SURABAYA — Kuliner lokal dinilai memiliki potensi besar tidak hanya sebagai sajian khas daerah, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi kreatif dan pembuka peluang usaha. Karena itu, pelaku usaha kuliner didorong memperkuat berbagai aspek usaha, mulai dari inovasi produk, penguatan merek, kualitas rasa, kemasan, hingga akses permodalan agar mampu berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.
Upaya tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Ekonomi Kreatif bertema Inovasi Kuliner Lokal untuk Usaha yang diinisiasi DPR RI Komisi VII bersama Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Kegiatan ini diikuti sekitar 70 peserta dengan harapan dapat mengembangkan usaha kuliner secara profesional dan berkelanjutan.
Kapoksi Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono, menegaskan sektor kuliner memegang peran strategis dalam ekonomi kreatif. Ia menyebut kuliner termasuk subsektor dengan kontribusi besar terhadap perekonomian, selain fesyen dan kriya.
“Kita melakukan bimbingan teknis tentang kuliner, karena kuliner menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam ekonomi kreatif,” kata Bambang Haryo, Jumat (23/9/2026).
Ia berharap pelatihan ini tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, melainkan menjadi langkah awal lahirnya pengusaha kuliner yang tangguh. Menurutnya, pelaku usaha dapat memulai dari skala kecil, lalu berkembang menjadi usaha menengah hingga berpeluang menjadi perusahaan besar.
Bambang menilai pelaku UMKM memerlukan pendampingan yang menyentuh berbagai aspek, seperti kualitas produk, kelengkapan perizinan, cita rasa, kemasan, serta strategi pemasaran digital. Ia menekankan, perhatian pada unsur-unsur tersebut penting agar produk kuliner lokal tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga mampu bersaing dengan daerah lain.
“UMKM harus mempunyai kualitas yang baik, perizinannya lengkap, dan rasa serta kemasannya juga diperhatikan. Dengan begitu, UMKM kita bisa berdaya saing dengan kota-kota lain,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti kebutuhan dukungan permodalan, termasuk peluang memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sesuai ketentuan yang berlaku. Menurutnya, akses modal yang diiringi peningkatan kualitas produk dan promosi dapat membantu UMKM memperluas pasar sekaligus memperkuat daya saing.
Bambang juga mengaitkan pengembangan kuliner dengan sektor pariwisata. Ia menilai kekayaan makanan khas daerah dapat menjadi daya tarik wisata, sementara meningkatnya kunjungan wisata berpotensi memperluas pasar bagi pelaku usaha kuliner. Karena itu, ia mendorong kolaborasi antara pelaku kuliner, pemerintah, sektor pariwisata, dan pihak pendukung promosi agar pengembangan ekonomi kreatif tidak berjalan sendiri-sendiri.
Dari pemerintah kota, Sekretaris Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Surabaya, Irwan Andeska Machmudi, menilai inovasi dapat menjadi cara memperluas pasar kuliner tradisional. Ia mencontohkan rawon, rujak cingur, dan lontong balap sebagai makanan khas Surabaya yang memiliki identitas rasa dan karakter tersendiri.
Menurut Irwan, pembaruan dapat dilakukan pada tampilan maupun penyajian agar lebih menarik, tanpa menghilangkan ciri khas. “Bisa ada sedikit inovasi tampilan, tetapi jangan sampai ciri khasnya hilang,” katanya.
Irwan menambahkan, pemerintah kota menyiapkan peluang penyelenggaraan sejumlah kegiatan pada 2027 yang dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan dan mempromosikan kuliner lokal. Ia berharap agenda semacam itu membuka ruang promosi bagi pelaku usaha, mempertemukan produk dengan konsumen baru, serta memperkuat posisi kuliner Surabaya sebagai bagian dari identitas budaya kota.
Sementara itu, Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Amir Hamzah, menjelaskan bimtek ini merupakan bentuk kolaborasi dengan DPR RI untuk melihat dan mengembangkan potensi ekonomi kreatif daerah, khususnya sektor kuliner Surabaya.
Amir menilai pelaku kuliner Surabaya pada dasarnya telah memiliki kemampuan mengolah makanan. Karena itu, pengembangan yang dibutuhkan tidak hanya pada keterampilan memasak, melainkan juga bagaimana membangun merek dan meningkatkan nilai ekonomi produk.
“Yang kita dorong adalah bagaimana merek-merek kuliner yang ada di Surabaya ini bisa menembus pasar nasional, bahkan internasional,” ujarnya.
Ia mencontohkan rujak cingur serta produk oleh-oleh khas Surabaya seperti spikoe yang telah dikenal masyarakat luar daerah. Namun, untuk memperluas jangkauan pasar, pelaku usaha perlu memperhatikan kekuatan branding, desain kemasan, kualitas produk, serta daya tahan produk selama penyimpanan dan distribusi, mengingat pasar nasional dan internasional memiliki kebutuhan dan standar yang beragam.
Amir menyebut Kementerian Ekonomi Kreatif akan melihat potensi produk kuliner yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Setelah produk dan merek potensial teridentifikasi, penguatan promosi dapat dilakukan melalui kolaborasi dengan DPR RI dan pihak terkait.
Melalui bimtek ini, para pemangku kepentingan berharap penguatan kapasitas pelaku usaha kuliner di Surabaya dapat berjalan beriringan—mulai dari pelatihan, inovasi, pembenahan kemasan, penguatan merek, pemasaran digital, hingga dukungan pembiayaan—agar manfaatnya berkelanjutan. Tantangan berikutnya adalah memastikan pelaku UMKM mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh ke dalam praktik usaha sehari-hari.