Aksi Aliansi Jateng Guyub di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah tidak hanya diisi orasi dan pertunjukan musik rakyat. Selama tiga hari pelaksanaan aksi, 22–24 Juli 2026, kebutuhan makan ratusan peserta dipenuhi melalui dapur umum yang dikelola secara swadaya oleh relawan dan warga dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Tim Teknis Jateng Guyub, Cornelius Gea, mengatakan konsumsi disiapkan secara gotong royong. Dapur umum tersebut ditargetkan mampu menyediakan makanan bagi sekitar 300 hingga 400 peserta setiap kali waktu makan.
“Selama tiga hari ini konsumsi makanan dikelola sama teman-teman kolektif di Semarang. Teman-teman sudah menyiapkan semuanya karena memang rencananya untuk konsumsi 300 sampai 400 orang,” kata Cornelius, Kamis (23/7/2026).
Menurut Cornelius, bahan makanan berasal dari sumbangan warga yang mendukung aksi. Nelayan menyumbangkan ikan asin, sementara petani membawa beragam hasil panen, mulai dari cabai, tomat, terong, labu siam, daun singkong, kacang panjang, tempe hingga tahu.
“Jadi menunya memang seputar sayur, tempe, telur, ayam, terus ada ikan asin. Semuanya di-support warga dan dikelola bersama teman-teman di Semarang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, proses memasak dilakukan di dapur milik warga Tambakrejo, Kota Semarang, dengan melibatkan relawan Barapuan serta ibu-ibu setempat.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Kawula Alit Mandiri, Trismina, mengatakan kelompoknya turut menyumbangkan hasil panen dari lahan yang hingga kini masih menjadi objek sengketa di Desa Pesaren, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal. Ia menyebut para petani membawa sekitar tiga kilogram cabai, enam kilogram tomat, serta labu siam, daun singkong, terong, dan kacang panjang dari panen masing-masing.
“Kita sama-sama petani, punyanya sayuran ya kita bawa sayuran. Kan buat dimakan bersama-sama,” kata Trismina.
Cornelius juga membantah anggapan bahwa aksi Jateng Guyub didanai pihak asing. Menurutnya, kegiatan terlaksana berkat iuran dan gotong royong para peserta aksi.
“Ini anak-anak semua menyisihkan uang jajannya. Kita patungan. Kalau benar didanai ya mungkin tiap hari makan ayam terus. Ini saja kita masih bingung besok ada uang atau enggak,” ujarnya.

