BERITA TERKINI
Mengenal Dighosting: Arti, Ciri-ciri, Penyebab, dan Dampak Psikologisnya

Mengenal Dighosting: Arti, Ciri-ciri, Penyebab, dan Dampak Psikologisnya

Dighosting menjadi fenomena sosial yang kian sering terjadi dalam berbagai jenis hubungan, mulai dari asmara dan pertemanan hingga konteks profesional. Istilah ini merujuk pada tindakan seseorang yang tiba-tiba menghentikan komunikasi tanpa penjelasan, meski sebelumnya memiliki kedekatan. Bagi pihak yang ditinggalkan, situasi ini kerap memicu kebingungan, sakit hati, dan perasaan tidak dihargai.

Di tengah kehidupan modern yang serba terhubung, dighosting kerap dianggap sebagai bentuk penolakan yang sulit diterima karena tidak adanya kejelasan. Korban dighosting sering kali harus menebak-nebak alasan di balik hilangnya komunikasi, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan psikologis.

Arti dighosting

Secara harfiah, dighosting berasal dari kata “ghost” yang berarti hantu. Istilah ini menggambarkan seseorang yang “menghilang seperti hantu” dari kehidupan orang lain—tanpa kabar dan tanpa jejak. Dalam praktiknya, dighosting merupakan cara mengakhiri hubungan atau interaksi sosial secara pasif-agresif, karena pelaku memilih menghindari konfrontasi atau penjelasan langsung.

Dighosting dapat muncul dalam berbagai skenario. Contohnya, seseorang yang sedang dalam masa pendekatan tiba-tiba berhenti membalas pesan, atau pihak HRD tidak memberikan kabar lanjutan setelah proses wawancara kerja yang sebelumnya terlihat menjanjikan. Ciri utamanya adalah putusnya komunikasi secara mendadak tanpa alasan yang jelas.

Ciri-ciri seseorang mengalami dighosting

Pada tahap awal, dighosting tidak selalu mudah dikenali karena perubahan komunikasi bisa terjadi secara perlahan. Namun, beberapa tanda yang sering muncul antara lain:

Balasan pesan atau telepon makin lambat dan cenderung singkat atau sekadarnya.

Pelaku mulai menghindari ajakan bertemu atau sering membatalkan janji tanpa alasan kuat.

Percakapan yang sebelumnya hangat dan mendalam berubah menjadi dingin, singkat, atau terputus-putus.

Meski tidak merespons pesan atau telepon, pelaku tetap aktif di media sosial, misalnya dengan mengunggah cerita atau postingan baru.

Seiring waktu, tanda-tanda tersebut dapat memburuk hingga komunikasi terhenti sepenuhnya.

Mengapa seseorang melakukan dighosting?

Alasan di balik dighosting beragam, meski dampaknya pada korban tetap dapat menyakitkan. Beberapa penyebab yang umum disebut antara lain:

Ketidakmampuan berkonfrontasi, sehingga pelaku memilih jalan yang dianggap paling mudah untuk menghindari diskusi sulit.

Kurangnya keterampilan komunikasi dalam mengakhiri hubungan atau interaksi secara jujur dan baik-baik.

Perubahan perasaan atau prioritas, namun pelaku tidak berani menyampaikannya secara langsung.

Pola perilaku menghindar, yakni kecenderungan menghindari tanggung jawab emosional atau komitmen.

Pengaruh teknologi, yang memudahkan seseorang memutus kontak secara digital tanpa harus bertemu langsung.

Dampak psikologis dighosting

Dighosting dapat berdampak pada kesehatan mental korban. Sejumlah efek yang mungkin muncul meliputi:

Kebingungan dan ketidakpastian akibat tidak adanya penjelasan, yang dapat memicu pikiran berulang dan melelahkan.

Rasa sakit hati dan penolakan, karena dighosting kerap terasa seperti penolakan pribadi yang mendalam.

Penurunan harga diri, ketika korban mulai menyalahkan diri sendiri atau meragukan nilai dirinya.

Masalah kepercayaan dalam hubungan berikutnya, yang dapat memunculkan kecemasan dan keraguan.

Gejala depresi dan kecemasan, termasuk gangguan tidur pada kasus yang lebih berat.

Strategi menghadapi dighosting

Meski tidak mudah, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental saat mengalami dighosting:

Menerima realitas dan memahami bahwa perilaku tersebut lebih mencerminkan masalah pada pelaku daripada diri korban.

Menghindari menyalahkan diri sendiri, karena dighosting bukan semata kesalahan pihak yang ditinggalkan.

Fokus pada kesejahteraan diri dengan mengalihkan energi ke aktivitas yang mendukung kesehatan fisik dan mental, seperti hobi, olahraga, atau meditasi.

Mencari dukungan sosial dengan berbicara kepada teman, keluarga, atau orang tepercaya untuk mendapatkan dukungan emosional dan sudut pandang lain.

Membatasi kontak, termasuk memblokir pelaku jika memungkinkan, guna menghindari kebiasaan mengecek dan harapan palsu yang menghambat pemulihan.

Kapan perlu mencari bantuan profesional?

Apabila dampak dighosting terasa sangat berat hingga mengganggu kehidupan sehari-hari—misalnya memicu depresi berkepanjangan, kecemasan ekstrem, atau kesulitan membangun hubungan baru—bantuan profesional dapat dipertimbangkan. Psikolog atau konselor dapat membantu memproses emosi, membangun kembali harga diri, serta mengembangkan strategi koping yang lebih sehat.

Dalam rujukan yang disebutkan, konsultasi juga dapat dilakukan melalui platform Halodoc untuk terhubung dengan psikolog atau psikiater berlisensi. Mencari bantuan dinilai penting ketika kesulitan yang dialami sudah terasa signifikan, mengingat kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.