Pemenuhan gizi seimbang dan keamanan pangan dinilai menjadi faktor penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal sejak usia dini. Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Malang, Sutomo Rum Teguh Kaswari, mengatakan perhatian terhadap kesehatan anak perlu dimulai bahkan sejak masa remaja, khususnya bagi calon ibu.
Dalam dialog Warung Gaul Pro 4 RRI Malang, Rabu (13/5/2026), Sutomo menjelaskan bahwa perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat terutama sejak lahir hingga usia dua tahun. Karena itu, pemberian makanan perlu dilakukan secara tepat, cukup, aman, dan responsif sesuai kebutuhan anak.
Ia menekankan, orang tua tidak hanya perlu memperhatikan kandungan gizi, tetapi juga kebersihan makanan yang diberikan. Untuk bahan makanan segar seperti ikan, masyarakat diimbau memperhatikan tingkat kesegaran melalui kondisi fisik, mata, dan insangnya. Sementara untuk makanan kemasan, ia menyarankan agar komposisi bahan dan tanggal kedaluwarsa diperiksa guna memastikan keamanan konsumsi.
Pada kesempatan yang sama, Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Malang, Herni Purwantari, menyoroti pentingnya pemberian ASI pertama atau kolostrum bagi bayi baru lahir. Menurutnya, kolostrum bermanfaat untuk membantu melindungi usus dan meningkatkan daya tahan tubuh bayi.
Herni menambahkan, setelah bayi berusia enam bulan, pemberian makanan pendamping ASI dapat dimulai dengan tekstur lunak dan kandungan protein yang cukup. Meski demikian, ASI disebut tetap menjadi sumber utama pemenuhan gizi anak.
Selain asupan gizi, kebersihan makanan dan minuman anak juga perlu mendapat perhatian serius. Herni menyebut banyak kasus diare pada anak dipicu makanan yang kurang higienis maupun susu yang disimpan terlalu lama pada suhu ruang.
Ia mengingatkan, susu yang sudah dibuat sebaiknya tidak disimpan lebih dari satu jam pada suhu ruang karena dapat memicu pertumbuhan bakteri. Masyarakat juga dianjurkan memasak makanan sesuai kebutuhan agar tidak disimpan terlalu lama. Pada suhu ruang, makanan disarankan dikonsumsi maksimal dalam waktu empat jam untuk mengurangi risiko kontaminasi bakteri.

