Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan pentingnya pendekatan gizi yang berkelanjutan sepanjang siklus kehidupan untuk menjaga kualitas sumber daya manusia serta mengamankan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Penegasan tersebut disampaikan dalam talk show Pekan Gizi 2026.
Dalam kegiatan itu, Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Ir. Dodi Iswar, PhD, menyampaikan bahwa Indonesia berada pada fase demografi yang menuntut kebijakan gizi yang visioner. Ia menilai komposisi penduduk balita dan lansia yang relatif seimbang menjadi sinyal perlunya pengelolaan gizi lintas usia agar tidak memunculkan beban kesehatan di masa depan.
“Kita melihat saat ini jumlah balita dan lansia hampir sama besar. Kalau kondisi ini tidak di-maintain dengan baik, maka yang terjadi adalah peningkatan beban penyakit dan penurunan produktivitas penduduk,” ujar Ir. Dodi di Jakarta, (21/01).
Ia menjelaskan, gizi berperan besar dalam menjaga kecerdasan, produktivitas, dan kualitas hidup, tidak hanya pada masa kanak-kanak, tetapi juga pada fase remaja dan usia produktif. Menurutnya, kegagalan menjaga asupan gizi secara konsisten dapat memunculkan dampak jangka panjang, termasuk meningkatnya penyakit tidak menular ketika memasuki usia lanjut.
“Yang kita jaga sebenarnya adalah produktivitas. Kalau sejak anak, remaja, sampai dewasa gizinya tidak diperhatikan, maka dampaknya baru terasa ketika mereka memasuki usia kerja dan lansia,” katanya.
Ir. Dodi juga menyoroti konsep physical growth yang dipengaruhi oleh lingkungan dan pola konsumsi. Ia mencontohkan bahwa perbaikan kualitas pangan dan lingkungan dapat mendorong pertumbuhan serta kesehatan yang lebih optimal.
“Pertumbuhan fisik itu sangat dipengaruhi oleh makanan dan lingkungan. Kalau kualitas gizinya baik dan berkelanjutan, maka kualitas hidupnya juga akan jauh lebih baik,” ujarnya.
Dalam pembentukan kebiasaan makan sehat, keluarga dinilai menjadi aktor paling krusial. Ir. Dodi menyebut berbagai program pemenuhan gizi yang dijalankan pemerintah perlu mendorong perubahan perilaku makan di tingkat rumah tangga agar dampaknya lebih bertahan.
“Program gizi pada akhirnya adalah soal perubahan perilaku. Ketika masyarakat sudah memahami dan membiasakan pola makan seimbang di rumah, maka hasilnya akan lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, BGN menyatakan terus memperkuat Program Pemenuhan Gizi dan Makan Bergizi (MBG) dengan menekankan pemanfaatan pangan lokal yang beragam, peningkatan kualitas menu, serta edukasi gizi bagi kelompok usia anak, remaja, dan keluarga.
Melalui Pekan Gizi 2026, BGN menegaskan komitmennya memperkuat pendekatan gizi sepanjang siklus kehidupan sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan produktivitas, menekan beban penyakit, dan mewujudkan generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.