BERITA TERKINI
BTN Cabang Gresik Dorong Pelaku Usaha Kuliner Tingkatkan Daya Saing Lewat Digitalisasi

BTN Cabang Gresik Dorong Pelaku Usaha Kuliner Tingkatkan Daya Saing Lewat Digitalisasi

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Cabang Gresik mengajak pelaku usaha kuliner meningkatkan daya saing melalui pengembangan bisnis dan digitalisasi transaksi. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Talk Show dan Business Mingle bertema “Naik Kelas Bersama Strategi Bisnis Kuliner, Pengembangan dan Digitalisasi”.

Acara digelar di Auditorium Icon Mall Gresik, Rabu (28/10/2026), dengan sekitar 40 undangan yang terdiri dari tenant Icon Mall, pelaku usaha restoran, serta pengusaha kafe di Kabupaten Gresik.

Talk show menghadirkan Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur Ferry Setiawan, Emerging Affluent Business Department Head BTN Mario Sabato, Regional Retail Lending & SME Business Head BTN Wahju Indrawan, serta Regional Digital Retail Head BTN Edith Setia Gibanjar.

Kepala Cabang BTN Gresik Andy Tommy Triyono menyebut tema kegiatan dinilai relevan dengan momentum peringatan hari jadi Icon Mall Gresik. Ia menekankan peran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya sektor kuliner, dalam menggerakkan perekonomian.

“UMKM sangat berkontribusi dengan pergerakan ekonomi. Bisnis kuliner sangat dinamis. Tidak hanya menjaga rasanya, tetapi kita perlu ada pengembangan, termasuk digitalisasinya,” ujar Andy.

Andy menegaskan BTN siap menjadi mitra pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha melalui pembinaan maupun dukungan pembiayaan. Ia menyebut fasilitas kredit dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dapat dimanfaatkan sesuai ketentuan yang berlaku.

BTN juga berharap kegiatan ini menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk bertukar pengalaman, membahas kendala bisnis, serta memperoleh wawasan strategi pengembangan usaha di tengah persaingan yang semakin ketat.

“Kami berharap bisa connect, bisa saling berbagi kendalanya apa, kiat-kiatnya apa. Jangan lupa jadi mitra BTN Gresik,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Wahju Indrawan menjelaskan BTN tidak hanya berfokus pada pembiayaan kepemilikan rumah atau kredit pemilikan rumah (KPR). Menurutnya, BTN memiliki beragam produk perbankan yang dapat dimanfaatkan masyarakat sesuai kebutuhan pada setiap tahap kehidupan.

“BTN lebih dikenal dengan pembiayaan KPR, tetapi program kita banyak. Ada tabungan anak, mahasiswa pun ada. Kalau sudah kerja bisa pakai agunan rumah, dan lainnya,” jelas Wahju.

Ia menambahkan BTN berupaya membangun ekosistem layanan keuangan yang menjangkau berbagai kelompok, mulai dari anak-anak, mahasiswa, pekerja, keluarga, hingga masyarakat yang memasuki masa pensiun. Pendekatan tersebut diharapkan membuat layanan BTN lebih dekat dengan kebutuhan nasabah, termasuk pelaku UMKM yang membutuhkan layanan transaksi dan pembiayaan untuk mengembangkan usaha.

Sementara itu, Edith Setia Gibanjar menyoroti pentingnya digitalisasi dalam merespons perubahan perilaku konsumen dan perkembangan teknologi yang cepat. Menurutnya, perbankan dan pelaku usaha perlu terus beradaptasi.

“Perkembangan digital itu sangat cepat sekali. Kalau kita sebagai bank tidak catch up dengan perkembangan itu, secara bisnis ataupun market pasti akan kalah dengan beberapa pesaing kita, baik itu swasta ataupun yang lain,” ujarnya.

Edith mencontohkan pergeseran transaksi dari penggunaan uang tunai menuju pembayaran digital melalui kode QR. Ia menilai pembayaran digital dapat membantu pelaku usaha mengelola transaksi secara lebih praktis sekaligus memudahkan pencatatan keuangan. Ia juga menyebut dalam sejumlah kegiatan, transaksi bahkan telah dilakukan sepenuhnya melalui QR, sehingga pencatatan lebih tertib dan kebutuhan penanganan uang tunai berkurang.

Untuk mendukung kebutuhan pelaku usaha, BTN menyediakan layanan Bale Merchant yang memungkinkan pemilik usaha memantau transaksi pembayaran QR secara real time. “Ketika transaksi pakai QR, report-nya langsung real time kelihatan,” jelasnya.

BTN juga memperkenalkan Bale F&B, layanan yang dirancang untuk membantu pengelolaan usaha makanan dan minuman seperti restoran, food court, kafe, hingga cloud kitchen yang melayani pemesanan daring. Melalui layanan tersebut, pelanggan dapat memindai kode QR di meja, memilih menu, dan melakukan pembayaran, lalu pesanan diteruskan ke bagian dapur.

Menurut Edith, sistem ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional masing-masing usaha, baik menggunakan alur pemesanan melalui meja maupun melalui kasir, dengan pesanan yang terhubung langsung ke dapur. Bale F&B juga menyediakan fitur pencatatan dan rekapitulasi transaksi, termasuk laporan keuangan berupa laba rugi atau profit and loss (P&L), sehingga pelaku usaha diharapkan lebih mudah memantau kinerja bisnis tanpa pencatatan manual.

Edith menyatakan BTN membuka peluang pembahasan lebih lanjut dengan pelaku usaha terkait kebutuhan sistem, perangkat, dan skema kerja sama yang bisa disesuaikan dengan operasional bisnis. “Kita akan support Bapak Ibu, kira-kira sistemnya seperti apa. Kita nanti bisa bicarakan,” katanya.

Melalui talk show dan business mingle tersebut, BTN Gresik berharap pelaku usaha kuliner tidak hanya menjaga kualitas produk, tetapi juga memperkuat pengelolaan bisnis, memanfaatkan teknologi digital, serta membangun ekosistem usaha yang lebih kompetitif.