BERITA TERKINI
Parende dan Kasuami: Ketika Makan Bersama Menjadi Bahasa Persatuan dari Sulawesi Tenggara

Parende dan Kasuami: Ketika Makan Bersama Menjadi Bahasa Persatuan dari Sulawesi Tenggara

Ada kalanya sebuah tren bukan lahir dari kontroversi, melainkan dari meja makan.

Di Google Trend, perhatian publik mengarah pada momen makan bersama parende dan kasuami di Sulawesi Tenggara.

Cuplikan beritanya sederhana.

Setelah parende dan kasuami matang, selebriti bersama warga menghidangkan dua kuliner khas itu untuk dinikmati bersama.

Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya terasa penting.

Di tengah arus kabar yang sering bising, peristiwa kecil yang hangat dapat menjadi penanda rindu kolektif.

Rindu untuk kembali saling menatap, bukan sekadar saling menilai.

Rindu pada Indonesia yang duduk berdekatan, meski berbeda latar, dan tetap merasa aman.

Di titik itu, parende dan kasuami bukan sekadar menu.

Ia berubah menjadi narasi tentang kebersamaan, identitas, dan cara kita memaknai rumah.

-000-

Mengapa Momen Ini Menjadi Tren

Tren ini menguat karena momen makan bersama adalah bahasa yang dipahami semua orang.

Ketika selebriti dan warga berada di meja yang sama, jarak sosial terasa menipis.

Publik melihat sesuatu yang jarang: kebersamaan tanpa panggung yang terlalu tinggi.

Alasan pertama, ada daya tarik pada pertemuan antara figur publik dan kehidupan sehari-hari.

Selebriti sering dilihat sebagai simbol, bukan tetangga.

Ketika mereka ikut menghidangkan makanan, simbol itu menjadi manusia biasa.

Alasan kedua, kuliner daerah sedang naik kelas sebagai identitas yang dibanggakan.

Parende dan kasuami membawa aroma lokal yang khas.

Di era serba seragam, kekhasan terasa seperti harta.

Alasan ketiga, masyarakat sedang jenuh pada perdebatan yang memecah.

Konten yang menenangkan, apalagi tentang makan bersama, menjadi semacam jeda psikologis.

Jeda itu dicari, karena memberi rasa pulih.

-000-

Dari Dapur ke Ruang Publik

Berita ini menunjukkan bagaimana dapur dapat menjadi ruang publik.

Bukan ruang publik yang penuh mikrofon, melainkan ruang publik yang penuh piring.

Di sana, orang berbagi tanpa harus berdebat.

Makan bersama adalah bentuk komunikasi yang tidak selalu butuh kata-kata.

Orang bisa berbeda pilihan, berbeda asal, berbeda logat.

Tetapi saat tangan sama-sama meraih hidangan, ada pengakuan diam-diam bahwa kita setara.

Parende dan kasuami hadir sebagai medium.

Medium yang menyatukan rasa, memori, dan rasa ingin tahu.

Rasa ingin tahu itu penting.

Ia adalah awal dari penghormatan, dan penghormatan adalah awal dari persatuan.

-000-

Parende dan Kasuami sebagai Simbol Identitas

Dalam berita, parende dan kasuami disebut matang, lalu dihidangkan untuk dinikmati bersama.

Kalimat itu terdengar teknis, tetapi menyimpan makna sosial.

Matang berarti siap dibagikan.

Dan dibagikan berarti identitas tidak disimpan sendiri.

Di banyak daerah Indonesia, makanan bukan hanya soal kenyang.

Makanan adalah cara keluarga menandai perayaan, duka, dan kedatangan tamu.

Ketika kuliner khas tampil di ruang media, ia membawa serta cerita daerahnya.

Ia mengundang orang luar untuk mengenal, tanpa merasa dihakimi.

Di situlah kekuatan budaya bekerja pelan-pelan.

Bukan dengan slogan keras, melainkan dengan pengalaman yang bisa dirasakan lidah.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Persatuan, Ekonomi Lokal, dan Kepercayaan Sosial

Isu ini tampak ringan, tetapi terkait dengan persoalan besar yang penting bagi Indonesia.

Pertama, ia menyentuh soal persatuan dalam keragaman.

Indonesia sering diuji oleh perbedaan yang dibaca sebagai ancaman.

Makan bersama mengingatkan bahwa perbedaan juga bisa dibaca sebagai undangan saling mengenal.

Kedua, ia bersinggungan dengan ekonomi lokal dan kebanggaan daerah.

Ketika kuliner khas dibicarakan, perhatian dapat mengalir ke bahan pangan, pelaku usaha, dan rantai nilai setempat.

Namun perhatian saja tidak cukup.

Ia perlu diterjemahkan menjadi dukungan yang adil bagi produsen kecil, bukan hanya sorotan sesaat.

Ketiga, ia berkaitan dengan kepercayaan sosial.

Kepercayaan sosial tumbuh dari pengalaman aman bersama orang lain.

Ritual makan bersama adalah latihan sederhana membangun rasa aman itu.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Makan Bersama Menguatkan Ikatan

Berbagai kajian sosial dan psikologi menempatkan makan bersama sebagai aktivitas yang memperkuat relasi.

Dalam sosiologi, ritual keseharian sering dipahami sebagai perekat komunitas.

Ritual tidak harus megah.

Ia justru efektif karena berulang, mudah dilakukan, dan melibatkan tubuh serta emosi.

Dalam psikologi sosial, kebersamaan yang melibatkan aktivitas sinkron sering meningkatkan rasa kedekatan.

Makan bersama memiliki unsur sinkron itu.

Orang duduk, berbagi waktu, dan memperhatikan kebutuhan satu sama lain.

