Kementerian Pariwisata bersama Indonesia Gastronomy Network (IGN) kembali menggelar Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026. Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, program ini akan menggali lebih dalam akar kuliner Nusantara sekaligus memperluas promosi gastronomi Indonesia di tingkat internasional.
Rangkaian utama WIG 2026 dipusatkan di Kota Solo dan Yogyakarta, dengan sejumlah kegiatan pendukung di kota-kota lain seperti Jakarta, Bali, Semarang, Surabaya, dan lainnya. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan WIG mengajak dunia melihat perjalanan dari akar budaya lokal menuju pengakuan global yang bermula di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Balairung Soesilo Soedarman, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Widiyanti menekankan bahwa kekayaan kuliner Indonesia tidak hanya soal hidangan, tetapi juga ekosistem gastronomi yang luas. Dalam perspektif ini, gastronomi mencakup mata rantai dari petani, peternak, nelayan, produsen, juru masak, pelaku usaha, hingga masyarakat yang menjaga dan meneruskan tradisi pangan lintas generasi.
“Inilah salah satu aset terbesar Indonesia sebagai destinasi wisata, yaitu warisan gastronomi yang begitu kaya dan berakar kuat pada budaya masyarakat. Karena itu, melalui Wonderful Indonesia Gastronomy, kami ingin terus memberikan ruang bagi pelestarian, pengembangan, dan promosi kekayaan tersebut dari tahun ke tahun,” ujar Widiyanti.
Dalam konteks promosi global, Kemenpar mencatat Indonesia pada 2025 meraih New Destination Champion Award 2026 dari La Liste, panduan dan pemeringkat restoran internasional asal Prancis. Penghargaan itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu destinasi gastronomi yang kian mendapat perhatian di panggung dunia.
Dari sisi pariwisata, pada 2025 kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 15,39 juta, tertinggi dalam enam tahun terakhir. Sepanjang Januari–Juli 2026, kunjungan wisman tercatat 8,98 juta. Kemenpar menargetkan 16–17 juta kunjungan wisman pada 2026, dengan gastronomi menjadi salah satu daya tarik untuk memperkuat pencapaian target sekaligus memperluas pengalaman wisatawan.
WIG 2026 mengusung tema “From Local Roots to Global Recognition” dan dijadwalkan berlangsung pada 26 September–4 Oktober 2026 di Solo dan Yogyakarta. Jika pada penyelenggaraan sebelumnya WIG memperkenalkan gourmet dining scene Indonesia, tahun ini cakupannya diperluas untuk menghadirkan spektrum gastronomi yang lebih utuh—mulai dari asal-usul bahan dan hidangan, kearifan lokal, tradisi dan filosofi di balik makanan, hingga bagaimana kekayaan tersebut diterjemahkan dalam pengalaman gastronomi masa kini.
Rangkaian utama WIG 2026 akan dibuka resmi di Pura Mangkunegaran, Solo, pada 26 September 2026, sekaligus menandai awal berbagai agenda gastronomi yang berlangsung hingga akhir Desember.
Pada September 2026, Kemenpar juga akan meluncurkan dua publikasi, yakni Indonesia Gourmet Guide dan Indonesia Local Eateries. Indonesia Gourmet Guide akan memuat ulasan restoran terkurasi di sejumlah kota yang menjadi bagian program, sementara Indonesia Local Eateries memperluas cakupan ke rumah makan, kedai, pasar, dan pusat kuliner yang merepresentasikan budaya makan sehari-hari masyarakat di berbagai daerah.
Tahun ini, Kemenpar mengundang 18 perwakilan media dan tastemakers, yang terdiri atas 13 peserta internasional dan 5 media nasional. Peserta internasional disebut berasal antara lain dari Forbes Travel Guide, La Liste, The World’s 50 Best, dan CNN International. Mereka akan mengikuti perjalanan gastronomi di Solo dan Yogyakarta, mengunjungi rumah makan dan ruang kuliner, serta menikmati destinasi seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang dilengkapi pengalaman wellness khas kedua kota.
