BERITA TERKINI
Es Teler Kota Daeng: Berawal dari Menu Berbuka, Kini Jadi Kuliner Ikonik Makassar

Es Teler Kota Daeng: Berawal dari Menu Berbuka, Kini Jadi Kuliner Ikonik Makassar

Es Teler Kota Daeng bermula dari eksperimen sederhana yang dilakukan pada 2011. Saat itu, Juanda meracik minuman manis dan segar untuk menu berbuka puasa Ramadan, setelah ia kesulitan menemukan sajian yang cocok. Racikan yang dibuat spontan tersebut ternyata berkembang dari bisnis musiman menjadi brand kuliner lokal yang dikenal luas di Makassar.

Kisah perjalanan usaha ini disampaikan Juanda, pemilik Es Teler Kota Daeng, dalam Program TERAS UMKM Pro 4 RRI Makassar yang disiarkan melalui FM 92.5 MHz pada Senin, 21 September 2026. Dalam perbincangan tersebut, Juanda juga disebut baru saja dinobatkan sebagai pemenang Makassar Most Favorite Culinary Award 2026.

Dalam siaran bertema “Dipilih Bukan Karena Promosi Tapi Karena Dicintai”, Juanda menceritakan bahwa proses membangun usaha tidak langsung berjalan mulus. Pada masa awal, racikan es teler yang dibuatnya masih jauh dari sempurna dan proses produksi kerap dilakukan terburu-buru dari pagi hingga siang hari.

Meski begitu, ia terus melakukan perbaikan hingga menemukan formula rasa yang dianggap tepat pada 2012. Sejak saat itu, menjaga kualitas bahan menjadi salah satu fokus utama untuk mempertahankan cita rasa. Es Teler Kota Daeng menggunakan gula aren khas Sulawesi, serta kelapa dan buah-buahan pilihan yang didatangkan dari sejumlah daerah, termasuk Bone, khususnya Bontocani atau Lappariaja.

Selain kualitas rasa, konsistensi operasional juga menjadi prinsip yang dipegang. Juanda menilai perubahan cuaca, terutama musim hujan, kerap memengaruhi minat masyarakat terhadap minuman dingin. Namun, kedainya tetap memilih buka setiap hari. Ia meyakini kondisi cuaca bukan alasan untuk berhenti melayani pelanggan.

“Kalau bicara tentang rezekinya, bukannya tentang panas atau hujan di sini. Kalau memang rezeki yang sudah ditakdirkan untuk kita dari Allah, mau panas mau hujan akan tetap ada di sini,” kata Juanda.

Terkait pengembangan usaha, Juanda menyebut Es Teler Kota Daeng belum berencana membuka cabang di luar Makassar. Salah satu pertimbangannya adalah daya tahan buah segar seperti alpukat, nangka, dan durian yang relatif singkat. Ia memilih memaksimalkan pelayanan dan menjaga standar kualitas di Makassar, sekaligus menilai potensi pasar di kota tersebut masih luas.

Meski telah berjalan sekitar 15 tahun, upaya promosi digital baru digarap lebih serius dalam beberapa waktu terakhir. Saat ini, Es Teler Kota Daeng memanfaatkan platform seperti Instagram dan TikTok, serta mulai merambah fitur creator dan e-commerce untuk memperluas jangkauan.

Di tengah persaingan bisnis es teler di Makassar, Es Teler Kota Daeng mengandalkan perpaduan cita rasa khas, tempat yang nyaman, dan harga yang tetap terjangkau. Juanda mengatakan pihaknya berupaya mempertahankan sejumlah varian dengan harga mulai Rp10.000, meski harga bahan baku bisa berfluktuasi. Jika ada kenaikan pada produk tertentu, mereka berupaya menahan kenaikan dengan mengurangi sebagian keuntungan.

“Di kondisi ekonomi seperti ini kami masih berusaha mempertahankan harga paling termurahnya karena masih menjangkau sangat terjangkau. Kalaupun ada kenaikan pada produk tertentu, pilihannya adalah menahan laju kenaikan dengan mengurangi sedikit keuntungan demi menjaga customer,” ujarnya.

Perjalanan Es Teler Kota Daeng menggambarkan bagaimana usaha lokal dapat bertahan melalui konsistensi menjaga kualitas, pelayanan, serta kedekatan dengan pelanggan. Penghargaan Makassar Most Favorite Culinary Award 2026 menjadi penanda pencapaian dari usaha yang dirintis sejak 2011—berawal dari menu berbuka puasa, lalu tumbuh menjadi salah satu kuliner yang lekat dengan masyarakat Makassar.