Dalam kajian budaya, kuliner juga dipandang sebagai memori kolektif.

Rasa tertentu dapat memanggil ingatan tertentu.

Ketika ingatan itu dibagikan, komunitas merasa punya cerita yang sama.

Di konteks Indonesia, hal ini penting.

Negara kepulauan membutuhkan jembatan yang bisa dilalui semua orang.

Bahasa bisa berbeda, tetapi rasa sering lebih cepat menyapa.

-000-

Jejak Serupa di Luar Negeri

Di banyak negara, momen makan bersama juga kerap menjadi simbol rekonsiliasi dan kebersamaan.

Di Amerika Serikat, tradisi Thanksgiving sering dipahami sebagai momen keluarga dan komunitas berkumpul.

Maknanya tidak tunggal, dan kerap diperdebatkan.

Namun satu hal konsisten: meja makan menjadi ruang untuk memperbaiki hubungan yang retak.

Di Inggris, inisiatif komunitas seperti jamuan lingkungan sering dipakai untuk merajut relasi antarwarga.

Warga membawa masakan masing-masing, lalu berbagi.

Di banyak kota besar dunia, festival makanan menjadi cara mempertemukan diaspora dan warga lokal.

Orang belajar bahwa identitas tidak harus saling menghapus.

Identitas bisa saling melengkapi.

Rujukan ini bukan untuk menyamakan konteks.

Melainkan untuk menunjukkan bahwa Indonesia tidak sendirian dalam menemukan makna politik dari hal yang tampak domestik.

-000-

Peran Media dan Selebriti: Antara Sorotan dan Tanggung Jawab

Dalam berita, kehadiran selebriti menjadi bagian penting dari daya tarik.

Itu wajar, karena selebriti membawa perhatian.

Namun perhatian adalah energi yang bisa membangun, atau menguapkan makna.

Jika momen makan bersama hanya dijadikan tontonan, ia cepat habis.

Jika ia dijadikan pintu masuk untuk mengenal Sulawesi Tenggara, ia bisa bertahan lebih lama.

Media memiliki peran menentukan.

Media dapat mengangkat cerita warga, proses memasak, serta nilai kebersamaan yang tidak selalu terlihat kamera.

Selebriti pun punya pilihan.

Mereka bisa hadir sebagai pusat, atau sebagai jembatan yang mengarahkan sorotan pada komunitas.

Dalam momen seperti ini, jembatan lebih dibutuhkan daripada pusat.

-000-

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari Tren Ini

Tren parende dan kasuami mengajarkan bahwa kebudayaan tidak selalu bergerak lewat kebijakan besar.

Kebudayaan sering bergerak lewat gestur kecil.

Menghidangkan makanan untuk orang lain adalah gestur kecil yang memerlukan niat baik.

Niat baik itu terasa langka, padahal ia fondasi hidup bersama.

Kita juga belajar bahwa daerah tidak ingin hanya dikenal lewat statistik dan peta.

Daerah ingin dikenal lewat pengalaman.

Pengalaman itu bisa dimulai dari makanan, lalu berlanjut pada cerita, musik, bahasa, dan kerja warga.

Di sisi lain, ada risiko yang perlu diwaspadai.

Ketika budaya menjadi tren, ia bisa disederhanakan menjadi dekorasi.

Padahal budaya adalah kehidupan, bukan sekadar latar.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik dapat menanggapi tren ini dengan rasa ingin tahu yang hormat.

Bukan sekadar mengejar viral, tetapi belajar asal-usul dan makna kebersamaan di baliknya.

Kedua, media sebaiknya memperluas sudut pandang.

Tampilkan suara warga, bukan hanya momen selebriti.

Dengan begitu, cerita tidak berhenti pada sensasi, tetapi menjadi pengetahuan.

Ketiga, pemerintah daerah dan pelaku komunitas dapat menjaga agar promosi budaya tetap berpihak pada pelaku lokal.

Pastikan ruang dan manfaat tidak hanya dinikmati pihak besar.

Keempat, sekolah dan keluarga bisa menjadikan makan bersama sebagai pendidikan karakter paling sederhana.

Belajar mendengar, menunggu, berbagi, dan menghormati.

Nilai-nilai itu tidak selalu efektif diajarkan lewat ceramah.

Sering kali ia lebih efektif diajarkan lewat kebiasaan.

Kelima, para figur publik yang terlibat dapat menjaga keaslian momen.

Kurangi dramatisasi.

Perbanyak kehadiran yang tulus, karena ketulusan adalah hal yang paling mudah dikenali penonton.

-000-

Penutup: Meja Makan sebagai Masa Depan yang Lebih Tenang

Berita tentang parende dan kasuami mungkin tidak mengubah dunia dalam semalam.

Namun ia mengingatkan bahwa Indonesia bisa menyembuhkan dirinya lewat hal-hal yang manusiawi.

Di Sulawesi Tenggara, parende dan kasuami yang matang lalu dihidangkan bersama menjadi simbol.

Simbol bahwa kebersamaan dapat dirawat tanpa harus menunggu keadaan sempurna.

Kita boleh berbeda dalam banyak hal.

Tetapi ketika kita bersedia duduk dan berbagi, perbedaan tidak lagi terasa sebagai jurang.

Ia menjadi jarak yang bisa dijembatani.

Dan barangkali, dari piring yang berpindah tangan, kita belajar memindahkan juga prasangka.

Menyisakan ruang bagi pengertian.

Seperti kutipan yang sering diulang dalam berbagai bentuk, maknanya tetap sama.

“Kita tidak akan kehabisan kebaikan, selama kita masih mau membaginya.”