Agenda lainnya mencakup pengenalan warisan batik di Kampung Laweyan, suasana pagi di Pasar Gede, pengalaman sensorik di Rumah Atsiri, hingga afternoon tea bergaya keraton bersama GKR Bendara.
WIG Talks dijadwalkan menghadirkan 22 pembicara dalam lima sesi seminar dan satu sesi book review, dengan target 300 peserta. Ada lima topik utama seputar gastronomi dan industri makanan-minuman yang akan membahas masa depan gastronomi Indonesia serta peluang mendorong perluasan nilai ekonomi sektor tersebut.
WIG 2026 juga menghadirkan Artisan Market di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, pada 2–4 Oktober 2026. Kegiatan yang terbuka untuk umum ini akan menghadirkan 21 tenant dari wilayah Joglosemar dan Jakarta dengan produk gastronomi lokal, mulai dari keju artisanal, madu murni, teh, hingga produk lainnya. Selain itu, terdapat 13 kolaborator yang terlibat dalam berbagai kegiatan seperti workshop dan food tasting. Selama tiga hari, Artisan Market ditargetkan menarik hingga 1.300 pengunjung.
“Wonderful Indonesia Gastronomy dapat menjadi ruang untuk mengenal lebih dekat kekayaan dan ekosistem gastronomi Indonesia, sekaligus memperluas jejaring dan kolaborasi di dalamnya,” kata Widiyanti.
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Chef Collaboration yang berlangsung sepanjang Oktober 2026. Program ini mempertemukan para chef, hotel, restoran, serta pelaku industri kreatif untuk menghadirkan pengalaman gastronomi khusus sekaligus mendorong kunjungan dan transaksi di sektor pariwisata.
Sejumlah kolaborasi yang disebut antara lain The Dharmawangsa Jakarta bersama Chef Emmanuel Julio dan Chef Ragil Imam Wibowo bertema Blue Food; Fairmont Jakarta bersama Chef Petty Elliott; Park Hyatt Jakarta bersama Indonesian Pastry Bakery Society; ROSO at The Meru Bali bersama Chef Degan Septoadji; serta Hotel Indonesia Kempinski Jakarta bersama Chef Jovan Koraag dari Mata Karanjang.
Di Yogyakarta, ROSO at Grand Hotel De Djokja akan menghadirkan Chef Philip Walasary dalam dua kolaborasi bersama Chef Agus Hermawan, Culinary Ambassador Indonesia di Belanda dari Ron Gastrobar, dan Chef Glennaldy Adrian Erari dari SEMAJA. Program ini juga melibatkan Alice at The Langham Jakarta bersama Chef Maurizio Bombini dari MAURI Restaurant Bali, Capella Ubud bersama Chef Ade Putri, serta special brunch di Obin House.
Ketua Indonesia Gastronomy Network, Vita Datau, menyatakan WIG memperkenalkan lanskap kuliner Indonesia sekaligus membangun ekosistem, termasuk mendorong peningkatan ekonomi para pelaku industri yang menopang masa depan gastronomi nasional. Ia menilai perjalanan WIG terus berkembang dengan menghadirkan cerita, pelaku, dan peluang baru pada setiap penyelenggaraan.
“Gastronomi adalah sebuah cara untuk memahami dari mana kita berasal, bagaimana masyarakat kita menjalani kehidupan, serta apa yang menjadikan setiap daerah di Indonesia begitu khas dan berbeda,” ujar Vita.
Menurut Vita, IGN berdiri atas keyakinan bahwa kekayaan budaya kuliner Indonesia layak dirasakan secara langsung, bukan sekadar dibicarakan. Melalui WIG, media internasional, para tastemaker, dan pencinta kuliner diajak datang ke Indonesia untuk mencicipi, memahami, dan membagikan kisah-kisah kuliner Nusantara kepada dunia.