Jakarta — Sepiring makanan bergizi bisa habis dalam hitungan menit. Namun, pemahaman tentang makanan serta kebiasaan hidup sehat dapat menjadi bekal yang menyertai anak hingga dewasa. Karena itu, sekolah dinilai memiliki peran strategis untuk memperkuat literasi gizi seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
MBG yang digagas Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tidak semestinya dipahami semata sebagai pemenuhan kebutuhan makanan bagi peserta didik. Program ini juga dipandang sebagai momentum untuk membangun generasi yang tidak hanya menerima makanan bergizi, tetapi memahami arti penting gizi bagi pertumbuhan, kesehatan, kecerdasan, dan masa depan.
Pemberian makanan bergizi merupakan langkah penting, tetapi pembentukan perilaku hidup sehat memerlukan proses yang lebih panjang daripada sekadar satu kali makan. Anak bisa saja menerima menu dengan protein, karbohidrat, sayur, buah, dan zat gizi lainnya, tetapi belum tentu mengerti alasan keberadaan unsur-unsur tersebut di piringnya.
Pertanyaan sederhana seperti itu menjadi pintu masuk literasi gizi. Anak diajak memahami bahwa makanan tidak hanya soal kenyang, rasa, atau harga, melainkan berkaitan dengan pertumbuhan tubuh, daya tahan, konsentrasi belajar, hingga kualitas hidup jangka panjang.
Dengan demikian, sekolah didorong melihat MBG sebagai bagian dari proses pendidikan yang lebih luas. Makanan yang disajikan kepada siswa dapat menjadi media pembelajaran. Saat siswa mendapatkan telur, misalnya, guru dapat menjelaskan peran protein bagi pertumbuhan. Ketika tersedia sayur dan buah, pembelajaran dapat mengulas vitamin, mineral, serat, serta manfaatnya bagi tubuh.
Pendidikan gizi juga tidak harus hadir sebagai mata pelajaran baru. Literasi gizi dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran yang sudah berjalan melalui pendekatan sederhana dan dekat dengan keseharian siswa.
Tantangan gizi anak tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Di luar sekolah, peserta didik berhadapan dengan beragam pilihan makanan dan minuman yang belum tentu mendukung pola hidup sehat, mulai dari iklan makanan, tren jajanan, minuman manis, hingga makanan ultra-proses dan kebiasaan makan yang kurang seimbang.
Dalam konteks ini, program makanan bergizi dinilai akan lebih bermakna apabila anak memiliki kemampuan memahami dan memilih makanan secara sadar. Pendidikan diharapkan tidak hanya membentuk kepatuhan di lingkungan sekolah, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan yang baik saat tidak diawasi.
Literasi gizi pada akhirnya dipahami bukan sekadar pengetahuan kandungan makanan. Kemampuan ini mencakup keterampilan membaca informasi, mempertimbangkan kebutuhan tubuh, mengenali pilihan makanan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab—sebuah hal yang penting karena kesehatan masa depan turut ditentukan oleh kebiasaan hidup yang dibangun sejak usia sekolah.
Karena itu, literasi gizi perlu dibangun sebagai budaya di sekolah, bukan kegiatan seremonial. Guru dapat menjadi penggerak dengan mengintegrasikan pengetahuan gizi dalam pembelajaran, sementara siswa dapat dilibatkan lewat proyek sederhana tentang menu seimbang, kebiasaan sarapan, atau pemilihan jajanan.
Kantin sekolah juga dipandang memiliki posisi penting. Lingkungan sekolah dinilai akan kontradiktif apabila di satu sisi siswa menerima makanan bergizi, tetapi di sisi lain pilihan jajanan di sekitar sekolah justru mendorong pola konsumsi yang kurang sehat. Peran orang tua pun diperlukan agar pengetahuan yang diterima anak di sekolah mendapat penguatan di rumah hingga menjadi kebiasaan.
Melalui ekosistem semacam ini—sekolah memberi pengetahuan, guru memberi keteladanan, kantin menyediakan pilihan sehat, dan keluarga memperkuat kebiasaan—program makanan bergizi diharapkan memiliki dampak pendidikan yang lebih panjang. Anak tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi tumbuh menjadi subjek yang memahami pentingnya kesehatan dirinya.
MBG juga dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat pendidikan gizi di sekolah. Setiap menu yang diberikan memiliki ruang pembelajaran, mulai dari kandungan gizi, proses produksi, pengenalan pangan lokal, hingga isu ketahanan pangan. Dari satu piring makanan, siswa dapat belajar berbagai hal, termasuk sains, matematika, ekonomi, budaya, lingkungan, dan tanggung jawab sosial.
Pendekatan tersebut sekaligus dapat memperkenalkan kekayaan pangan lokal. Indonesia memiliki sumber pangan yang beragam, sehingga pangan lokal dapat menjadi bagian dari pendidikan agar anak mengenal makanan sehat sekaligus menghargai potensi daerahnya.
Ke depan, literasi gizi disebut layak dipertimbangkan sebagai salah satu penguatan penting dalam pelaksanaan MBG di satuan pendidikan. Sejumlah program sederhana dan terukur dapat dilakukan, seperti jurnal makanan sehat, edukasi membaca label pangan, gerakan minum air putih, pembiasaan sarapan, hingga kampanye memilih jajanan sehat.
Penguatan kapasitas guru juga dinilai diperlukan agar memiliki pemahaman dasar literasi gizi, sehingga edukasi kepada siswa tidak berhenti pada slogan, melainkan didukung pengetahuan yang benar. Selain itu, evaluasi keberhasilan MBG diharapkan tidak semata diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran anak terhadap makanan sehat, perubahan kebiasaan makan, serta kemampuan mengambil keputusan yang lebih baik terkait kesehatan.
Pada akhirnya, pendidikan dipandang tidak hanya memindahkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan seseorang merawat dan mengelola kehidupannya. Dalam kerangka itu, kesehatan dan pendidikan dinilai perlu berjalan beriringan. MBG dapat memberi manfaat langsung melalui asupan gizi, sementara literasi gizi memberi pengetahuan agar anak mampu menjaga tubuhnya. Keberhasilan program disebut tidak hanya ketika makanan sampai ke meja siswa, tetapi ketika makanan menjadi pintu masuk lahirnya kebiasaan hidup sehat dan kesadaran gizi dalam jangka panjang.