BERITA TERKINI
dr Ryu Hasan: Depresi Bukan Sekadar Sedih, Melainkan Gangguan Cara Otak Memproses Realitas

dr Ryu Hasan: Depresi Bukan Sekadar Sedih, Melainkan Gangguan Cara Otak Memproses Realitas

Ahli bedah saraf sekaligus pakar neurosains, Dr Roslan Yusni Hasan atau dr Ryu Hasan, memantik diskusi publik tentang kesehatan mental melalui pernyataannya dalam podcast YouTube KESADARAN 33 yang tayang pada 12 Mei 2026.

Dalam perbincangan bertema “Depresi Itu Suicidal atau Produktif?”, dr Ryu membahas depresi dari sudut pandang neurosains. Ia menekankan bahwa depresi tidak semata-mata persoalan psikologis, melainkan fenomena biologis yang berakar pada kerja otak manusia.

Menurutnya, pemahaman tentang depresi perlu dimulai dari cara otak membentuk pengalaman batin manusia. Ia menyebut perasaan dan apa yang kerap disebut sebagai “jiwa” bukanlah entitas yang terpisah dari tubuh.

“Perasaan itu adalah karena otak kita. Bahwa yang namanya jiwa itu adalah bagian dari tubuh kita. Ini hasil kerja otak,” ujar dr Ryu.

Ia menjelaskan, cara pandang tersebut berkaitan dengan bagaimana depresi dapat muncul dan berkembang. Dalam kondisi depresi, menurut dr Ryu, terjadi gangguan pada sistem kerja otak yang memengaruhi cara seseorang memandang realitas, merasakan emosi, dan mengelola kecemasan.

dr Ryu juga menyoroti kekeliruan umum di masyarakat yang kerap menyamakan depresi dengan kesedihan biasa. Ia menegaskan depresi bukan sekadar rasa sedih mendalam, melainkan pengalaman yang sulit dijelaskan kepada orang yang belum pernah mengalaminya.

“Sulit menjelaskan depresi kepada orang yang tidak pernah mengalami. Seperti menjelaskan rasa pedas kepada orang yang tidak pernah merasakan pedas,” katanya.

Dalam pembahasan tersebut, dr Ryu menyebut depresi dapat berkaitan dengan dua sisi yang kontras: sebagian orang bisa menjadi sangat produktif, namun kondisi ini juga memiliki risiko bunuh diri yang tinggi. Ia menambahkan bahwa banyak tokoh besar dunia disebut produktif justru karena depresi, tetapi tetap menekankan adanya bahaya serius di baliknya.

Di kesempatan yang sama, dr Ryu turut mengungkap pengalaman pribadinya terkait depresi. “Saya depresi sejak tahun ’86 sampai sekarang,” ungkapnya.

Neurosains sendiri merupakan bidang ilmu multidisiplin yang mempelajari sistem saraf, dengan fokus pada struktur, fungsi, perkembangan, genetika, serta patologi otak manusia. Melalui perspektif ini, dr Ryu mengajak publik melihat depresi sebagai persoalan yang berkaitan dengan cara otak memproses kehidupan, bukan sekadar perubahan suasana hati.