- Pekerja Digital yang Rentan, Digitally Vulnerable Class (DVC)
Oleh Denny JA
Suatu malam, seorang pengemudi ojek online berhenti di pinggir jalan. Ia baru saja menerima pemberitahuan dari aplikasi yang selama ini menjadi sumber nafkah keluarganya.
Tidak ada kecelakaan. Tidak ada pelanggaran berat. Tidak ada surat pemecatan.
Hanya sebuah notifikasi singkat: akunnya dinonaktifkan sementara karena sistem mendeteksi aktivitas yang dianggap tidak sesuai.
Dalam hitungan detik, penghasilannya hilang. Istrinya sedang menunggu uang belanja. Anak pertamanya menunggu biaya sekolah.
Ia tidak tahu kepada siapa harus mengadu.
Yang memutuskan nasibnya bukan manusia, melainkan sebuah algoritma yang tak pernah bisa ia temui.
-000-
Dunia sedang memasuki tahap baru perkembangan kapitalisme. Saya menyebutnya kapitalisme algoritma.
Kapitalisme ini berbeda dari kapitalisme industri abad ke-19 dan berbeda pula dari kapitalisme finansial yang mendominasi akhir abad ke-20.
Perbedaan pertama adalah pusat kekuasaan ekonomi kini berada pada algoritma.
Dalam kapitalisme industri, mesin produksi menjadi sumber utama keuntungan. Dalam kapitalisme finansial, modal dan jaringan keuangan menjadi sumber dominasi. Dalam kapitalisme algoritma, data dan algoritma menjadi alat produksi yang paling menentukan.
Platform digital mengetahui lokasi pekerja, kebiasaan konsumen, pola belanja, hingga tingkat produktivitas individu secara real time. Keputusan yang dahulu dibuat manajer kini semakin banyak dibuat sistem otomatis.
Kekuasaan ekonomi perlahan bergeser dari pemilik pabrik menuju pemilik data dan pengendali algoritma.
Perbedaan kedua adalah hubungan kerja menjadi semakin tidak terlihat.
Pada masa kapitalisme industri, pekerja mengetahui siapa majikannya dan di mana pabriknya berada. Kini jutaan pengemudi, kurir, pekerja lepas digital, kreator konten, dan penjual daring bekerja melalui platform yang bahkan tidak pernah mereka datangi secara fisik.
Mereka bekerja berdasarkan aturan yang dapat berubah sewaktu-waktu melalui pembaruan aplikasi. Pengawasan tidak lagi dilakukan mandor. Pengawasan dilakukan algoritma yang mengukur rating, produktivitas, respons, dan kepatuhan secara otomatis.
Perbedaan ketiga adalah sumber eksploitasi.
Kapitalisme industri memperoleh keuntungan dari jam kerja manusia. Kapitalisme algoritma memperoleh keuntungan dari data, perhatian, emosi, dan perilaku manusia.
Setiap klik, pencarian, unggahan, perjalanan, percakapan, dan transaksi menjadi sumber nilai ekonomi. Konsumen sekaligus pekerja berubah menjadi produsen data.
Di sinilah muncul bentuk baru akumulasi kapital yang belum pernah dikenal dalam sejarah sebelumnya.
-000-
Untuk memahami perubahan ini, kita perlu kembali kepada akar konsep kapitalisme.
Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang bertumpu pada kepemilikan pribadi atas alat produksi, mekanisme pasar, dan pencarian keuntungan.
Sejarahnya bergerak melalui beberapa tahap. Kapitalisme dagang berkembang sejak abad ke-16 melalui perdagangan global. Kapitalisme industri lahir bersama Revolusi Industri.
Kapitalisme korporasi ditandai perusahaan raksasa multinasional. Kapitalisme finansial menjadikan sektor keuangan sebagai pusat akumulasi modal.
Kini kita memasuki tahap berikutnya: kapitalisme algoritma.
Dalam tradisi Karl Marx, kelas sosial ditentukan oleh hubungan seseorang dengan alat produksi. Kaum borjuis memiliki alat produksi. Kaum proletariat hanya memiliki tenaga kerja yang dijual untuk bertahan hidup.
Pada awal abad ke-21, Guy Standing memperkenalkan konsep precariat. Mereka adalah kelompok pekerja yang hidup dalam ketidakpastian pekerjaan, pendapatan, dan perlindungan sosial.
Namun ekonomi digital menghadirkan fenomena yang berbeda.
Menurut berbagai estimasi, jumlah pekerja platform digital di Indonesia telah berkembang menjadi jutaan orang. Mereka tidak hanya menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Mereka juga menghadapi ketergantungan langsung pada platform dan algoritma yang mengatur akses mereka terhadap pekerjaan.
