Di Pasar Pancasari, Buleleng, Bali, tawar-menawar dalam bahasa Bali menjadi bagian dari keseharian Nengah Redini (46). Hampir 20 tahun ia berjualan sayur-mayur—dari sawi, wortel, hingga kol—untuk menghidupi keluarga. Bersama suaminya, ia meninggalkan kampung halaman bukan untuk mengejar hidup mewah, melainkan demi memastikan tiga anaknya tetap bisa tumbuh dan bersekolah. Setiap hari, ia menempuh sekitar 22,6 kilometer dari rumah menuju lapaknya di Desa Pancasari.
Rutinitas itu berubah ketika anak ketiganya, Alita, mulai duduk di kelas 1 sekolah dasar. Suatu sore, Alita mengeluh sakit perut hingga menangis. Nengah yang saat itu masih berjualan baru mengetahui kondisi anaknya sepulang dari pasar. Ia segera membawa Alita ke bidan desa karena akses dokter dan rumah sakit dinilai masih jauh dari wilayah tempat tinggal mereka.
Menurut Nengah, bidan menyampaikan Alita mengalami “salah makan”. Perutnya mengalami kontraksi dan menimbulkan diare. Belakangan diketahui, Alita sempat mengonsumsi bubuk cabai yang saat itu sedang viral dan digemari anak-anak, namun tidak cocok dengan kondisi pencernaannya.
Kisah Alita menggambarkan persoalan yang lebih luas. Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan global, terutama di negara berkembang, termasuk Indonesia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) 2024–2025, hampir 1,7 miliar kasus diare terjadi pada anak-anak di seluruh dunia, dengan 444 ribu hingga 495 ribu kematian setiap tahun. Pada 2022, diare tercatat sebagai penyebab kematian kedua setelah pneumonia. Secara global, penyakit ini menyumbang sekitar 4 persen dari total kematian dan dapat menimbulkan dampak jangka panjang, termasuk kecacatan pada sebagian penderita yang telah sembuh.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Buleleng, dr. I Wayan Parna Arianta, MARS, mengatakan diare dapat menyerang semua kelompok usia, dari bayi hingga dewasa. Salah satu penyebabnya adalah infeksi mikroorganisme, sehingga kebersihan makanan, minuman, dan lingkungan menjadi hal penting untuk diperhatikan.
Parna juga mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap diare sebagai penyakit ringan. Menurutnya, bila tidak ditangani dengan tepat—terutama ketika penderita mengalami dehidrasi berat—kondisi dapat memburuk dan memicu komplikasi serius hingga berujung pada kematian.
Ia menekankan, perhatian terhadap apa yang masuk ke tubuh anak bukan hanya soal rasa dan kesukaan, tetapi juga kebersihan, keamanan, serta kandungan gizi. Hal ini dinilai penting terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, ketika kekurangan gizi dapat meningkatkan risiko stunting.
Parna menyebut kekurangan gizi dan infeksi seperti diare dapat membentuk lingkaran yang sulit diputus. Anak yang kekurangan gizi memiliki daya tahan tubuh lebih rendah sehingga lebih rentan terserang diare. Sebaliknya, diare dapat mengganggu asupan dan penyerapan zat gizi. Bila berulang, pertumbuhan anak dapat terhambat dan risiko stunting meningkat.
Di Indonesia, pemenuhan gizi anak masih menjadi tantangan. Data Kementerian Kesehatan RI 2024 mencatat angka stunting berada di 19,8 persen, sementara underweight meningkat menjadi 16,9 persen. Pemerintah menargetkan angka stunting turun hingga 14,2 persen pada 2029. Dirjen Pelayanan Kesehatan Keluarga dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menyatakan target ini bukan sekadar menurunkan angka, melainkan memastikan anak dapat tumbuh sehat dan berkembang optimal.
Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kabupaten Buleleng, Bali, Eka Subiakta, menekankan pentingnya penerapan pola makan bergizi seimbang dan perilaku hidup sehat. Menurutnya, masyarakat perlu memahami makanan yang dikonsumsi harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Ia juga menilai pemahaman gizi seimbang tidak cukup hanya dibangun di keluarga, tetapi perlu diperkuat di sekolah dan lingkungan anak agar mereka terbiasa mengenali serta memilih makanan sesuai kebutuhan.
Eka mengingatkan, gizi yang tidak seimbang dalam jangka panjang dapat menghambat tumbuh kembang anak. Ketika kebutuhan protein hewani, nabati, energi, vitamin, dan mineral tidak terpenuhi, anak lebih rentan mengalami masalah gizi dan pertumbuhannya tidak optimal.
Dalam konteks upaya membangun kebiasaan hidup sehat di sekolah, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk menjalankan program JAPFA for Kids yang berfokus pada edukasi gizi seimbang dan pembiasaan pola hidup sehat. Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, mengatakan program tersebut telah berjalan selama 18 tahun sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan untuk mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia.
Hingga 2025, program ini disebut telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi. Berdasarkan evaluasi program pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa yang sebelumnya mengalami gizi kurang dan gizi buruk berhasil mencapai status gizi baik, atau setara 62,5 persen.
Di sekolah binaan, berbagai pembiasaan dilakukan melalui PROMISE, termasuk membawa bekal bergizi sesuai konsep Isi Piringku, memilih jajanan sehat, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga kebersihan lingkungan. Untuk siswa dengan gizi kurang, terdapat program One Day One Egg berupa pemberian satu butir telur setiap hari sebagai tambahan sumber protein. Kegiatan lain meliputi Kantin Sehat, praktik PHBS, Sabtu Sehat, senam bersama, serta aktivitas fisik tambahan. Rangkaian kegiatan tersebut melibatkan siswa, guru, orang tua, dan puskesmas, dengan tujuan menjadikan pengetahuan gizi dan hidup bersih sebagai kebiasaan harian.
Bagi Nengah, pengalaman Alita menjadi titik balik. Ia mengingat anaknya yang lemas menahan sakit perut, sekaligus penyesalan karena merasa belum melakukan yang terbaik. Sejak itu, ia mulai menyempatkan diri menyiapkan bekal dari rumah di tengah kesibukan berjualan. Ia tidak lagi hanya memastikan anak sudah makan, tetapi juga memperhatikan apa yang dimakan. Sayuran yang setiap hari ia jual tetap menjadi bagian menu, namun ia mulai memahami kebutuhan gizi anak tidak cukup hanya dari sayuran.
Nengah kemudian mencari informasi tentang makanan bergizi, menyeimbangkan menu dengan menambahkan protein hewani, serta lebih teliti memilih makanan dan produk yang dikonsumsi anak. Kini, Alita telah duduk di kelas 4 SD. Saat kunjungan ke SD Negeri 1 Pegadungan, Buleleng, Alita terlihat beraktivitas bersama teman-temannya sambil membawa bekal nasi, sayur, ayam goreng, dan susu Real Good. Alita mengaku senang membawa bekal karena menurutnya lebih enak dibuat ibunya.
Alita kini bisa kembali bermain, tertawa, dan belajar seperti biasa. Bagi Nengah, itu menjadi pemandangan yang menenangkan setelah pernah melihat anaknya kesakitan. Pengalaman keluarga ini memperlihatkan bagaimana perhatian terhadap kebersihan, keamanan, serta gizi makanan anak dapat menjadi bagian penting dalam mencegah masalah kesehatan yang sebenarnya dapat dihindari.