BERITA TERKINI
Depot 200 Malang Pertahankan Masak Pakai Arang di Tengah Persaingan Kuliner

Depot 200 Malang Pertahankan Masak Pakai Arang di Tengah Persaingan Kuliner

Di tengah persaingan bisnis kuliner yang kian ketat, pelaku usaha dituntut tidak hanya menjaga rasa dan harga, tetapi juga memastikan operasional berjalan efektif dan efisien. Aspek pelayanan menjadi perhatian penting karena pengalaman pelanggan turut dipengaruhi oleh kecepatan penyajian dan ketepatan pengelolaan pesanan.

Salah satu usaha yang menarik dicermati adalah Depot 200 yang berlokasi di Jalan MT. Haryono No. 200, Dinoyo, Kota Malang. Depot ini menawarkan beragam menu, antara lain nasi goreng Jawa, ikan asap, cumi, mangut, bakmi, dan nasi siram ayam.

Depot 200 memiliki ciri khas pada proses memasaknya yang masih menggunakan arang sebagai bahan bakar utama. Di saat banyak usaha kuliner beralih ke kompor gas, Depot 200 mempertahankan metode tradisional tersebut sebagai bagian dari identitas usahanya.

Berdasarkan observasi dan wawancara, Depot 200 telah menjalankan usaha nasi goreng selama kurang lebih empat tahun. Sebelumnya, lokasi tersebut digunakan sebagai tempat kopi.

Pengelolaan usaha kuliner tidak berhenti pada penyajian makanan. Di balik setiap hidangan, terdapat rangkaian kegiatan operasional mulai dari penyediaan bahan baku, proses memasak, hingga pelayanan kepada pelanggan. Dari pengamatan terhadap Depot 200, terdapat tiga aspek manajemen operasional yang dapat menjadi pembelajaran, yakni pengelolaan kapasitas pelayanan, pengendalian persediaan bahan baku, serta pengaturan proses kerja.

Dalam pelayanannya, Depot 200 melayani pelanggan yang datang langsung maupun pemesanan melalui aplikasi Shopee. Kehadiran layanan daring membuka peluang menjangkau lebih banyak konsumen, namun juga menghadirkan tantangan ketika pesanan dari dua kanal tersebut masuk bersamaan.

Hasil wawancara menunjukkan waktu penyajian makanan dalam kondisi normal sekitar 10 menit. Namun saat ramai, waktu penyajian dapat meningkat menjadi sekitar 15 hingga 30 menit. Kondisi ini menggambarkan bagaimana lonjakan pesanan dapat berdampak pada kecepatan layanan, yang berkaitan dengan kapasitas dapur dan sistem antrean.

Ketika jumlah pesanan melebihi kemampuan dapur menyelesaikannya dalam rentang waktu tertentu, penumpukan pesanan berpotensi terjadi dan pelanggan harus menunggu lebih lama. Dalam konteks tersebut, pengaturan urutan pesanan yang lebih terstruktur untuk pelanggan langsung maupun daring dinilai dapat membantu memperlancar layanan. Persiapan bahan sebelum jam ramai serta pembagian tugas yang jelas juga disebut dapat mendukung kelancaran proses.

Pengalaman Depot 200 menunjukkan bahwa dalam bisnis kuliner, kecepatan pelayanan menjadi aspek yang perlu diperhatikan selain menjaga kualitas makanan, terutama ketika permintaan meningkat dan saluran pemesanan bertambah.