Protein kerap menjadi nutrisi yang paling diperhatikan, terutama oleh orang yang rutin berolahraga atau menjalani program pembentukan otot. Tidak sedikit yang sengaja menaikkan asupan protein melalui makanan maupun suplemen untuk mengejar target kebugaran.
Namun, kebutuhan protein setiap orang tidak sama. Chief Dietitian Clinical & Oncology Nutrition KIMS Hospitals Electronic City Bengaluru, Chitra B K, mengingatkan bahwa konsumsi protein berlebihan tidak selalu memberi manfaat tambahan, bahkan dapat berdampak pada kesehatan organ tertentu jika dilakukan dalam jangka panjang.
Chitra menjelaskan, protein berperan penting dalam memperbaiki jaringan tubuh, membangun sistem kekebalan, memproduksi hormon, serta menjaga kesehatan secara umum. Meski begitu, asupan yang berlebihan tetap perlu diwaspadai. “Namun, jika protein dikonsumsi secara berlebihan, dampaknya dapat merugikan kesehatan, tergantung usia dan kondisi kesehatan seseorang,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Salah satu organ yang paling terdampak adalah ginjal. Saat protein dicerna, tubuh menghasilkan sisa metabolisme yang perlu disaring dan dibuang melalui ginjal. Semakin tinggi asupan protein, semakin besar beban kerja organ tersebut.
Pada orang dengan ginjal sehat, kondisi ini umumnya masih dapat ditoleransi. Namun, bagi penderita penyakit ginjal atau mereka yang fungsi ginjalnya sudah menurun, konsumsi protein berlebihan berpotensi mempercepat penurunan fungsi ginjal.
Chitra juga menyebutkan bahwa pada penderita gangguan hati, metabolisme protein menjadi lebih sulit karena kemampuan hati dalam memecah protein sudah menurun. Meski demikian, pada individu yang sehat, pengaruh protein terhadap kerusakan hati dinilai relatif kecil.
Selain itu, gangguan pencernaan dapat muncul pada pola makan tinggi protein. Menurut Chitra, masalah ini bukan semata-mata disebabkan oleh protein, melainkan karena pola makan tinggi protein sering membuat seseorang mengurangi konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian utuh yang merupakan sumber serat.
Akibatnya, tubuh dapat mengalami sembelit, perut kembung, gangguan keseimbangan bakteri baik di usus, hingga dehidrasi. Karena itu, pola makan tinggi protein tetap perlu diimbangi dengan asupan serat dan cairan yang cukup.
Ia menyarankan masyarakat memperoleh protein dari berbagai sumber, seperti kacang-kacangan, produk susu, telur, ikan, daging tanpa lemak, kedelai, serta biji-bijian, bukan hanya dari satu jenis makanan.
Chitra menekankan bahwa sumber protein juga menentukan risiko kesehatan. Konsumsi daging olahan dan daging berlemak secara berlebihan dapat meningkatkan asupan lemak jenuh dan natrium yang berisiko memengaruhi kesehatan jantung dalam jangka panjang.
Peringatan itu sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam ISRN Nutrition pada 2013. Penelitian tersebut menyebutkan angka kecukupan protein untuk orang dewasa sehat sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan per hari. Konsumsi protein melebihi kebutuhan dalam waktu lama dikaitkan dengan sejumlah risiko kesehatan.
Dalam penelitian itu, pola makan tinggi protein disebut dapat meningkatkan pembuangan kalsium melalui urine sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan tulang dan meningkatkan risiko patah tulang. Selain itu, konsumsi jangka panjang diet tinggi protein yang didominasi daging merah dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, seperti kanker usus besar, lambung, dan payudara.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan pola makan tinggi protein berlebihan dapat berkaitan dengan gangguan fungsi hati dan mempercepat perkembangan penyakit jantung koroner akibat meningkatnya penumpukan lemak serta peradangan.
Karena itu, Chitra mengingatkan agar kebutuhan protein disesuaikan dengan usia, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan masing-masing. “Kebutuhan protein setiap orang berbeda. Namun, lebih banyak bukan berarti selalu lebih baik,” katanya.

