Alpukat menjadi salah satu buah yang banyak diminati untuk ditanam di pekarangan rumah. Namun, menunggu pohon alpukat berbuah membutuhkan kesabaran. Mengacu pada keterangan dari pertanianmagelangkota.go.id, tanaman ini umumnya baru mulai belajar berbuah setelah berusia sekitar empat tahun.
Di luar masa tunggu itu, tantangan yang sering dikeluhkan pekebun rumahan adalah bunga yang rontok sebelum berkembang menjadi bakal buah. Tidak jarang pohon tampak berbunga lebat, tetapi sebagian besar bunganya gugur sehingga hasil panen tidak maksimal.
Masalah tersebut juga dialami pengelola kanal YouTube YAD GARDEN. Ia menyebut bunga alpukat pada tanamannya sempat banyak berguguran, sehingga buah yang jadi hanya sedikit. “Bunganya berbuah sih, cuma ya paling jadinya seperti dua sampai tiga biji. Sisanya berguguran sampai hampir 100%, jadinya panennya juga nggak maksimal,” ujarnya, dikutip Jumat (6/3/2026).
Untuk mengatasi kerontokan bunga, ia membagikan cara perawatan menggunakan bumbu dapur berupa micin (MSG). Menurutnya, metode ini ditujukan agar lebih banyak bunga bertahan dan berpeluang menjadi buah. “Ya, ini biar bunga alpukat nggak rontok jadi minimal 70% bunga bisa berubah jadi buah nantinya,” katanya.
Metode tersebut disarankan dilakukan ketika pohon menunjukkan tanda akan berbunga atau sebelum bunga mekar sempurna. Tahapannya dimulai dengan mencari bagian akar yang mudah dijangkau, lalu membuat sayatan kecil pada permukaan kulit akar.
Setelah itu, micin ditaburkan secukupnya pada bagian akar yang telah disayat, dengan tujuan agar kandungannya terserap melalui sistem pembuluh tanaman. Tahap terakhir, area sayatan ditutup kembali menggunakan tanah. Penutupan ini disebut penting agar micin tidak mudah terbawa air saat hujan. “Atasnya kita tutup pakai tanah seperti ini, ini sangat bagus biar micinnya nggak kebawa air kalau hujan turun,” jelasnya.
Terkait alasan penggunaan micin, informasi dari netmeds.com menyebut micin mengandung unsur potasium (kalium) yang cukup tinggi. Dalam praktik pertanian, kalium kerap dikaitkan dengan penguatan tangkai bunga dan dukungan proses pembentukan buah. Dengan nutrisi yang lebih stabil, kerontokan bunga diharapkan dapat ditekan.
Dalam penjelasan yang dibagikan, takaran micin disebut menyesuaikan ukuran pohon. Untuk pohon dewasa, sekitar satu hingga dua sendok makan dapat disebar di beberapa titik akar. Metode sayat akar juga diingatkan agar dilakukan tipis dan hanya pada kulit akar, bukan memotong putus akar utama.
Waktu penerapan yang disebut paling efektif adalah memasuki musim kemarau menjelang musim bunga, atau ketika tunas bunga mulai terlihat di ujung ranting. Sementara itu, micin tidak disarankan diganti dengan garam dapur karena kandungan natrium klorida berisiko merusak struktur tanah jika digunakan berlebihan.
Selain upaya menekan bunga rontok, perawatan lain yang turut disarankan mencakup pemenuhan kebutuhan air tanpa membuat tanah tergenang serta pemangkasan cabang yang terlalu rimbun agar sinar matahari dapat masuk ke bagian dalam tajuk pohon.

