BERITA TERKINI
Pesona Nusantara Extravaganza 2026 di Batavia PIK: Ketika 250 Rasa Bertemu Harapan UMKM dan Identitas Indonesia

Pesona Nusantara Extravaganza 2026 di Batavia PIK: Ketika 250 Rasa Bertemu Harapan UMKM dan Identitas Indonesia

Nama “Pesona Nusantara Extravaganza 2026” mendadak ramai dicari.

Di linimasa, orang membicarakan Batavia PIK, Pasar Rakjat, dan daftar kuliner yang disebut mencapai 250 jenis.

Festival ini bukan sekadar agenda akhir pekan.

Ia memantik percakapan tentang rasa, ruang publik, dan cara Indonesia merawat warisan sambil mengejar modernitas.

-000-

Festival kuliner ini berlangsung di Pasar Rakjat, Batavia PIK.

Acara dibuka dan dijadwalkan berjalan hingga 8 November 2026.

Ajang ini merupakan kolaborasi pengelola kawasan Batavia PIK di bawah Amantara, bagian dari Agung Sedayu Group, dengan konsep food market Eats & Co.

Dukungan acara disebut datang dari CLEO dan Motul.

Di atas kertas, formatnya jelas.

Pengunjung diajak menjelajah ragam cita rasa Nusantara, lalu menutup hari dengan hiburan kreatif di satu kawasan.

-000-

Irwan Haris dari Marketing Communication Department Head Amantara Agung Sedayu Group menyatakan harapan agar kegiatan ini menjadi agenda tahunan.

Ia menekankan kolaborasi tersebut dibangun untuk memberi ruang luas bagi pelaku UMKM.

Pernyataan itu penting, karena menggeser festival dari semata perayaan konsumsi.

Ia juga dibingkai sebagai strategi menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui fasilitas yang dinilai terbaik bagi UMKM lokal.

-000-

Dari sisi penyelenggara konsep, Krisna Kharismaya selaku Head of Marketing Eats & Co menekankan pengalaman.

Bukan hanya “enak”, melainkan nyaman, berkesan, dan punya “experience”.

Ia menyebut ada sekitar 250 pilihan kuliner otentik dari berbagai daerah.

Semua dikurasi ketat, menurut keterangannya.

Angka 250 itu bekerja seperti magnet.

Ia memberi kesan kelimpahan, sekaligus janji bahwa Nusantara bisa dirangkum dalam satu lintasan langkah.

-000-

Beberapa tenant legendaris ikut ambil bagian.

Salah satunya Gudeg Yu Djum Pusat dari Yogyakarta, yang membawa resep turun-temurun ke kawasan PIK.

Arif Ardanu Fauzi, perwakilan Gudeg Yu Djum Pusat, menyebut festival ini menarik karena bukan sekadar jualan.

Ia menekankan kebersamaan dan keberagaman, saat kekayaan Nusantara berkumpul menjadi satu.

Ia juga menyebut produksi didukung dapur operasional di Jakarta Timur agar kualitas dan kesegaran terjaga setiap hari.

-000-

Di luar kuliner, acara menghadirkan hiburan keluarga.

Ada pertunjukan musik, bazar fesyen, kerajinan tangan lokal, dan penampilan seperti Jember Fashion Carnaval.

Juga disebut ada pertunjukan musikal Batavia Tales.

Informasi jadwal diarahkan ke akun Instagram @batavia.pik dan @eatsnco_ind.

Rangkaian ini memperlihatkan satu hal.

Kuliner diposisikan sebagai pintu masuk, sementara pengalaman komunal menjadi rumah besarnya.

-000-

Mengapa Isu Ini Menjadi Tren

Ada tiga alasan yang membuat kabar festival ini menanjak di percakapan publik.

Ketiganya berkelindan, dan masing-masing menyentuh kebutuhan masyarakat urban hari ini.

Pertama, angka “250 jenis kuliner otentik” memicu rasa ingin tahu kolektif.

Di era pilihan tak berujung, daftar yang panjang justru terasa seperti tantangan.

Orang datang bukan hanya untuk makan.

Mereka datang untuk membuktikan, memotret, lalu membagikan pengalaman menemukan “yang paling otentik”.

Kedua, festival ini menawarkan narasi “Nusantara dalam satu kawasan nyaman”.

