BERITA TERKINI
BRIN dan UNITRI Petakan Pariwisata Gastronomi Malang, Kuliner Lokal Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi

BRIN dan UNITRI Petakan Pariwisata Gastronomi Malang, Kuliner Lokal Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi

Kota Malang mulai dipandang memiliki potensi lebih dari sekadar kota pendidikan atau daerah persinggahan menuju destinasi wisata di Malang Raya. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini membidik gastronomi berbasis kekayaan lokal serta rantai pangan masyarakat sebagai kekuatan baru untuk pengembangan pariwisata.

Pemetaan potensi tersebut dilakukan melalui riset kolaboratif BRIN bersama Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang. Riset ini tidak hanya menyoroti makanan khas, tetapi juga menautkan kuliner dengan sejarah, budaya, pertanian, pelaku UMKM, hingga sektor perhotelan agar terbentuk ekosistem wisata yang berkelanjutan.

Pembahasan riset mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengumpulan Data yang digelar BRIN di UNITRI, Rabu (26/8/2026). Kajian ini merupakan bagian dari penelitian Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri (PRPDN) pada Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, bertema “Model Tata Kelola Kolaboratif untuk Pengembangan Pariwisata Gastronomi Berkelanjutan yang Memperkuat Rantai Pangan Lokal.”

Ketua Tim Riset BRIN, Suci Emilia Fitri, MPA, menjelaskan Malang dipilih karena posisinya strategis di kawasan Malang Raya. Kota Malang berada di antara Kabupaten Malang dan Kota Batu, sehingga dinilai memiliki peluang berkembang sebagai kota transit sekaligus pusat pariwisata perkotaan.

Menurut Suci, tim BRIN sebelumnya banyak melakukan riset di Lombok selama sekitar tiga tahun. Seiring perkembangan kajian, Kota Malang dinilai memiliki potensi yang tidak kalah menarik untuk diteliti, terutama dari sisi gastronomi. “Malang ini kita analogikan sebagai kota transit dan akan berkembang pariwisata perkotaannya,” kata Suci.

Ia menambahkan, fokus pada gastronomi juga didorong besarnya porsi belanja wisatawan di sektor kuliner. Suci menyebut sekitar 70 persen pengeluaran wisatawan berkaitan dengan konsumsi makanan. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kuliner dapat berperan sebagai penggerak ekonomi masyarakat, bukan sekadar pelengkap perjalanan wisata.

Dalam riset ini, BRIN menggandeng UNITRI untuk memperkuat kajian dari perspektif akademis. Kolaborasi tersebut ditargetkan menghasilkan konsep yang dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah. Suci berharap hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, melainkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Kota Malang dalam menyusun program serta kebijakan pengembangan pariwisata.

Di sisi lain, Dekan FISIP UNITRI, Dr. Agung Suprojo, S.Kom., M.AP., menyampaikan kerja sama ini merupakan tindak lanjut nota kesepahaman antara BRIN dan FISIP UNITRI. Ia menjelaskan penelitian tahun ini diarahkan pada bidang humaniora dengan menggali potensi yang tumbuh dan berkarakter lokal di wilayah Malang Raya, meski tahap pertama difokuskan pada Kota Malang.

Agung menilai konsep gastronomi yang dikembangkan lebih luas dibanding sekadar makanan khas. Di dalamnya terdapat sejarah, cerita, budaya, pertanian, proses produksi, hingga kehidupan masyarakat yang membentuk identitas suatu daerah. Karena Kota Malang diposisikan sebagai kota transit, tantangannya adalah bagaimana wisatawan yang hanya singgah tetap memperoleh pengalaman khas Malang.

Salah satu gagasan yang muncul ialah memasukkan kuliner lokal ke dalam layanan hotel, termasuk hotel berbintang. Makanan seperti orem-orem, rujak, dan es santen dapat dikemas sebagai sajian khas bagi wisatawan sekaligus dilengkapi narasi mengenai sejarah dan asal-usulnya. “Orang berkunjung ke Malang, transit tinggal di Malang, dengan membayar biaya per hotelnya itu, sudah ada konsumsi yang khas Malang. Kemudian di tiap hotel itu juga bercerita tentang makanan itu, riwayatnya apa,” ujar Agung.

Menurutnya, jika kuliner lokal masuk ke dalam rantai industri pariwisata, peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil dapat terbuka lebih luas. Produk yang selama ini menjadi konsumsi harian berpotensi berkembang sebagai produk wisata yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membawa cerita budaya. “Tidak sebagai makanan sajian sehari-hari, tetapi sebagai sajian wisata di hotel-hotel itu,” tegasnya.

Selain kuliner, tim riset juga akan menggali potensi sektor pertanian dan ekonomi masyarakat yang dapat diintegrasikan dengan pariwisata. Beberapa potensi yang disebut antara lain wisata petik sayur, petik buah, petik bunga, pengolahan keripik, serta berbagai bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. UNITRI juga menyiapkan jaringan mitra untuk penggalian data, termasuk Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), kelompok pemberdayaan ekonomi, dan pelaku usaha di kawasan Malang Raya.

Agung menekankan tantangan utama bukan hanya menemukan potensi lokal, melainkan membangun model tata kelola yang mampu menghubungkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. Karena itu, rekomendasi yang dihasilkan diharapkan lebih konkret untuk pembangunan pariwisata di tiga wilayah Malang Raya: Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.

Riset ini dirancang berlangsung lebih dari satu tahun. Tahun pertama difokuskan pada Kota Malang sebagai kota transit dan pusat pariwisata perkotaan, lalu diperluas ke Kota Batu dan Kabupaten Malang. Dalam kurun empat tahun penelitian, BRIN dan mitra akademiknya menargetkan lahirnya formulasi pengembangan pariwisata Malang Raya yang lebih terintegrasi, dengan kuliner, sejarah, budaya, pertanian, dan pelaku ekonomi masyarakat sebagai satu kesatuan produk wisata yang berdampak langsung bagi warga.