Aktivitas di stan jajanan serba Rp10 ribu milik Ayu di kawasan Jalan TB Suwandi, Ciracas, Kota Serang, sudah dimulai sejak pagi buta. Pada pukul 05.30 WIB, pembeli mulai berdatangan untuk mencari sarapan sebelum menjalani rutinitas harian.
Di balik ramainya pelanggan, Ayu, 34 tahun, merintis usaha tersebut dari langkah sederhana. Ia adalah ibu rumah tangga dengan tiga putra, sekaligus aktif sebagai ibu RT. Usaha yang kini berkembang hingga memiliki sejumlah cabang di Kota Serang itu bermula dari pengamatan Ayu terhadap lingkungan terdekatnya.
Perjalanan Ayu dimulai pada awal 2026. Dalam berbagai kesempatan berkumpul bersama warga, ia kerap mendengar cerita dan menyerap masukan dari para ibu rumah tangga. Dari pertemuan itu, Ayu melihat adanya potensi yang belum tersalurkan: sejumlah ibu memiliki keterampilan membuat kue basah, menyiapkan nasi, dan mengolah makanan, tetapi membutuhkan tempat untuk menjualnya.
Ayu kemudian mencoba menjembatani kebutuhan tersebut dengan membuka usaha jajanan berharga terjangkau. Ia memanfaatkan teras tempat usaha suaminya sebagai titik awal berjualan. Berbagai produk kuliner dari para ibu rumah tangga dititipkan kepadanya untuk dipasarkan, mulai dari kue basah hingga menu sarapan. Seluruh dagangan dijual dengan harga seragam Rp10 ribu.
“Waktu itu saya sering kumpul-kumpul dengan ibu-ibu, banyak yang gabut lah, jadi terus saya ajak usaha yang bisa bikin kue basah atau yang lainnya, saya bagian jual, hanya ambil Rp1000/bungkusnya,” kata Ayu, Rabu, 28 Oktober 2026.
Selain menjadi upaya menambah penghasilan, pola kerja sama tersebut memberi ruang bagi para ibu rumah tangga untuk memperkenalkan produk kepada lebih banyak pembeli. Ayu membangun usahanya dengan mengandalkan kerja sama dan kepercayaan dari lingkungan sekitar.
Seiring waktu, usaha yang berawal dari teras itu berkembang. Ayu membuka sejumlah cabang di beberapa lokasi di Kota Serang dan membutuhkan tenaga kerja untuk membantu operasional harian.
Salah satu karyawan yang bergabung adalah Mirza, lulusan SMA yang telah bekerja selama empat bulan sebagai penjaga stan jajanan dan sarapan Ayu di Jalan TB Suwandi. Menurut Mirza, pekerjaan tersebut memberinya kesempatan mengenal dunia usaha secara langsung, termasuk melayani pelanggan yang datang silih berganti.
Mirza menyebut pembeli ramai sejak stan dibuka pukul 05.30 WIB hingga sekitar pukul 10.00 WIB. “Kalau pagi, pembelinya ramai sekali. Sejak buka pukul setengah enam sampai sekitar pukul sepuluh, pembeli seperti tidak pernah putus,” ujarnya.
Di sela kesibukan, Mirza mengaku belajar tentang kedisiplinan. Ia pernah ditegur Ayu dan diminta pulang karena datang terlambat. Pengalaman itu, menurut Mirza, menjadi pelajaran tentang pentingnya menghargai waktu, terutama karena bisnis sarapan memiliki jam penjualan yang terbatas.
Ayu berharap pengalamannya dapat menjadi dorongan bagi ibu rumah tangga maupun generasi muda yang ingin memulai usaha. Ia menekankan bahwa langkah awal tidak harus besar. “Jangan takut untuk mencoba. Kalau kita punya kemauan dan mau berusaha, peluang bisa kita manfaatkan. Mulai saja dari apa yang kita punya,” ujar Ayu.
Dari teras sederhana hingga berkembang menjadi beberapa cabang, usaha sarapan serba Rp10 ribu yang dirintis Ayu menjadi ruang bertemunya berbagai kepentingan: para pembuat makanan rumahan yang ingin produknya dikenal, karyawan muda yang belajar mandiri, serta seorang ibu yang mengubah peluang sederhana menjadi sumber penghidupan.