Nama Desa Tenganan Pegringsingan mendadak ramai dicari.
Bukan karena konflik, melainkan karena satu hal yang terasa akrab bagi banyak orang Indonesia: makanan.
Berita tentang “menikmati lezatnya kuliner khas Bali” dari desa itu, ditambah sorotan selebriti, memicu percakapan luas.
Di ruang digital, rasa berubah menjadi kata kunci.
Dan kata kunci berubah menjadi tren.
-000-
Isu yang Membuatnya Menanjak di Google Trends
Isunya sederhana, tetapi resonansinya besar.
Kuliner khas Desa Tenganan Pegringsingan disebut “tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata”.
Sejumlah selebriti digambarkan senang menikmati cita rasa kuliner khas desa tersebut.
Di era ketika perhatian publik terpecah, narasi yang menekankan pengalaman langsung sering menang.
Orang ingin tahu: makanan apa, rasanya seperti apa, dan mengapa sampai disebut tak terkatakan.
-000-
Tiga Alasan Isu Ini Menjadi Tren
Pertama, efek selebriti.
Ketika figur publik menyatakan “senang” menikmati suatu kuliner, rasa ingin tahu publik naik, meski detailnya minim.
Nama desa yang sebelumnya terdengar jauh, tiba-tiba terasa dekat.
Kedua, kuliner adalah bahasa yang paling mudah menyatukan orang.
Agama, politik, bahkan selera musik bisa memecah.
Tetapi makanan sering menjadi titik temu, karena semua orang punya pengalaman makan.
Ketiga, Bali sebagai imajinasi kolektif Indonesia.
Bali bukan sekadar destinasi, melainkan simbol rekreasi, tradisi, dan “pulang” ke pengalaman indrawi.
Ketika Bali muncul, publik cepat merespons.
-000-
Dari Satu Sajian ke Percakapan Lebih Besar
Apa yang terlihat sebagai berita ringan sebenarnya membuka pintu ke pertanyaan yang lebih besar.
Bagaimana kuliner lokal bertahan ketika sorotan datang tiba-tiba.
Bagaimana desa menjaga martabat tradisi saat menjadi tujuan tontonan.
Dan bagaimana publik menghargai rasa tanpa mengubahnya menjadi sekadar komoditas.
Di sinilah isu kuliner menjadi isu kebudayaan.
-000-
Rasa yang Tidak Terucap dan Cara Media Membingkainya
Kalimat “tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata” adalah strategi naratif yang kuat.
Ia mengundang pembaca untuk membuktikan sendiri.
Ia juga menempatkan rasa sebagai sesuatu yang melampaui deskripsi.
Namun, framing seperti ini menyisakan ruang kosong.
Ruang kosong itu diisi publik dengan pencarian, komentar, dan spekulasi.
-000-
Kuliner sebagai Identitas, Bukan Sekadar Menu
Di banyak komunitas, makanan adalah arsip sosial.
Ia menyimpan jejak bahan lokal, musim, dan cara hidup.
Ia memuat aturan tak tertulis tentang siapa memasak untuk siapa.
Ia juga memuat etika, termasuk kapan sebuah sajian boleh dihidangkan.
Ketika kuliner desa disebut “khas”, yang dipertaruhkan adalah identitas.
-000-
Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Berkualitas
Indonesia sedang serius membicarakan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis pengalaman.
Kuliner adalah salah satu pintu masuk paling efektif.
Ia menggerakkan petani, nelayan, pedagang pasar, hingga dapur rumahan.
Ia juga bisa mendorong wisata yang lebih merata, tidak hanya terpusat di titik populer.
Namun, “ramai” tidak otomatis berarti “berkualitas”.
-000-
Risiko yang Mengintai Ketika Desa Mendadak Viral
Viralitas sering datang tanpa rencana.
Ia bisa meningkatkan kunjungan, tetapi juga menekan kapasitas desa.
Ia bisa menaikkan pendapatan, tetapi juga memicu komersialisasi berlebihan.
Dalam konteks kuliner, risiko paling halus adalah perubahan resep demi selera mayoritas.
Perubahan kecil bisa menghapus makna besar.
-000-
Riset yang Relevan: Makanan sebagai Warisan Budaya Takbenda
Di ranah kebijakan budaya, kuliner sering dibahas sebagai warisan budaya takbenda.
Pendekatan ini menekankan pengetahuan, praktik, dan tradisi yang diwariskan.
Intinya bukan hanya “produk akhir”, melainkan proses dan komunitasnya.
Kerangka seperti ini membantu publik melihat makanan sebagai budaya hidup.
Ia juga mengingatkan bahwa pelestarian butuh partisipasi, bukan sekadar konsumsi.
-000-
Riset yang Relevan: Pengaruh Figur Publik pada Perilaku Konsumen
Fenomena selebriti yang memicu tren selaras dengan riset pemasaran dan komunikasi.
