Jakarta — Usaha kuliner Ayam Boemboe menempatkan kualitas makanan dan konsistensi pelayanan sebagai kunci menjaga kepercayaan pelanggan. Pemiliknya, Kak Yeri, mengatakan upaya tersebut dilakukan dengan memastikan mutu produk tetap terjaga sekaligus memberikan nilai yang sepadan dengan harga yang dibayarkan konsumen.
Hal itu disampaikan Kak Yeri dalam program siaran Teras UMKM di Radio RRI Pro 4 FM, Senin, 26 Oktober 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menceritakan pengalaman mengembangkan Ayam Boemboe di tengah persaingan bisnis kuliner.
Menurut Kak Yeri, salah satu perhatian utama dalam penyajian adalah porsi dan kandungan protein yang sesuai dengan produk yang ditawarkan. Respons konsumen terhadap porsi makanan juga menjadi masukan yang diperhatikan untuk membangun kepuasan pelanggan.
“Kami ingin konsumen mendapatkan nilai yang sesuai dengan apa yang mereka bayarkan, termasuk dari sisi porsi dan protein yang mereka konsumsi,” kata Kak Yeri.
Selain porsi, Ayam Boemboe juga menaruh perhatian pada kebersihan, kesegaran bahan baku, serta mutu makanan selama proses produksi. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan pelanggan.
Di luar penjualan makanan siap santap, Ayam Boemboe turut mengembangkan produk makanan beku atau frozen food. Kak Yeri menyebut inovasi ini membuka peluang menjangkau konsumen di luar Jakarta yang ingin menikmati olahan ayam berbumbu Nusantara.
Dalam materi wawancara, Kak Yeri menjelaskan daya tahan produk dapat berbeda bergantung pada kondisi penyimpanan. Produk disebut dapat bertahan hingga enam bulan di dalam freezer, sekitar tiga hari di kulkas biasa dalam kemasan tertutup, dan maksimal 48 jam pada suhu ruangan.
Konsumen diimbau mengikuti petunjuk penyimpanan pada kemasan untuk menjaga mutu dan keamanan pangan. Ketentuan daya tahan tersebut juga perlu dipastikan kembali sesuai jenis produk, kondisi kemasan, dan petunjuk penyimpanan yang berlaku.