BERITA TERKINI
Seruni: Berawal dari Dapur Rumahan, Tumbuh Jadi Brand Kuliner Berjaringan di Sulawesi Selatan

Seruni: Berawal dari Dapur Rumahan, Tumbuh Jadi Brand Kuliner Berjaringan di Sulawesi Selatan

Perjalanan Seruni Catering dan Rumah Makan Seruni menunjukkan bagaimana sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat berkembang melampaui skala usaha keluarga. Brand kuliner yang kini membangun jaringan layanan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan itu bermula dari modal terbatas dan proses panjang yang ditempuh selama lebih dari dua dekade.

Seruni dirintis pada 2001 oleh pasangan suami istri H. Andi Buana Pati dan Hj. Yusniar Arifin. Dalam laporan media pada 2019, modal awal yang digunakan disebut sekitar Rp1 juta, dengan peralatan memasak yang pada awalnya masih meminjam dari keluarga. Pada masa awal, pesanan juga diantar menggunakan kendaraan sederhana. Usaha ini mula-mula berkembang dari layanan rantangan dan katering, mengandalkan kemampuan memasak, keberanian mencoba, kemauan melayani pelanggan, serta ketekunan untuk bertahan.

Seiring pesanan bertambah dan kebutuhan meningkat, Seruni perlahan memasuki fase yang menuntut lebih dari sekadar keterampilan memasak. Usaha keluarga mulai memerlukan manajemen agar layanan tetap berjalan dan mampu mengimbangi pertumbuhan.

Hal lain yang menonjol dari kisah Seruni adalah latar belakang pendidikan para perintisnya. H. Andi Buana Pati dan Hj. Yusniar Arifin merupakan alumni Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dengan H. Andi Buana Pati disebut memiliki pendidikan magister Administrasi Negara. Dalam perkembangannya, kemampuan mengorganisasi pekerjaan, mengelola manusia, menyusun prosedur, dan membangun koordinasi menjadi kebutuhan yang semakin penting, seiring usaha bertambah besar.

Data historis tentang pertumbuhan tenaga kerja juga menggambarkan perubahan skala usaha. Dalam pemberitaan 2019, Seruni disebut berkembang dari sekitar tiga karyawan menjadi sekitar 270 orang pada masa tersebut. Angka ini dicatat sebagai data historis dan tidak otomatis mencerminkan jumlah karyawan saat ini, namun memperlihatkan adanya pergeseran dari usaha personal menuju organisasi yang memerlukan sistem kerja.

Perluasan layanan Seruni juga tidak berhenti di Makassar. Jejaring pelayanan yang dipublikasikan Seruni saat ini mencantumkan sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, antara lain Makassar, Barru, Parepare, Palopo, dan Watampone, dengan layanan yang tersebar di beberapa titik. Perluasan ini membawa tantangan baru, mulai dari menjaga kualitas menu, ketepatan waktu, pengendalian bahan baku, hingga koordinasi tenaga kerja lintas wilayah.

Di tengah perubahan cara konsumen mengakses layanan kuliner, teknologi informasi menjadi bagian dari fase berikutnya. Jika pada awal berdiri pesanan dilakukan dengan datang langsung atau melalui telepon dan pencatatan manual, kini pemesanan dapat berlangsung melalui perangkat digital dan pengelolaan data dapat dilakukan dengan sistem informasi. Dalam konteks ini, penerapan teknologi dipandang sebagai upaya menjawab kebutuhan operasional, seperti mempercepat layanan, mengurangi kesalahan, mengontrol persediaan, dan menghubungkan koordinasi antarlokasi.

Kisah Seruni juga dinilai relevan bagi pembahasan tentang tantangan UMKM di Sulawesi Selatan, terutama soal “naik kelas”. Banyak usaha dapat bertahan dalam beberapa tahun, namun tidak semuanya mampu membangun sistem, mendokumentasikan proses kerja, menciptakan standar layanan, memperkuat brand, serta memperluas jaringan tanpa kehilangan identitas. Perjalanan Seruni memperlihatkan bahwa transformasi tersebut berlangsung bertahap dan memerlukan waktu panjang.

Pada 16 September 2026, Seruni menerima penghargaan Makassar Most Favorite Culinary Award 2026 dalam ajang MFC Award 2026 di Hotel MYKO Makassar. MFC menyebut penghargaan itu diberikan berdasarkan survei independen terhadap 300 responden dan merupakan penghargaan tahunan. Pengakuan tersebut dipandang sebagai penanda capaian, sekaligus pengingat bahwa tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas secara konsisten, terutama ketika layanan menjangkau wilayah yang berbeda.

Ke depan, ruang pengembangan masih terbuka, namun perluasan dinilai tidak cukup hanya dengan membuka titik layanan baru. Ekspansi yang sehat membutuhkan sistem yang dapat direplikasi, termasuk penguatan SOP, integrasi teknologi, pengelolaan data pelanggan, pengukuran kualitas, dan pengembangan sumber daya manusia, sambil menjaga karakter Seruni sebagai brand lokal.

Dari modal sekitar Rp1 juta dan dapur sederhana, Seruni tumbuh menjadi brand yang membangun jaringan layanan dan mengembangkan sistem. Kisah ini menegaskan bahwa UMKM dapat berkembang melampaui skala awalnya, dengan syarat ketekunan, kemampuan membaca perubahan, kesediaan belajar, dan kemauan membangun usaha berbasis sistem.