BERITA TERKINI
Ayam Panggang Bu Setu di Magetan Bertahan Lebih dari 30 Tahun, Subiyanto Ceritakan Peran Dukungan BRI Sejak 1992

Ayam Panggang Bu Setu di Magetan Bertahan Lebih dari 30 Tahun, Subiyanto Ceritakan Peran Dukungan BRI Sejak 1992

Magetan, Jawa Timur—Musim mudik Lebaran kerap menjadi momen bagi para perantau untuk melepas rindu melalui kuliner khas daerah. Di Kabupaten Magetan, salah satu tujuan yang banyak disinggahi pemudik adalah Ayam Panggang Bu Setu, kuliner yang dikenal dengan aroma asap kayu bakar dari dapurnya.

Di balik kepulan asap tersebut, Ayam Panggang Bu Setu menyimpan cerita usaha keluarga yang telah bertahan lebih dari tiga puluh tahun. Usaha ini kini dikelola Subiyanto sebagai generasi kedua, setelah dirintis kedua orang tuanya pada 1990-an. Menurut Subiyanto, usaha itu bermula dari berjualan keliling, lalu berkembang menjadi usaha rumahan yang dikenal luas melalui promosi dari mulut ke mulut.

Subiyanto mengatakan, daya tarik Ayam Panggang Bu Setu terletak pada konsistensi menjaga proses memasak tradisional. Ia menyebut mereka tetap menggunakan kayu bakar keras seperti mahoni atau jati dan tidak beralih ke kompor gas, demi menjaga kematangan ayam serta ciri khas rasa yang telah dikenal pelanggan.

Salah satu menu yang disebut paling banyak diburu adalah Ayam Panggang Bumbu Rujak. Menu ini dikenal dengan perpaduan rasa pedas, manis, dan gurih yang meresap ke daging ayam kampung.

Periode paling ramai bagi usaha ini terjadi saat mudik Lebaran. Subiyanto menyampaikan lonjakan pengunjung biasanya mulai terasa dua hari sebelum Lebaran dan berlangsung hingga sekitar lima hari setelahnya, ketika pemudik yang melintas di Magetan menyempatkan diri singgah.

Dalam perjalanannya, Subiyanto menuturkan perkembangan usaha keluarganya juga dipengaruhi akses permodalan perbankan. Ia mengenang ayahnya mulai bermitra dengan BRI pada 1992 dengan modal awal Rp250.000. Menurutnya, sebelum mendapatkan pinjaman, mereka membeli ayam dari tengkulak dengan sistem utang sehingga harganya lebih mahal. Setelah memperoleh pinjaman, mereka dapat membeli secara tunai dan harga jual kepada konsumen menjadi lebih terjangkau.

Seiring waktu, usaha tersebut kembali memanfaatkan akses permodalan untuk pengembangan. Subiyanto juga menyebut penggunaan layanan digital BRI untuk membantu pengelolaan usaha dan berharap fasilitas tersebut terus ditingkatkan. Ia menambahkan, dukungan pembiayaan turut membantu usaha ini memperluas lahan serta membangun fasilitas restoran yang lebih nyaman.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyatakan BRI konsisten memberikan dukungan permodalan, pendampingan, dan penerapan digitalisasi bagi pelaku UMKM. Ia menyebut kisah Ayam Panggang Bu Setu sebagai contoh dukungan pendanaan BRI dalam mendorong perekonomian masyarakat.

BRI juga melaporkan hingga Desember 2025 telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia. Lebih dari 60% penyaluran KUR tersebut dialokasikan ke sektor produksi, dengan porsi sektor produksi mencapai 64,49% dari total penyaluran.