Dari sinilah muncul pertanyaan akademik yang penting:
Apakah kita sedang menyaksikan cikal bakal lahirnya kelas sosial baru?
Untuk pertama kalinya dalam sejarah kapitalisme, mesin tidak hanya membantu proses produksi. Mesin ikut menentukan peluang kerja, reputasi, penghasilan, harapan, bahkan harga diri manusia.
-000-
Dua buku membantu menjelaskan perubahan ini.
Pertama, The Age of Surveillance Capitalism karya Shoshana Zuboff (2019).
Zuboff menunjukkan bahwa perusahaan digital tidak lagi sekadar menjual produk atau layanan. Mereka mengumpulkan data perilaku manusia dalam skala masif, lalu mengubahnya menjadi komoditas ekonomi.
Kekuasaan terbesar abad ke-21 bukan hanya kepemilikan modal, melainkan kemampuan memprediksi dan memengaruhi perilaku manusia melalui data.
Kedua, The Precariat: The New Dangerous Class karya Guy Standing (2011).
Standing menggambarkan kelompok pekerja yang hidup tanpa kepastian pekerjaan, identitas profesional, dan perlindungan sosial yang memadai.
Namun perkembangan ekonomi digital memperlihatkan bentuk kerentanan tambahan yang belum menjadi fokus utama Standing: ketergantungan terhadap algoritma yang menentukan akses terhadap pekerjaan dan penghasilan.
Di luar Zuboff dan Standing, gagasan ini juga beresonansi dengan perdebatan tentang platform capitalism yang dikembangkan Nick Srnicek, perbudakan data digital yang diulas Antonio Casilli, serta diskursus kerja digital Tiziana Terranova di era ekonomi informasi.
-000-
Di berbagai kota di Indonesia, kita menyaksikan benturan sunyi antara fleksibilitas yang dijanjikan platform dan realitas kerja tanpa perlindungan.
Narasi kebebasan jam kerja sering menutupi jam kerja yang justru semakin panjang.
Karena itu saya mengusulkan istilah Digitally Vulnerable Class atau DVC, yang dalam bahasa Indonesia dapat disebut Pekerja Digital yang Rentan.
DVC adalah kelompok pekerja yang menggantungkan akses kerja dan pendapatan pada platform digital, tanpa kendali atas algoritma, data, dan aturan yang mengatur mereka, sehingga rentan terhadap perubahan teknis maupun kebijakan sepihak.
Data Kementerian Ketenagakerjaan yang dikutip berbagai media menunjukkan jumlah pekerja ekonomi gig di Indonesia mencapai sekitar 4 juta orang pada 2023.
Sementara laporan Antara dan berbagai kajian kebijakan memperkirakan total pekerja berbasis platform dan kerja lepas digital, termasuk pengemudi transportasi online, kurir, serta freelancer digital, telah menembus puluhan juta orang dalam satu dekade terakhir.
Ini menguatkan bahwa ledakan pekerja platform di sektor transportasi, pengantaran makanan, dan jasa digital bukan lagi gejala pinggiran, melainkan arus utama struktur ketenagakerjaan Indonesia abad ke-21.
Tidak semua pekerja digital otomatis termasuk DVC. Seorang programmer dengan kontrak tetap, perlindungan sosial memadai, dan posisi tawar tinggi terhadap perusahaan berada dalam konstelasi berbeda dibanding pengemudi, kurir, atau kreator konten yang akses kerja dan pendapatannya sepenuhnya dimediasi algoritma.
Saya belum mengklaim bahwa DVC telah menjadi kelas sosial baru yang mapan. Namun bukti-bukti menunjukkan bahwa ia merupakan cikal bakal lahirnya kelas baru.
Alasan pertama adalah kerentanan algoritmik. Proletariat bergantung pada pemilik pabrik. Precariat bergantung pada pasar kerja yang tidak stabil.
DVC bergantung pada algoritma, pada platform, pada aplikasi. Inilah pembeda yang paling mendasar.
Bila pasar menentukan nasib precariat, algoritma menentukan nasib DVC.
Pendapatan, peluang kerja, visibilitas, reputasi, bahkan keberlangsungan pekerjaan dapat berubah karena keputusan sistem digital yang tidak transparan.
Mereka sering tidak mengetahui mengapa pendapatan turun, mengapa akun dibatasi, atau mengapa peluang kerja menghilang.
Alasan kedua adalah identitas kolektif digital.
DVC tidak bekerja di ruang fisik yang sama. Mereka tersebar di ribuan lokasi berbeda. Namun mereka membentuk solidaritas melalui grup aplikasi, media sosial, dan komunitas daring.
Mereka mungkin tidak pernah bertemu, tetapi menghadapi persoalan yang sama: perubahan algoritma, ketidakpastian pendapatan, dan ketergantungan pada platform.
Kesamaan pengalaman itu berpotensi melahirkan identitas kelas baru.
