Perjalanan menuju kemandirian tidak selalu dimulai dari kondisi yang mudah. Bagi Zahratun Naimah, perempuan muda asal Martapura, Kalimantan Selatan, pengalaman menjadi korban penipuan online justru menjadi titik balik untuk membangun usaha sendiri di bidang kuliner.
Berbekal kegemaran memasak yang telah lama ia tekuni, Zahra merintis usaha jajanan bernama Kedai Cirebu. Dari aktivitas yang awalnya hanya hobi, ia melihat peluang untuk mengembangkannya menjadi sumber penghasilan yang lebih serius dan berkelanjutan.
“Awalnya memang dari hobi memasak. Seiring berjalannya waktu, saya melihat bahwa hobi ini memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha yang lebih serius dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kedai Cirebu mulai dirintis sejak 2018. Namun, Zahra baru mengambil langkah pengembangan yang lebih serius pada 2024, saat ia memberanikan diri membuka stan agar bisa menjangkau lebih banyak pelanggan.
Ia menilai jajanan kekinian memiliki pasar yang menjanjikan, terutama di kalangan pelajar dan anak muda di Martapura. Produk yang ditawarkan antara lain cireng, cimol, dan dimsum. Zahra juga berupaya menjaga agar camilan yang dijual tetap terjangkau dan sesuai selera pasar, sehingga bisa menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin menikmati jajanan tanpa mengeluarkan biaya besar.
Seiring waktu, usaha tersebut menunjukkan perkembangan. Saat ini, Kedai Cirebu telah memiliki dua lokasi di Martapura. Lokasi pertama berada di halaman Indomaret Alun-Alun Martapura, sedangkan lokasi kedua berada di seberang Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Bagi Zahra, bertambahnya lokasi bukan semata soal memperluas tempat berjualan, melainkan pencapaian dari proses panjang membangun usaha yang berawal dari kegemaran memasak.
Dalam strategi pengembangan, Zahra menjadikan cireng sebagai produk utama sejak awal. Ia menilai jajanan dengan harga terjangkau dan bisa dinikmati berbagai kalangan memiliki peluang pasar yang baik di Martapura. Selain menghadirkan berbagai varian rasa, ia juga memanfaatkan media sosial untuk pemasaran.
Salah satu strategi yang dilakukan adalah membuat video konten, terutama melalui TikTok di akun @Kaka_cireng. Menurutnya, beberapa video yang diunggah sempat viral dan berdampak pada peningkatan penjualan secara signifikan hingga pesanan membludak.
Dari pengalaman tersebut, Zahra melihat media sosial memiliki potensi besar untuk membantu pelaku UMKM memperkenalkan produk dan menjangkau pelanggan lebih luas. Ia menilai pemasaran tidak selalu harus dilakukan lewat promosi berbayar atau membuka toko di banyak tempat, namun perlu diimbangi kesiapan produksi dan pelayanan agar kualitas tetap terjaga saat permintaan meningkat.