BERITA TERKINI
Berawal dari Gerobak di Sleman, Dimsum Kim Kini Produksi 200–300 Kg per Hari

Berawal dari Gerobak di Sleman, Dimsum Kim Kini Produksi 200–300 Kg per Hari

Usaha dimsum rumahan di pinggiran Sleman, Yogyakarta, berkembang menjadi produsen dengan kapasitas produksi 200–300 kilogram per hari. Bisnis bernama Dimsum Kim ini dibangun sejak 2019 oleh Tita Wuri Prihatining Tias bersama suaminya, berangkat dari skala kecil hingga kini didukung sekitar 30 karyawan.

Perkembangan Dimsum Kim tidak hanya ditopang oleh produk, tetapi juga strategi pemasaran digital, upaya menjaga konsistensi rasa, serta kemitraan dengan reseller. Kombinasi faktor tersebut membantu usaha menjangkau pasar yang lebih luas meski lokasi awalnya jauh dari pusat keramaian.

Dimsum Kim dirintis ketika Tita masih kuliah dan suaminya baru mulai bekerja. Saat itu, dimsum mulai populer, tetapi belum banyak tersedia di sekitar tempat tinggal mereka. Konsumen yang ingin membeli dimsum harus pergi ke pusat kota.

Melihat peluang tersebut, keduanya memutuskan membuat dan menjual dimsum sendiri. Mereka memanfaatkan meja bekas yang direnovasi menjadi gerobak, serta menggunakan peralatan dapur yang sudah tersedia. Pada masa awal, produksi hanya sekitar 2 kilogram per hari. Penjualan pertama datang dari teman-teman, kemudian bertambah seiring munculnya pelanggan baru.

Permintaan yang meningkat membuat mereka mulai menerima pesanan dalam jumlah besar dan melayani reseller. Usaha yang semula dijalankan berdua kemudian berkembang menjadi bisnis dengan puluhan karyawan.

Salah satu kunci pertumbuhan Dimsum Kim adalah pemanfaatan media sosial. Menyadari lokasi usaha yang tidak berada di pusat keramaian, Tita berupaya menjangkau konsumen di wilayah perkotaan melalui pemasaran online.

Promosi dilakukan lewat Facebook Marketplace dengan mengunggah foto produk dan melakukan posting secara rutin. Platform tersebut dipilih karena dianggap memiliki pasar yang luas, dari kalangan orang tua hingga usia produktif. Ketika TikTok mulai berkembang, Dimsum Kim juga memanfaatkan platform tersebut untuk memperkenalkan produknya kepada calon pelanggan yang lebih banyak.

Strategi digital membantu memperluas jangkauan pasar di luar lingkungan sekitar. Untuk mendukung distribusi, Tita menyediakan kurir sendiri karena biaya pengiriman melalui layanan ojek online dinilai cukup mahal bagi sebagian pelanggan.

Selain pemasaran, Dimsum Kim menekankan konsistensi rasa dan kualitas produk. Tita berupaya mempertahankan cita rasa agar pelanggan tetap puas, sekaligus menjaga harga tetap terjangkau meski harga bahan baku mengalami kenaikan.

Kebijakan tersebut juga mempertimbangkan kebutuhan reseller sebagai mitra penjualan. Dengan harga yang memungkinkan mitra memperoleh keuntungan, kerja sama dapat berjalan lebih berkelanjutan. Tita menilai keberhasilan usaha tidak hanya dari keuntungan pribadi, tetapi juga dari kesempatan yang diberikan kepada mitra dan karyawan untuk memperoleh penghasilan.

Dalam perjalanannya, Dimsum Kim sempat menghadapi tantangan pada masa pandemi COVID-19. Usaha ini sempat berhenti beroperasi sekitar satu bulan karena kondisi kesehatan keluarga dan pembatasan aktivitas masyarakat. Setelah melewati masa tersebut, Tita dan suaminya kembali menjalankan bisnis.

Dari produksi awal sekitar 2 kilogram per hari, Dimsum Kim kini mampu menghasilkan 200–300 kilogram per hari dengan dukungan sekitar 30 karyawan. Kisah ini menunjukkan pengembangan bisnis kuliner tidak hanya bergantung pada rasa, tetapi juga pemahaman pasar, pemasaran digital, konsistensi kualitas, pengelolaan modal, serta kemampuan membangun kemitraan.