JAKARTA — Dunia perawatan kulit kian dipenuhi istilah dan inovasi baru. Sejumlah tren kecantikan bahkan terdengar seperti fiksi ilmiah, mulai dari “sel zombi” hingga “facial vampir”. Di tengah ramainya pembahasan tersebut, satu istilah yang belakangan mencuri perhatian di media sosial dan klinik dermatologi adalah exosome.
Popularitasnya yang menanjak memunculkan pertanyaan: apakah exosome merupakan terobosan yang perlu segera masuk ke rutinitas perawatan harian, atau sekadar tren yang bisa dilewatkan?
Profesor Klinis Madya Dermatologi di Yale School of Medicine, Mona Gohara, menjelaskan exosome dapat dibayangkan sebagai paket kecil yang secara alami dikirimkan antar sel. “Mereka mengantarkan ‘pesan’ biologis yang terdiri dari protein, lipid, dan materi genetik yang memberi tahu sel-sel di sekitarnya apa yang harus dilakukan,” kata Gohara, dikutip dari Real Simple, Minggu (26/7/2026).
Dalam konteks kecantikan, pesan biologis tersebut diarahkan untuk mendorong kulit memperbaiki diri, meredakan peradangan, serta memicu produksi kolagen. Berbeda dengan bahan perawatan tradisional yang umumnya bekerja di permukaan kulit atau menstimulasi secara langsung, exosome disebut dirancang untuk menunjang sistem komunikasi alami pada kulit.
Gohara menilai exosome kini memimpin gelombang perawatan kulit regeneratif, yakni kategori yang menekankan kerja selaras dengan biologi alami tubuh. Pendekatan ini tidak semata berfokus pada penambahan lapisan bahan aktif ke kulit, melainkan bagaimana membantu kulit melakukan fungsi alaminya dengan lebih baik.
“Kita telah menghabiskan bertahun-tahun membicarakan bahan-bahan yang secara langsung merangsang kulit, seperti retinoid atau vitamin C,” ujar Gohara. “Exosome telah menghasilkan begitu banyak kegembiraan karena mereka berakar pada biologi kita sendiri. Daripada sekadar mengoleskan bahan lain, idenya adalah untuk mendukung perbaikan alami kulit dan sistem komunikasinya,” lanjutnya.
Secara sederhana, perawatan kulit konvensional dianalogikan seperti melengkapi kotak perkakas dengan alat yang lebih canggih. Sementara itu, exosome digambarkan bekerja dengan cara memperbaiki komunikasi antar “pekerja” yang menggunakan alat-alat tersebut.