Ini menjawab problem klasik kota besar, yakni keterbatasan waktu dan jarak.

Rasa dari berbagai daerah dipadatkan dalam satu tempat.

Bagi warga urban, itu seperti jalan pintas menuju nostalgia, tanpa harus membeli tiket jauh.

Ketiga, ada lapisan ekonomi yang membuat orang merasa perlu ikut membicarakan.

Pernyataan soal ruang UMKM memberi legitimasi moral.

Publik cenderung lebih mudah mendukung acara hiburan bila ada klaim keberpihakan pada usaha kecil.

Di titik ini, tren bukan semata soal lapar.

Ia juga soal kebutuhan merasa “berkontribusi”, meski lewat transaksi sederhana di stan makanan.

-000-

Festival Kuliner dan Isu Besar Indonesia

Di balik keramaian festival, ada isu besar yang selalu hadir dalam sejarah Indonesia: persatuan dalam keberagaman.

Kuliner sering menjadi bahasa yang paling mudah menyatukan.

Orang boleh berbeda selera politik.

Namun mereka bisa duduk semeja, lalu berdebat santai tentang gudeg, soto, atau sambal.

Festival seperti ini memanfaatkan kekuatan itu.

Ia mengundang publik untuk mengalami “Indonesia” melalui indera, bukan slogan.

Rasa, aroma, dan tekstur bekerja sebagai pengingat.

Bahwa identitas nasional tidak selalu lahir dari pidato, melainkan dari kebiasaan sehari-hari.

Isu besar lain adalah keberlanjutan UMKM.

Ketika penyelenggara menekankan ruang bagi pelaku usaha kecil, itu menyentuh persoalan struktural.

UMKM kerap dipuji sebagai tulang punggung ekonomi.

Namun mereka juga sering rapuh di hadapan biaya sewa, akses pasar, dan perubahan selera.

Festival memberi panggung, tetapi juga memunculkan pertanyaan.

Apakah panggung ini menghasilkan dampak jangka panjang, atau hanya riuh sesaat?

Pertanyaan itu relevan, justru karena penyelenggara menyebut harapan menjadi agenda tahunan.

Rutin tahunan berarti ada peluang membangun ekosistem.

Mulai dari kurasi, pembinaan kualitas, hingga jembatan distribusi yang lebih stabil.

-000-

Kerangka Konseptual: Kuliner sebagai Warisan Budaya Takbenda

Untuk memahami mengapa festival kuliner mudah menggerakkan emosi, kita perlu kacamata warisan budaya takbenda.

Dalam kerangka UNESCO, warisan budaya takbenda mencakup praktik, pengetahuan, dan keterampilan yang diakui komunitas sebagai bagian identitas.

Kuliner berada di wilayah itu.

Ia bukan hanya produk, melainkan pengetahuan turun-temurun.

Resep, teknik, dan cara menyajikan adalah memori sosial yang hidup.

Ketika Gudeg Yu Djum Pusat menyebut “resep turun-temurun”, ia sedang berbicara tentang transmisi budaya.

Transmisi semacam ini tidak selalu aman.

Ia bisa tergerus bila generasi penerus tak melihat masa depan yang layak di dapur tradisi.

Karena itu, festival yang mempertemukan tradisi dengan pasar modern punya dua sisi.

Ia bisa menjadi jembatan, atau justru menyederhanakan tradisi menjadi komoditas.

Kuncinya ada pada cara kurasi, cara bercerita, dan cara memastikan pelaku tradisi tidak sekadar menjadi dekorasi.

-000-

Riset Relevan: Mengapa Orang Mengejar “Experience”

Pernyataan penyelenggara tentang “experience” sejalan dengan riset pemasaran modern.

Konsep “experience economy” yang dipopulerkan B. Joseph Pine II dan James H. Gilmore menjelaskan pergeseran nilai.

Konsumen tidak hanya membeli barang atau jasa.

Mereka membeli pengalaman yang berkesan.

Festival kuliner cocok dengan logika itu.

Ia menggabungkan rasa, suasana, musik, keramaian, dan cerita.

Nilai tertinggi sering bukan pada porsi.

Melainkan pada momen ketika seseorang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Di era media sosial, pengalaman juga mudah berubah menjadi narasi diri.

Orang menandai lokasi, mengunggah foto, dan menulis ulasan.

Itu memperpanjang umur sebuah acara.