Alasan ketiga adalah kerawanan harapan. Inilah aspek yang paling khas.
Banyak anggota DVC tidak merasa miskin secara permanen. Mereka hidup dengan harapan bahwa satu unggahan akan viral, satu rating akan meningkat, satu promosi platform akan datang, atau satu perubahan algoritma akan mengubah hidup mereka.
Harapan menjadi sumber energi sekaligus sumber kerentanan.
Ketika harapan terus diproduksi tetapi peluang nyata tetap terbatas, lahirlah ketegangan sosial yang berbeda dari proletariat maupun precariat.
Mereka bukan hanya rentan secara ekonomi. Mereka rentan secara psikologis.
-000-
Saya menulis gagasan ini bukan hanya sebagai pengamat sosial.
Selama lebih dari tiga dekade meneliti opini publik Indonesia, saya menyaksikan berbagai perubahan pusat kekuasaan.
Ketika saya masih mahasiswa, pusat kekuasaan relatif mudah dikenali. Kita tahu siapa pemilik perusahaan. Kita tahu siapa pemimpin organisasi. Kita tahu di mana keputusan dibuat.
Kini saya melihat generasi muda yang hidup dalam dunia yang berbeda.
Banyak di antara mereka bekerja keras sepanjang hari tanpa pernah bertemu atasan mereka.
Mereka bekerja untuk aplikasi. Mereka menunggu notifikasi.
Mereka mengejar rating.
Mereka menyesuaikan hidup dengan perubahan algoritma yang tidak pernah mereka ikut merancang.
Saya juga melihat perubahan cara manusia membentuk kesadaran sosial.
Dahulu massa berkumpul di lapangan. Kini mereka berkumpul di layar. Dahulu organisasi membentuk solidaritas. Kini solidaritas lahir dari grup digital.
Karena itulah saya merasa perlu mengajukan pertanyaan akademik ini.
Jangan-jangan kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perubahan teknologi.
Jangan-jangan kita sedang menyaksikan kelahiran perlahan sebuah kelas sosial baru yang akan memberi warna pada abad ke-21.
-000-
Kapitalisme algoritma telah mengubah sumber kekuasaan ekonomi, cara kerja manusia, dan bentuk kerentanan sosial.
Proletariat lahir dari revolusi industri. Precariat lahir dari fleksibilitas pasar kerja global.
Kini DVC lahir dari ketergantungan manusia pada platform dan algoritma.
Apakah DVC akan diakui sebagai kelas sosial baru oleh dunia akademik masih memerlukan riset, debat, dan pengujian empiris yang panjang.
Namun tanda-tandanya semakin jelas. Ketergantungan pada algoritma, identitas kolektif digital, dan kerawanan harapan membedakan mereka dari kelas-kelas yang telah dikenal sebelumnya.
Pertarungan terbesar abad ke-21 adalah perjuangan manusia untuk tetap menjadi tuan atas teknologi yang diciptakannya sendiri.
Perubahan terbesar dibanding versi sebelumnya ada pada satu titik: DVC kini dibedakan secara sangat tegas dari Precariat melalui konsep “ketergantungan pada algoritma”, bukan sekadar ketidakpastian kerja.
Itu adalah fondasi teoritis yang paling berpotensi membuat konsep DVC bertahan dalam perdebatan akademik jangka panjang.
-000-
Barangkali suatu hari para sejarawan akan menulis bahwa abad ke-19 melahirkan proletariat, abad ke-20 melahirkan precariat, dan abad ke-21 melahirkan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang algoritma.
Abad ke-19 memperjuangkan hak atas tenaga kerja. Abad ke-20 memperjuangkan hak atas kesejahteraan.
Abad ke-21 mungkin akan memperjuangkan hak yang lebih mendasar: hak manusia untuk tetap menjadi tuan atas teknologi yang diciptakannya sendiri.
Sebab ketika nasib manusia mulai ditentukan oleh algoritma, pertarungan terbesar zaman ini bukan lagi antara buruh dan pemilik modal, melainkan antara manusia dan sistem yang ia ciptakan sendiri.***
Jakarta, 14 Juni 2026
REFERENSI
1. The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. Shoshana Zuboff. PublicAffairs. 2019.
2. The Precariat: The New Dangerous Class. Guy Standing. Bloomsbury Academic. 2011.
3. Free Labor: Producing Culture for the Digital Economy. Free Labor: Producing Culture for the Digital Economy. Tiziana Terranova. Social Text, Vol. 18, No. 2 (63). Duke University Press. 2000.
Rubrik Khusus
DATANGNYA KAPITALISME ALGORITMA DAN CIKAL BAKAL LAHIRNYA KELAS BARU
14 Jun 2026
-
Sumber Foto: DennyJAWorld

