BERITA TERKINI
Street Food di Kota Besar: Gaya Hidup Urban, Penggerak Ekonomi Informal, dan PR Kesehatan

Street Food di Kota Besar: Gaya Hidup Urban, Penggerak Ekonomi Informal, dan PR Kesehatan

Perkembangan kota-kota besar di Indonesia tidak hanya terlihat dari pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari perubahan gaya hidup warganya. Salah satu fenomena yang kian menonjol adalah menjamurnya street food atau makanan kaki lima di kawasan perkotaan. Kehadirannya kini melampaui fungsi sebagai pilihan makan murah dan cepat, menjadi bagian dari budaya urban yang merepresentasikan kepraktisan, keragaman kuliner, serta denyut ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Secara umum, street food merujuk pada makanan dan minuman siap konsumsi yang dijual pedagang di jalanan atau ruang publik dengan harga relatif terjangkau. Di Indonesia, pertumbuhannya berkaitan erat dengan meningkatnya urbanisasi dan pola hidup perkotaan yang serba cepat. Mobilitas tinggi, keterbatasan waktu, dan kebutuhan akan makanan praktis menjadi faktor yang mendorong tingginya konsumsi makanan jalanan.

Fenomena ini juga tercermin dari pertumbuhan sektor penyediaan makanan dan minuman. Pada 2023, jumlah usaha di sektor tersebut tercatat sekitar 4,85 juta unit, dengan sebagian di antaranya merupakan usaha makanan keliling atau street food. Data ini menunjukkan street food bukan semata tren konsumsi, melainkan bagian penting dari ekonomi informal di perkotaan.

Dari sisi ekonomi, street food memiliki kontribusi yang signifikan. Aktivitas ini membuka lapangan pekerjaan, menambah pendapatan masyarakat, dan mendorong perputaran ekonomi lokal. Sejumlah penelitian juga menyoroti bahwa pengembangan kawasan street food yang ditopang infrastruktur memadai dapat meningkatkan daya tarik wisata sekaligus memperkuat ekonomi kreatif daerah. Dalam konteks tersebut, street food kerap dipandang sebagai salah satu penggerak pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan.

Namun, potensi itu berjalan beriringan dengan persoalan kesehatan dan keamanan pangan. Banyak produk street food cenderung tinggi kalori, lemak, gula, dan natrium, tetapi rendah serat serta nutrisi esensial. Konsumsi berlebihan berisiko meningkatkan peluang munculnya penyakit tidak menular, seperti obesitas, hipertensi, hingga diabetes.

Sejumlah studi juga mengaitkan tren konsumsi makanan cepat saji di kalangan masyarakat perkotaan, khususnya remaja, dengan peningkatan angka obesitas. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga aspek psikologis, seperti menurunnya rasa percaya diri dan meningkatnya risiko gangguan mental. Temuan ini memperlihatkan bahwa pola konsumsi street food tidak bisa dilepaskan dari isu kesehatan masyarakat yang lebih luas.

Selain kandungan gizi, tantangan lain adalah higienitas. Minimnya pemahaman pedagang terkait sanitasi dan keamanan pangan dapat meningkatkan risiko keracunan makanan serta penyebaran penyakit. Faktor ekonomi kerap disebut menjadi salah satu alasan di balik praktik yang kurang higienis, misalnya penggunaan bahan baku berkualitas rendah atau pemakaian minyak goreng berulang untuk menekan biaya produksi.

Meski demikian, street food tetap menjadi pilihan utama bagi banyak warga kota. Harga yang terjangkau, lokasi yang mudah dijangkau, serta cita rasa khas membuatnya sulit tergantikan. Penelitian bahkan menunjukkan mahasiswa, termasuk yang memiliki pengetahuan gizi, tetap memilih street food karena pertimbangan efisiensi waktu dan kenyamanan.

Melihat kompleksitas tersebut, pendekatan yang seimbang dinilai diperlukan. Pemerintah didorong memperkuat regulasi dan pengawasan keamanan pangan, sekaligus memberi pembinaan agar pelaku usaha dapat meningkatkan kualitas produk tanpa mengorbankan aspek kesehatan. Di sisi lain, masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran untuk menerapkan pola konsumsi yang sehat dan seimbang.

Pada akhirnya, street food menjadi cerminan dinamika kehidupan kota: praktis, beragam, dan terus berkembang. Tantangannya bukan menghapus keberadaannya, melainkan mengelolanya agar tetap produktif sebagai sumber ekonomi sekaligus tidak mengancam kesehatan publik. Dengan pengelolaan yang tepat, street food dapat terus menjadi identitas kuliner perkotaan yang aman dan berkelanjutan.