BERITA TERKINI
Peneliti ITEBA Kaji Model Ketahanan Pangan Berbasis Kuliner Melayu di Pesisir Kepri

Peneliti ITEBA Kaji Model Ketahanan Pangan Berbasis Kuliner Melayu di Pesisir Kepri

Tim peneliti mengembangkan model ketahanan dan kemandirian pangan berbasis identitas kuliner Melayu pada komunitas pesisir di Provinsi Kepulauan Riau. Riset ini mengangkat pendekatan budaya, ekonomi, dan identitas kuliner lokal sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Penelitian berjudul “Model Ketahanan dan Kemandirian Pangan Berbasis Identitas Kuliner Melayu Pada Komunitas Pesisir Provinsi Kepulauan Riau (Studi Kasus: Tanjungpinang, Bintan, Karimun)” didanai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Program Penelitian Fundamental Reguler (PFR) BIMA Tahun 2026. Pelaksanaan kegiatan mengacu pada Nomor Kontrak Induk 296/C3/DT.05.00/PL-Baru/2026 dan Nomor Kontrak Turunan 105/LL17/BOPTN PL BARU/2026.

Tim penelitian diketuai Wahyudi Ilham, S.I.Kom., M.M.Par., dengan anggota Dr. Syafruddin Rais, M.Par., Moh. Thandzir, S.E., M.M., Roni Adi, S.E., M.M., serta Ir. Aulia Agung Dermawan, S.T., M.T., IPM.

Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun dipilih sebagai lokasi studi karena memiliki karakteristik masyarakat pesisir dengan kekayaan budaya kuliner Melayu yang erat dengan pemanfaatan sumber daya lokal. Hasil laut dan berbagai bahan pangan tradisional disebut menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, sekaligus memiliki potensi dikembangkan sebagai basis sistem pangan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Melalui riset ini, tim akan mengidentifikasi pola konsumsi pangan masyarakat pesisir, pemanfaatan bahan pangan lokal, praktik pengolahan kuliner Melayu, hingga faktor sosial ekonomi yang memengaruhi keberlanjutan pangan. Kajian tersebut diharapkan dapat memetakan hubungan antara kekayaan kuliner lokal dengan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan.

Wahyudi Ilham menyampaikan bahwa kuliner Melayu tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga berpotensi menjadi instrumen penguatan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah. “Melalui penelitian ini, kami ingin menghasilkan model yang mampu menghubungkan potensi pangan lokal, kearifan budaya Melayu, serta pemberdayaan komunitas pesisir agar memiliki sistem pangan yang lebih kuat dan mandiri,” ujarnya.

Model yang dihasilkan nantinya diharapkan menjadi dasar pengembangan strategi ketahanan pangan berbasis budaya lokal di wilayah pesisir. Selain kontribusi akademik, penelitian ini juga dinilai berpotensi memberikan manfaat praktis bagi masyarakat, pemerintah daerah, serta pelaku usaha kuliner lokal dalam mengembangkan produk pangan dan kuliner yang memanfaatkan sumber daya daerah sekaligus mempertahankan identitas budaya Melayu.

Dukungan Program PFR BIMA Tahun 2026 menempatkan penelitian ini sebagai bagian dari penguatan riset yang berorientasi pada potensi daerah dan kebutuhan masyarakat. Pengembangan pangan berbasis identitas kuliner Melayu diharapkan dapat memperkuat kemandirian pangan komunitas pesisir, sekaligus mendorong pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi, dan pemanfaatan sumber daya lokal yang lebih berkelanjutan di Kepulauan Riau.