BERITA TERKINI
Daun Ungu: Tanaman Hias dengan Potensi Herbal, dari Wasir hingga Gula Darah

Daun Ungu: Tanaman Hias dengan Potensi Herbal, dari Wasir hingga Gula Darah

Daun ungu (Graptophyllum pictum) merupakan tanaman asli Papua Nugini yang kini dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Meski kerap dibudidayakan sebagai tanaman hias, daun berwarna ungu kemerahan ini juga dikenal luas sebagai tanaman herbal karena mengandung beragam senyawa khas tanaman atau fitonutrien yang dinilai berpotensi menunjang kesehatan.

Tanaman ini umumnya tumbuh baik di wilayah lembap dan hangat dengan paparan sinar matahari yang cukup. Selain warna keunguan yang menjadi ciri utama, daun ungu berhelai tipis, berbentuk bulat telur dengan ujung runcing. Pada beberapa kondisi, kulit dan daunnya dapat terasa berlendir serta mengeluarkan aroma yang kurang sedap.

Di Indonesia, daun ungu dikenal dengan sejumlah sebutan daerah. Di Jawa, tanaman ini kerap disebut demung, tulak, atau wungu. Di Ternate dikenal sebagai kadi-kadi atau kobi-kobi, sementara di Ambon disebut daun putri. Masyarakat Sunda menyebutnya handeuleum, dan di Madura dikenal sebagai karotong.

Dari sisi kandungan, potensi manfaat daun ungu dikaitkan dengan fitonutrien seperti flavonoid, steroid, tanin, coumarin, saponin, anthraquinone, dan senyawa fenolik. Daun ungu juga mengandung pigmen alami berupa antosianin dan karotenoid yang memberi warna ungu kemerahan.

Sejumlah studi dan laporan observasi mencatat beberapa potensi penggunaan daun ungu untuk berbagai keluhan. Salah satu yang paling dikenal di Indonesia adalah untuk ambeien atau wasir. Dalam praktik tradisional, daun ini kerap dikonsumsi melalui air rebusan. Sebuah laporan observasi klinik formula jamu untuk hemoroid menyebut konsumsi 9–10 gram air rebusan daun ungu dapat membantu mengurangi gejala seperti nyeri, perdarahan, dan rasa panas pada anus. Namun, laporan tersebut mengutip hasil studi yang tidak dijelaskan rinci mengenai metode dan waktu pelaksanaannya. Adapun penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Ethnopharmacology (2022) mengamati bahwa dugaan manfaat pada wasir berkaitan dengan flavonoid dan tanin yang bersifat antiradang sehingga berpotensi menekan perdarahan, nyeri, serta kekambuhan.

Selain wasir, daun ungu juga diteliti terkait kesehatan gigi, khususnya pembentukan plak. Riset dalam Acta Medica Philippina (2021) menemukan larutan ekstrak daun ungu dengan konsentrasi 6,25% dapat melawan bakteri Streptococcus mutan, salah satu penyebab plak gigi. Studi tersebut mengaitkan efek antibakteri dengan senyawa seperti triterpenoid, alkaloid, glycoside, flavonoid, saponin, dan tanin, yang dinilai mampu merusak dinding sel bakteri. Meski demikian, pengujian masih dilakukan pada bakteri di laboratorium, sehingga efeknya pada pemutihan gigi atau penggunaan langsung pada manusia belum diketahui sepenuhnya.

Potensi lain yang disebutkan adalah kaitannya dengan kolesterol tinggi. Kandungan steroid berupa fitosterol dinilai dapat menurunkan penyerapan kolesterol dari makanan. Serat pada daun ungu juga disebut dapat membantu mengikat kolesterol dan membuangnya melalui feses. Namun, data yang mendukung manfaat ini disebut masih terbatas karena studi terakhir yang menunjukkan efek tersebut dilakukan pada hewan dan sudah berlangsung belasan tahun lalu.

Dalam konteks perlindungan ginjal, studi di Iranian Journal of Basic Medical Sciences (2015) mengamati bahwa ekstrak daun ungu berpotensi melindungi ginjal dari kerusakan akibat penggunaan gentamicin yang tidak terkontrol. Penelitian tersebut mencatat penurunan senyawa penanda radikal bebas di ginjal setelah pemberian ekstrak, serta penurunan kadar kreatinin dan urea dalam urine—dua indikator yang dapat berkaitan dengan gangguan ginjal. Efek ini dikaitkan dengan flavonoid yang bersifat antioksidan. Meski begitu, penelitian masih dilakukan pada tikus, dan sediaan ekstrak yang digunakan belum tentu sama dengan produk yang beredar di pasaran.

Daun ungu juga disebut berpotensi membantu menurunkan gula darah. Fitonutrien seperti saponin, tanin, dan flavonoid dinilai berperan dalam penurunan kadar gula darah serta memiliki sifat antioksidan yang berpotensi mengurangi faktor risiko diabetes. Studi di African Journal of Biotechnology (2010) menemukan ekstrak daun ungu dapat mengurangi keasaman darah, yang disebut cenderung tinggi pada penderita gula darah tinggi dan diabetes. Kandungan fitonutriennya dinilai bersifat basa sehingga dapat membantu menekan keasaman tersebut. Namun, seperti sejumlah temuan lain, penelitian ini juga baru dilakukan pada tikus sehingga diperlukan kajian lanjutan pada manusia.

Dalam penggunaan sehari-hari, daun ungu umumnya dikonsumsi dengan cara meminum air rebusannya. Daun disarankan dibersihkan terlebih dahulu untuk menghindari kotoran yang dapat memicu masalah kesehatan. Daun ungu juga tersedia dalam bentuk suplemen; pengguna dianjurkan membaca petunjuk pemakaian pada label sebelum mengonsumsinya.

Meski memiliki berbagai potensi, konsumsi daun ungu juga perlu diwaspadai karena efek samping spesifiknya belum banyak diteliti. Beberapa risiko yang disebutkan antara lain reaksi alergi, seperti gatal, kemerahan, dan bentol-bentol, hingga kondisi berat berupa anafilaksis dengan gejala pingsan, sesak napas, dan pembengkakan pada wajah serta saluran pernapasan. Risiko lain yang turut disorot adalah kemungkinan anemia yang dikaitkan dengan katekin (bagian dari flavonoid) yang disebut dapat memicu pemecahan sel darah merah. Selain itu, terdapat laporan kasus yang mengaitkan konsumsi daun ungu dengan insomnia, meski studi tentang flavonoid dan waktu tidur yang dirujuk tidak secara khusus meneliti daun ungu dan mekanismenya belum dipahami sepenuhnya.

Secara umum, daun ungu kerap diposisikan sebagai pendamping, bukan pengganti pengobatan medis. Sejumlah temuan manfaatnya masih didominasi uji coba pada hewan, dan riset lebih lanjut diperlukan untuk memastikan efektivitas serta keamanannya pada manusia, termasuk kemungkinan interaksi dengan obat lain. Masyarakat juga diimbau tidak menghentikan pengobatan dari dokter dan berkonsultasi terlebih dahulu sebelum mengonsumsi daun ungu, terutama bila memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang menjalani terapi obat.

Ringkasnya, daun ungu paling dikenal sebagai herbal untuk membantu mengurangi gejala wasir, tersedia dalam bentuk suplemen atau teh herbal, dan flavonoid disebut menjadi salah satu kandungan yang paling banyak dikaitkan dengan manfaatnya. Namun, bukti ilmiah yang lebih kuat masih diperlukan, terutama karena banyak penelitian yang masih terbatas pada uji praklinis.