SURABAYA — Sektor kuliner disebut menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi ekonomi kreatif nasional, melampaui sektor busana (fashion) dan kerajinan tangan (kriya). Kondisi ini dinilai mempertegas pentingnya penguatan mutu produk serta perluasan strategi pemasaran.
Pernyataan tersebut disampaikan Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono saat membuka pelatihan Bimbingan Teknis Ekonomi Kreatif Bidang Kuliner di Surabaya, Jumat. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Ekonomi Kreatif dan diikuti puluhan pelaku UMKM setempat.
“Kuliner ini yang terbesar. Yang kedua fashion, yang ketiga kriya. Kita harapkan bimtek ini diikuti dengan baik sehingga peserta bisa menjadi pengusaha-pengusaha yang handal, mulai dari kecil, menengah, hingga menjadi pengusaha besar di bidang kuliner,” kata Bambang yang juga menjabat Ketua Kelompok Fraksi Komisi VII DPR RI.
Menurut Bambang, kekuatan kuliner lokal berkaitan erat dengan daya tarik pariwisata daerah. Hidangan khas dinilai dapat mendorong kunjungan wisatawan, sehingga keterpaduan antara kuliner dan pariwisata disebut penting untuk meningkatkan pendapatan daerah.
Ia mengimbau para pelaku usaha memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari kelengkapan izin usaha, konsistensi rasa, estetika kemasan, hingga pemanfaatan pemasaran digital. Pemerintah, kata dia, juga menyiapkan perlindungan melalui Satgas UMKM serta akses permodalan KUR hingga Rp100 juta tanpa agunan dengan bunga 8 persen per tahun.
Dukungan terhadap langkah tersebut disampaikan Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Amir Hamzah. Ia menyebut pihaknya berfokus mendampingi peningkatan mutu kuliner khas Surabaya, seperti rujak cingur dan spikoe, agar semakin kompetitif.
“Kuliner seperti rujak cingur dan spikoe telah dikenal luas. Namun, penguatan merek, kemasan, dan daya tahan produk masih menjadi faktor penting untuk memperluas jangkauan pemasaran,” ujar Amir.