Tren digital pun terbentuk.

Bukan hanya karena acara ada, tetapi karena pengalaman bisa dipertukarkan sebagai cerita.

-000-

Rujukan Luar Negeri yang Serupa

Fenomena festival kuliner sebagai panggung identitas bukan hanya milik Indonesia.

Di luar negeri, ada contoh yang sering dibahas dalam studi pariwisata dan budaya.

Misalnya, Taste of Chicago di Amerika Serikat.

Festival itu kerap dipahami sebagai cara kota menampilkan keragaman komunitas melalui makanan.

Contoh lain adalah Singapore Food Festival.

Ajang ini menempatkan kuliner sebagai bagian dari cerita nasional, sekaligus strategi pariwisata perkotaan.

Dalam dua contoh itu, pola besarnya serupa.

Makanan dijadikan bahasa bersama.

Lalu kota menyediakan panggung, agar identitas terasa dekat, modern, dan bisa dinikmati lintas generasi.

Rujukan ini tidak untuk menyamakan konteks.

Namun untuk menunjukkan bahwa ketika makanan dipertemukan dengan ruang kota, dampaknya sering melampaui urusan perut.

-000-

Kontemplasi: Apa yang Sebenarnya Dicari Pengunjung

Di balik antrean stan dan hiruk-pikuk panggung, ada pencarian yang lebih sunyi.

Orang mencari rasa yang mengingatkan rumah.

Bagi sebagian, “rumah” adalah kampung halaman yang jauh.

Bagi yang lain, rumah adalah masa kecil yang tak bisa diulang.

Festival seperti Pesona Nusantara Extravaganza 2026 menawarkan ilusi yang lembut.

Bahwa jarak bisa dipendekkan, dan rindu bisa diobati, setidaknya lewat satu suapan.

Di kota yang bergerak cepat, makan sering menjadi aktivitas fungsional.

Namun festival mengembalikan makan sebagai peristiwa sosial.

Orang datang berkelompok, saling mencicip, lalu saling merekomendasikan.

Di sana, makanan berubah menjadi percakapan.

Dan percakapan adalah bentuk paling sederhana dari kebersamaan.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik bisa menikmatinya sebagai ruang temu budaya, sambil tetap kritis.

Periksa informasi resmi jadwal dan tenant melalui kanal yang disebut penyelenggara.

Datang dengan sikap menghargai pelaku usaha.

Antre dengan tertib, dan beri umpan balik yang sopan.

Kedua, penyelenggara dapat memperkuat narasi edukasi.

Misalnya, memberi ruang cerita tentang asal-usul menu, teknik memasak, dan konteks daerah.

Ini tidak menambah klaim baru.

Ini memperdalam pengalaman yang sudah dijanjikan, yakni “experience” yang berkesan.

Ketiga, perhatian pada UMKM sebaiknya diterjemahkan menjadi praktik yang konsisten.

Jika acara diharapkan rutin tahunan, maka kesinambungan menjadi ukuran.

Kurasi yang ketat perlu diimbangi pendampingan.

Tujuannya agar kualitas terjaga tanpa mematikan pelaku kecil yang sedang bertumbuh.

Keempat, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pariwisata bisa membaca tren ini sebagai sinyal.

Masyarakat membutuhkan ruang publik yang aman, nyaman, dan ramah keluarga.

Festival kuliner hanyalah satu bentuk.

Namun kebutuhan dasarnya adalah kota yang menyediakan tempat bertemu, bukan hanya tempat bekerja.

-000-

Pada akhirnya, ramainya Pesona Nusantara Extravaganza 2026 menunjukkan satu hal sederhana.

Indonesia selalu menemukan cara untuk kembali berbicara tentang dirinya sendiri.

Kali ini, lewat 250 rasa yang dikurasi, stan yang dipenuhi rindu, dan panggung hiburan yang merangkul keluarga.

Jika tren ini ingin bermakna, ia perlu dijaga agar tidak berhenti sebagai keramaian sesaat.

Ia harus menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan.

Antara UMKM dan pasar yang lebih luas.

Antara nostalgia dan inovasi.

Seperti kata pepatah yang sering diulang dalam banyak versi, kita diingatkan bahwa kebersamaan lahir dari hal sederhana.

“Kita tidak hanya berbagi makanan, kita berbagi cerita.”