Perjalanan usaha kuliner Dapur Mas To milik pelaku UMKM Hadi Susanto di Padang menjadi gambaran transformasi pedagang kaki lima menuju pengelolaan bisnis yang lebih tertata. Kisah ini dibahas dalam program UMKM Bicara RRI Pro 1 Padang, Senin (26/10/2026), yang mengulas langkah-langkah penguatan usaha hingga arah hilirisasi bisnis modern.
Hadi Susanto, yang akrab disapa Mas To, memulai usahanya dengan modal awal Rp600.000. Ia berjualan menggunakan gerobak pinjaman dari rekan lamanya yang sudah pensiun. Lokasi berjualannya berada di sebelah Masjid Nurul Iman, dekat Bank BSI Kota Padang, dan beroperasi setiap hari.
Aktivitas berdagang dimulai sejak pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB, menyasar pelanggan yang membutuhkan sarapan sebelum bekerja. Dapur Mas To menawarkan sejumlah menu, antara lain nasi goreng, minas (mie nasi goreng), mie tektek, mie pedas, kwetiau, serta menu baru bernama magelangan.
Harga per porsi dipatok pada kisaran Rp13.000 hingga Rp15.000, dengan tambahan telur sesuai pilihan pelanggan. Mas To menekankan pentingnya menjaga kualitas rasa melalui penggunaan bumbu segar, termasuk mencuci cabai sendiri untuk memastikan kepuasan pelanggan.
Dari sisi legalitas, Dapur Mas To telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal resmi dari instansi pemerintah terkait. Untuk memperluas pasar, usaha ini juga aktif mengikuti pameran dan bazar kuliner, baik di tingkat regional maupun di luar kota.
Pendamping UMKM dari Dinas Koperasi dan UKM Kota Padang wilayah Padang Selatan 2, Rahmadian, turut memberikan bimbingan inkubasi usaha secara berkala. Pendampingan mencakup pengawasan higienitas dapur, kelengkapan legalitas produk, hingga dorongan pemanfaatan media sosial sebagai strategi promosi digital yang dilakukan secara mandiri.
Dalam operasionalnya, Mas To menyebut fluktuasi harga bahan pokok seperti cabai dan beras sebagai kendala utama karena sering mengalami kenaikan dan penurunan yang drastis. Pada sesi interaktif siaran, penelepon bernama Ni Mar menyampaikan apresiasi sekaligus saran terkait pengembangan lokasi usaha.
Penelepon lain, Mama Zur dari Gunung Pangilun, juga memesan makanan dan memuji cita rasa menu magelangan. Selain melayani pembelian harian, Dapur Mas To menerima pesanan khusus dalam jumlah besar untuk kebutuhan arisan maupun kantor, dengan ketentuan konfirmasi minimal dua hari sebelumnya.
Mas To menyatakan prinsip “harga merakyat kualitas pejabat” sebagai pegangan untuk bertahan di tengah persaingan kuliner. Sementara itu, Rahmadian menekankan bahwa konsistensi dan kemauan kuat untuk terus berkembang secara mandiri menjadi kunci bagi pelaku UMKM.
Melalui pembahasan di program radio tersebut, transformasi Dapur Mas To dinilai memberi inspirasi bagi masyarakat, termasuk para perantau di Kota Padang, untuk berani memulai usaha dan terus berinovasi dalam mengembangkan produk kuliner lokal.