Bandarlampung—Menjaga pola makan bergizi seimbang sejak usia produktif dinilai menjadi investasi penting untuk mempertahankan kesehatan hingga usia lanjut. Dosen Program Studi Gizi Klinis, Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Negeri Lampung, Devi Elvina Rachma, S.Gz., M.Gz., mengingatkan masyarakat agar tidak sekadar mengejar rasa kenyang, tetapi juga memperhatikan kecukupan zat gizi dalam konsumsi harian.
Devi menekankan bahwa tubuh yang digunakan untuk bekerja dan beraktivitas setiap hari merupakan aset yang perlu dijaga. Menurutnya, kebiasaan makan yang tidak seimbang pada usia produktif dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan di kemudian hari.
Ia menjelaskan, persoalan gizi tidak selalu terlihat dari bentuk tubuh. Seseorang yang bertubuh gemuk atau terlihat berisi belum tentu kebutuhan gizinya terpenuhi. Kondisi tersebut, kata Devi, bisa terjadi ketika seseorang mengalami kelebihan energi namun kekurangan mikronutrien seperti vitamin dan mineral.
Kondisi ini dikenal sebagai double burden of malnutrition, yakni peningkatan berat badan atau obesitas yang terjadi bersamaan dengan kekurangan zat gizi mikro. Pada usia produktif, kondisi tersebut dapat ditandai dengan mudah lelah, mengantuk, sulit berkonsentrasi, hingga menurunnya daya tahan tubuh.
Dalam jangka panjang, pola makan yang tidak seimbang juga berisiko meningkatkan penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Karena itu, Devi menilai kebiasaan makan sehat perlu dibangun sejak usia produktif, bukan menunggu munculnya penyakit.
Devi mengajak masyarakat menjadikan makanan sebagai bagian dari investasi kesehatan. Dengan memperhatikan keseimbangan makanan, meningkatkan konsumsi sayur dan buah, serta membatasi gula, garam, dan lemak, masyarakat dapat membantu menjaga kondisi tubuh sekaligus mempersiapkan kualitas kesehatan di masa mendatang.