempat lain. “Festival seperti ini yang menampilkan kuliner tradisional khas daerah bagus untuk promosi,” katanya.
Pengalaman berbeda disampaikan Rebecca, wisatawan asal Australia. Ia mengaku lebih tertarik pada kesenian tradisional Bali yang ditampilkan dalam rangkaian pembukaan festival. Rebecca memilih berdiri di depan panggung agar bisa menyaksikan pertunjukan dari jarak dekat sekaligus merekamnya menggunakan ponsel.
“Saya memang sudah tahu ada festival ini. Saya suka melihat tari-tarian tradisional Bali, jadi saya sempatkan datang ke sini sambil melihat panorama alam,” ungkap Rebecca.
Rebecca datang bersama seorang teman dan selama berada di Bali menginap di kawasan Canggu, Kuta Utara, Badung.
Selain kakul suna cekuh, pada pembukaan festival juga dihidangkan sejumlah menu tradisional lain, seperti pesan testes (udang kecil), lindung (belut) mebejek, hingga rujak tibah (mengkudu). Beragam hidangan tersebut diburu pengunjung yang penasaran dengan rasa yang ditawarkan.
Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga, yang membuka Festival Tanah Lot, mengatakan kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan bagi wisatawan, tetapi juga ruang pelestarian budaya serta pengembangan kuliner lokal. Ia menilai kuliner tradisional yang mulai jarang dikenal perlu terus diperkenalkan agar tidak hilang di tengah perkembangan kuliner modern.
“Festival menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan produk lokal dengan wisatawan,” katanya.
Dirga juga berharap festival memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, ia mendorong keterlibatan seniman dan pelaku UMKM lokal diperluas pada penyelenggaraan berikutnya. “Festival ini harus memberikan ruang bagi seniman dan UMKM lokal untuk terlibat secara aktif. Sehingga sesuai misi Pemerintah Kabupaten Tabanan bahwa Tabanan harus menjadi titik kumpul baru bagi berbagai pelaku pariwisata, ekonomi, maupun komunitas lainnya,” tegasnya.
Tanah Lot Art and Food Festival VII dijadwalkan berlangsung hingga Minggu (30/8). Selama festival, puluhan stan UMKM kuliner dan potensi lokal dijajakan, disertai hiburan dari artis Bali. Agenda lain yang turut meramaikan adalah Parade Gebogan dan beleganjur yang direncanakan tampil saat matahari terbenam, dengan melibatkan seluruh desa adat di Kecamatan Kediri.