Pernah merasa sudah menjalani hidup sehat karena mengikuti diet yang sedang viral atau rutin berjalan kaki ke kantor, tetapi hasilnya tidak terlihat—bahkan tubuh justru terasa makin lelah? Fenomena ini kian sering dialami pekerja urban. Di saat gaya hidup sehat semakin populer, sebagian orang justru terjebak pada pola yang tampak sehat dari luar, tetapi tidak memberi dampak nyata bagi tubuh.
Di tengah derasnya tren dan konten kesehatan di media sosial, banyak orang tanpa sadar mengikuti pola hidup yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuhnya sendiri. Kondisi ini membuat upaya hidup sehat menjadi tidak konsisten, mudah ditinggalkan, dan dalam beberapa kasus berpotensi merugikan kesehatan.
Apa yang dimaksud “gaya hidup sehat yang salah”?
Gaya hidup sehat yang salah merujuk pada pola hidup yang terlihat sehat—misalnya diet ekstrem atau aktivitas fisik ringan—namun tidak berbasis sains, tidak sesuai kebutuhan tubuh, dan tidak berkelanjutan. Masalah utamanya bukan pada upaya hidup sehat itu sendiri, melainkan pada cara mengikuti tren tanpa pemahaman yang memadai.
Tren kesehatan dan risiko “infodemic”
World Health Organization (WHO) menyebut banjir informasi, termasuk yang keliru atau menyesatkan, sebagai infodemic. Dalam praktiknya, derasnya informasi kesehatan dapat membuat orang berpindah-pindah metode, mencoba berbagai pendekatan sekaligus, atau mengikuti saran yang tidak tepat untuk kondisi tubuhnya. Akibatnya, tujuan hidup sehat berubah menjadi kebingungan dan ketidakkonsistenan.
Dalam keterangan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Nina menilai kesehatan kerap menjadi prioritas terakhir di tengah rutinitas kerja, atau baru dipikirkan ketika ada tren. “Kami ingin menggeser cara pandang itu, bahwa hidup sehat bukan sesuatu yang menunggu waktu luang, tapi harus dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari,” ujar Nina, dikutip Rabu, 8 April 2026.
Pernyataan tersebut menegaskan salah satu persoalan utama: banyak orang bukan kurang niat, melainkan terlalu bergantung pada momentum tren.
Apakah aktivitas harian sudah cukup sebagai olahraga?
Sejumlah pekerja urban merasa sudah aktif karena banyak bergerak dalam keseharian. Namun, aktivitas semacam itu kerap masuk dalam kategori Non-Exercise Physical Activity (NEPA), yakni aktivitas fisik non-olahraga.
Melanie Putria (runner dan penggiat kebugaran) menjelaskan, “Banyak orang merasa sudah cukup aktif karena aktivitas harian seperti beres-beres rumah atau berjalan saat menggunakan transportasi umum. Padahal itu termasuk Non-Exercise Physical Activity (NEPA), yaitu aktivitas fisik non-olahraga,” ujarnya melalui keterangan yang sama.
NEPA tetap bermanfaat, tetapi tidak selalu menggantikan kebutuhan olahraga terstruktur. Miskonsepsi inilah yang membuat sebagian orang mengira mereka sudah memenuhi kebutuhan kebugaran, padahal belum.
Diet viral yang sering disalahpahami
Sejumlah diet populer kerap terlihat “ilmiah”, tetapi praktiknya tidak jarang keliru ketika dijalankan tanpa pemahaman, tanpa penyesuaian kondisi tubuh, atau tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. Dalam naskah disebut beberapa pola yang sering muncul dalam tren, seperti very low-calorie diet, diet keto, intermittent fasting, dan juice fasting.
Inti persoalannya, seperti disampaikan dalam materi, bukan semata pada nama dietnya, melainkan pada ketidaksesuaian dengan kebutuhan tubuh dan cara menjalankannya. “Banyak orang ingin hidup sehat, tapi terjebak pada tren atau solusi instan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Akibatnya, hasilnya tidak bertahan lama, bahkan bisa berdampak sebaliknya,” demikian kutipan dalam naskah.
Paradoks era digital: informasi melimpah, kebingungan meningkat
Di era digital, masyarakat tidak lagi kekurangan informasi tentang kesehatan. Namun, banyaknya informasi justru dapat memunculkan kebingungan: terlalu banyak metode, terlalu banyak klaim, dan terlalu banyak “cara cepat” yang beredar. Pada titik ini, tidak semua pendekatan cocok untuk semua orang—dan hal tersebut menjadi akar dari “gaya hidup sehat yang salah”.
Siklus gagal yang berulang
Naskah menggambarkan simulasi yang kerap terjadi pada pekerja kantoran: seseorang mengikuti tren diet tertentu, menjalani pola ketat dalam waktu singkat, lalu berhenti karena tidak sanggup mempertahankan. Setelah itu, berat badan atau kondisi tubuh kembali seperti semula, bahkan bisa memburuk. Pola ini dikenal sebagai efek yoyo, yang umumnya muncul karena pendekatan yang tidak berkelanjutan.
Pendekatan yang lebih realistis
Alih-alih ekstrem, naskah menekankan pendekatan sederhana yang lebih mungkin dipertahankan. Beberapa langkah yang disebut meliputi:
1) Pola makan seimbang: mencakup karbohidrat, protein, serat, dan lemak sehat, serta mengurangi makanan ultra-proses.
2) Olahraga terstruktur: kombinasi kardio dan latihan kekuatan, minimal 2–3 kali per minggu.
3) Tidur berkualitas: menjaga konsistensi jam tidur dan menghindari layar sebelum tidur.
4) Micro-break: istirahat singkat setiap 90 menit, seperti peregangan ringan atau berjalan sebentar.
5) Power nap: tidur singkat 15–20 menit bila memungkinkan.
Garis besarnya, yang dinilai efektif bukanlah yang paling ekstrem, melainkan yang paling konsisten dan realistis.
Dampak di dunia kerja modern
Naskah juga menekankan bahwa gaya hidup sehat yang keliru bukan hanya isu personal. Dampaknya dapat merembet pada pekerjaan, seperti penurunan produktivitas dan meningkatnya absensi. Dalam jangka panjang, pendekatan berbasis bukti dinilai lebih penting daripada sekadar mengikuti tren.
WHO, sebagaimana dikutip dalam naskah, menyoroti pentingnya intervensi berbasis sains. Disebutkan bahwa pendekatan berbasis bukti seperti imunisasi telah menyelamatkan jutaan nyawa, yang menegaskan bahwa metode yang teruji lebih relevan dibanding mengikuti arus tren.
Penutup
Tren kesehatan akan terus berganti. Namun, tubuh manusia tidak bekerja seperti algoritma media sosial. Upaya hidup sehat membutuhkan kebiasaan yang sesuai kebutuhan tubuh, berbasis pengetahuan yang benar, dan dapat dijalankan dalam jangka panjang.

