BERITA TERKINI
Babinsa Tanjung Aur Sebrang Edukasi Warga soal Pencegahan Stunting, Tekankan Peran Orang Tua dan Gizi Seimbang

Babinsa Tanjung Aur Sebrang Edukasi Warga soal Pencegahan Stunting, Tekankan Peran Orang Tua dan Gizi Seimbang

TEBO – Upaya pencegahan stunting dinilai tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Peran keluarga, terutama orang tua, menjadi kunci untuk memastikan anak memperoleh asupan gizi yang memadai dan tumbuh sesuai tahapan perkembangan.

Hal itu disampaikan Babinsa Desa Tanjung Aur Sebrang, Koramil 416-04/Pulau Temiang, Kopka Sutanto, saat melaksanakan kegiatan edukasi pencegahan dan pengurangan risiko stunting di wilayah binaannya, Selasa (01/09/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Kopka Sutanto mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi anak. Edukasi itu disebut sebagai bentuk dukungan Babinsa terhadap program pemerintah untuk menekan angka stunting di wilayah binaan.

Menurutnya, stunting perlu dicegah sejak dini melalui pola hidup sehat, pemenuhan gizi seimbang, serta perhatian orang tua terhadap kondisi pertumbuhan anak. “Orang tua memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Dengan memberikan makanan yang bergizi dan memperhatikan kesehatan anak secara rutin, diharapkan risiko stunting dapat ditekan,” ujarnya.

Ia menekankan, makanan bergizi dan seimbang menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Karena itu, orang tua diharapkan tidak hanya memperhatikan jumlah makanan yang diberikan, tetapi juga kualitas serta keberagaman kandungan gizinya.

Selain pemenuhan gizi, pemantauan pertumbuhan anak secara berkala juga dinilai perlu dilakukan. Warga diminta memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila menemukan persoalan terkait pertumbuhan maupun kesehatan anak.

Kopka Sutanto turut mengingatkan bahwa pencegahan stunting bukan persoalan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Upaya ini membutuhkan perhatian sejak masa kehamilan hingga periode pertumbuhan anak, dengan keterlibatan berbagai pihak.

Dalam konteks tersebut, keluarga disebut sebagai lingkungan pertama yang membentuk kebiasaan makan, kebersihan, serta pola pengasuhan anak. Ia juga mendorong masyarakat agar tidak bersikap pasif ketika menemukan indikasi gangguan pertumbuhan pada anak, dan segera berkonsultasi agar kondisi dapat diketahui lebih awal serta ditangani sesuai kebutuhan.

Ia menambahkan, upaya menekan risiko stunting memerlukan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, aparat kewilayahan, dan masyarakat. Melalui edukasi langsung kepada warga, diharapkan pesan mengenai pentingnya kesehatan anak dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang paling penting adalah kepedulian dan perhatian kita bersama terhadap tumbuh kembang anak. Jika ada masalah kesehatan atau pertumbuhan, segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar dapat ditindaklanjuti,” pungkasnya.