Studi-studi tentang endorsement menunjukkan atensi publik dapat meningkat karena kredibilitas dan kedekatan emosional figur.
Di media sosial, efek itu berlipat karena ada dorongan meniru pengalaman.
Namun, efek yang sama dapat membuat isu menjadi dangkal jika tidak disertai konteks.
Di sinilah jurnalisme diuji.
-000-
Riset yang Relevan: Pariwisata Berbasis Komunitas
Dalam literatur pariwisata, pendekatan berbasis komunitas menempatkan warga sebagai pengendali utama.
Tujuannya menjaga manfaat ekonomi tetap tinggal di lokal.
Pendekatan ini juga menuntut batas, agar kunjungan tidak menggerus ruang hidup.
Ketika kuliner desa menjadi magnet, prinsip ini makin relevan.
Tren seharusnya memperkuat, bukan mengambil alih.
-000-
Pelajaran dari Luar Negeri: Ketika Kuliner Lokal Menjadi Fenomena Global
Di berbagai negara, kuliner lokal pernah melonjak karena sorotan media dan figur publik.
Di Jepang, beberapa kota kecil mengalami lonjakan wisata setelah makanan lokalnya viral di televisi.
Di Korea Selatan, rekomendasi selebriti dan acara kuliner kerap memicu antrean panjang di tempat makan.
Di Italia, sejumlah destinasi kuliner menghadapi debat antara autentisitas dan kebutuhan melayani wisatawan.
Polanya serupa: perhatian membawa peluang, tetapi juga tekanan pada tradisi.
-000-
Di Mana Posisi Publik Indonesia dalam Fenomena Ini
Publik Indonesia punya kebiasaan baru: menjadikan rekomendasi sebagai rute perjalanan.
Orang menabung untuk pengalaman, lalu mendokumentasikannya.
Dalam pola itu, desa dan komunitas bisa berubah menjadi latar.
Padahal, desa adalah subjek, bukan properti.
Tren kuliner semestinya mendorong penghormatan, bukan sekadar pembuktian.
-000-
Membaca Ulang Kalimat “Tidak Bisa Diungkapkan dengan Kata-kata”
Kalimat itu mengandung dua sisi.
Di satu sisi, ia merayakan pengalaman inderawi yang memang sulit dituliskan.
Di sisi lain, ia menantang jurnalisme untuk bekerja lebih keras.
Jika detail minim, publik akan mengisi dengan asumsi.
Asumsi sering melahirkan ekspektasi yang tidak adil bagi pelaku lokal.
-000-
Apa yang Bisa Dilakukan Media agar Tidak Mengerdilkan Tradisi
Media perlu memberi ruang pada cerita warga, bukan hanya reaksi selebriti.
Media juga perlu menjelaskan konteks desa dan praktik kuliner sebagai bagian dari kehidupan.
Jika ada klaim “khas”, jelaskan makna kekhasan itu melalui suara komunitas.
Dengan begitu, perhatian publik menjadi lebih beradab.
Dan desa tidak sekadar menjadi objek konsumsi.
-000-
Rekomendasi Sikap: Untuk Publik, Pelaku Usaha, dan Pemerintah Daerah
Bagi publik, datanglah dengan rasa hormat.
Berwisata kuliner bukan hanya mencari enak, tetapi juga belajar batas, antre, dan ruang privat warga.
Bagi pelaku usaha lokal, pertahankan inti tradisi.
Inovasi boleh ada, tetapi jangan sampai menenggelamkan identitas yang membuatnya dicari.
Bagi pemerintah daerah, siapkan tata kelola kunjungan.
Fokus pada kebersihan, kenyamanan, dan perlindungan pelaku lokal dari praktik yang merugikan.
-000-
Menjaga agar Tren Tidak Berumur Pendek
Tren digital bergerak cepat, lalu hilang.
Tetapi dampaknya bisa tinggal lama, baik sebagai manfaat maupun beban.
Jika desa hanya dikejar saat viral, ekonomi lokal menjadi rapuh.
Yang diperlukan adalah hubungan jangka panjang antara pengunjung dan komunitas.
Hubungan yang dibangun dengan pengetahuan, bukan sekadar rasa penasaran.
-000-
Penutup: Rasa sebagai Jalan Pulang
Berita tentang kuliner khas Desa Tenganan Pegringsingan menunjukkan satu hal.
Di tengah hiruk-pikuk, Indonesia masih mudah tersentuh oleh cerita tentang rasa.
Rasa membuat kita ingin mendekat, lalu mengenali siapa yang memasak, dan untuk siapa.
Jika tren ini ditanggapi dengan bijak, ia bisa menjadi pintu penghormatan pada tradisi.
Dan pada akhirnya, mungkin benar: ada hal yang tak selesai diucapkan, tetapi bisa dipahami saat kita belajar mendengar.
“Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur, kita meminjamnya dari anak cucu.”

